Fitri Apri, S.Pd
Bulan Ramadhan adalah bulan yang dipenuhi keberkahan dan keistimewaan, salah satunya adalah bulan diturukannya al-quran pada tanggal 17 Ramadhan. Peristiwa turunnya al-quran (Nuzulul Qur’an) selalu diperingati oleh umat Islam sebagai momen untuk memperkuat keimanan dan kecintan kepada kitab suci Al-Quran.
Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Selatan menggelar program "Indonesia Khataman Al-Qur'an" yang dipusatkan di Aula Kantor Wilayah Kemenag Sulsel Makassar (Metro TV News)..
Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafid, menyatakan, "Saat Nuzulul Quran ini kita membaca, menerjemahkan, sampai memahami Al-Qur'an. Itu kita bumikan dalam kehidupan kita sehari-hari apa yang kita dapatkan dari Al-Qur'an." Program ini diharapkan mampu menguatkan semangat keislaman dan kebangsaan serta mengajak umat Muslim untuk mencintai, memahami, dan meneladani Al-Qur'an
Di Kabupaten Bandung, Bupati Dadang Supriatna mengadakan Lomba Cerdas Cermat Pemahaman Al-Qur'an yang melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) seperti Pemuda Pancasila, GMBI, BBC, dan FKPPI. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun semangat kebersamaan, persatuan, dan persaudaraan di antara sesama ormas. Bupati Bandung yang akrab disapa Kang DS menyampaikan, "Kita ingin buktikan, bahwa mereka yang selama ini sering dicap sebagai preman dan tukang ribut, ternyata orang-orang baik yang sangat fasih menguasai isi kandungan Al-Qur'an."
Dibalik semarak peringatan nuzulul qur’an, terdapat keprihatinan yang mendalam tentang kondisi umat islam saat ini, dimana al –qur’an hanya diingat sebagai sebuah kitab suci yang dperhatikan penuh disaat bulan ramadhan saja, diluar bulan ramadhan maka al –qur’an seolah terlupakan bahkan menjadikannya sebagai ajang adu kepintaran. Padahal al – qur’an sejatinya adalah pedoman hidup manusia yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik aspek social, ekonomi, politik, pendidikan dan lainnya
System demokrasi kapitalis yang mendominasi dunia saat ini menjadikan akal manusia sebagai sumber aturan. Padahal manusia adalah makhluk yang lemah, terbatas dan membutuhkan orang lain, sehingga tidak mampu untuk menetapkan hukum yang adil dan menyeluruh. hal ini berpotensi menimbulkan pertentangan dan melahirkan berbagai persoalan yang tiada habisnya.
Dalam melakukan aktivitas harusnya individu, masyarakat dan Negara berpegang terhadap al-Quran, agar Allah swt menurunkan rahmatNya kepada manusia namun sangat disayangkan Negara enggan menjadikan Al – quran sebagai pedoman untuk bernegara, bahkan Individu yang benar-benar berpegang teguh pada Al-Qur'an dan menyerukan kembalinya umat kepada nilai-nilai ilahi ini justru kerap dianggap radikal. Prinsip kedaulatan di tangan rakyat yang diusung oleh demokrasi sering kali menjadikan hawa nafsu dan kepentingan pribadi sebagai penentu hukum, menggantikan hukum Allah swt yang sempurna.
Berpegang pada Al-Qur’an sejatinya adalah konsekuensi keimanan yang seharusnya terwujud dalam diri setiap muslim. Jika umat ingin membangun peradaban mulia seperti masa keemasannya dahulu, maka al –Qur’an harus dijadikan asas dalam kehidupan dengan menerapkan seluruh isi Al- Qur’an. Sayangnya, meski peringatan Nuzulul Quran rutin diadakan, bahkan oleh negara, penerapan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari masih jauh dari harapan.
Oleh karena itu, umat perlu menyadari pentingnya berpegang teguh pada Al-Qur'an secara keseluruhan, serta memperjuangkan penerapannya dalam seluruh aspek kehidupan. Dibutuhkan dakwah yang konsisten dan dilakukan oleh jamaah dakwah ideologis untuk membangun kesadaran kolektif. Dakwah ini menjadi kunci utama dalam mengajak umat agar tidak hanya menghormati Al-Qur'an dalam seremonial semata, melainkan juga menjadikannya pedoman dalam kehidupan pribadi, masyarakat, dan negara. Wallahu a'lam bishawab

No comments:
Post a Comment