Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mencari Dalang Dibalik Merajalelanya Pergaulan Bebas

Thursday, January 23, 2025 | Thursday, January 23, 2025 WIB

 


Oleh Ninik Rahayuningsih

Pegiat Literasi

 

Beberapa waktu lalu dunia berita dihebohkan dengan tertangkapnya pelaku tukar pasangan atau swinger oleh pihak kepolisian. Pelaku merupakan pasangan suami istri (pasutri) yang selama ini menjadi penyelenggara pesta swinger hingga 10 kali di Jakarta dan Bali. Selain mengadakan pesta seks swinger, mereka diketahui juga sebagai pengelola website komunitas swinger yang anggotanya sudah mencapai puluhan ribu (detiknews.com, 13/01/25).

Sedangkan di tempat lain, seorang oknum guru agama perempuan di Grobogan, Jawa Tengah, kedapatan melakukan pencabulan terhadap salah seorang murid laki-lakinya. bahkan guru tersebut yang memaksa muridnya untuk melakukan hubungan intim dengannya sudah sebanyak 10 kali. Perbuatan asusila itu terjadi sejak si murid masih kelas 8 dan berlangsung hingga kelas 9 sekarang (tribunnews.com, 10/01/25). Meski menyandang status janda, tetap saja yang dilakukannya adalah perzinaan.

Betapa memilukan hati melihat berita perzinaan sebagai bagian dari aktivitas pergaulan bebas, telah rata dilakukan oleh semua elemen masyarakat negeri mayoritas muslim ini. Mulai dari anak-anak, para muda-mudi, orang dewasa dari berbagai profesi tak luput para guru yang notabene sebagai pendidik generasi, siapapun itu seolah telah biasa melakukan perbuatan perzinaan, naudzubillahi min dzalik.

Model perzinaanpun semakin berkembang mengikuti zaman di mana jika dulu pelakunya terbatas pada golongan yang dikenal sebagai “pacar”, bahkan sekarang antar pasutri justru melakukan perzinaan dengan tukar pasangan. Kejadian ini makin sering kita dapati akhir-akhir ini di mana perbuatan maksiat mereka akhirnya terbongkar aparat. Yang tidak terbongkar dipastikan masih seperti jamur di musim penghujan. Kenapa makin hari kehidupan masyarakat makin “los dol” alias bebas tanpa rasa berdosa melakukan gaul bebas? Siapakah dalang dibalik hancurnya moral dan adat ketimuran, bahkan identitas sebagai seorang muslim seolah sudah raib dari masyarakat kita?.

Ketika kita melihat lebih mendalam akan penyebab utama (dalang) maraknya aktivitas pergaulan bebas- perzinaan-hingga rusaknya moral individu masyarakat muslim khususnya. Maka akan nampak di sana adanya pengabaian bahkan ketidakpedulian lagi terhadap apa yang ada di dalam dada berupa iman/akidah Islam. Fenomena terkikisnya akidah Islamiyah pada diri seorang muslim tidak lepas dari semakin frontalnya penerapan sekulerisme.

Sekulerisme atau pemisahan peran agama dari kehidupan ini disinyalir membawa dampak yang luar biasa pada hilangnya iman Islam, yaitu hilangkan keterikatan seorang muslim dengan syariat Islam. Aturan agama-Islam-dianggap sebagai sesuatu yang mengekang dan kolot, tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Lebih parah lagi efek dari sekulerisme ini adalah hilangnya aspek muraqabah (merasa selalu diawasi oleh Allah SWT) pada hati dan pikiran seorang muslim. Akibatnya, tidak ada lagi muncul ketakutan akan hisab di hari akhir nanti, hingga yang paling fatal adalah hilangnya iman Islam itu sendiri, meski di KTP masih tercantum “agama Islam”. Namun, semua itu jadi tidak berarti lagi karena yang nampak bukan lagi muslim dengan kepribadiaan Islamnya. Inilah realitas tak terbantahkan yang sedang terjadi pada masyarakat kita. Dari individu muslim berubah menjadi individu sekuler, begitu juga dengan masyarakatnya, berubah menjadi masyarakat sekuler.

Masyarakat sekuler yang diisi dengan individu, nilai dan aturan yang sekuler menjadikan ukuran kebahagiaan adalah terpuaskannya naluri seksual/hawa nafsu dengan prinsip kebebasan yang diagungkan. Bahkan demi terjaminnya kebebasan ini, negara sebagai otoritas tertinggi akan membuat peraturan/undang-undang yang mampu menjamin dan memfasilitasi kebebasan hawa nafsu seksual ini. Adanya aturan tentang kontrasepsi pelajar dan pendidikan kesehatan reproduksi ala Barat menjadi contoh nyata upaya penjaminan tersebut. Termasuk juga kebijakan kesetaraan gender dan semua turunannya yang berkiblat kepada barat seperti hak reproduksi dan bodily autonomy. Alih-alih bisa menyelesaikan masalah akibat pergaulan bebas dan perzinaan ini, yang terjadi justru kemaksiatan itu seolah mendapat angin segar untuk makin marak dilakukan oleh masyarakat, sehingga jangan bertanya lagi soal nasab dan kemuliaan hidup sebagai manusia yang berakal.

Berbeda dengan Islam, di mana Islam sangat menjaga baik adanya jalur nasab dan kemuliaan manusia. Upaya penjagaan dan penjaminan ini, oleh Islam diserahkan kepada negara untuk bisa mengeluarkan segenap aturan dan kebijakan yang bersifat mengikat seluruh masyarakat. Negara memiliki peran sangat penting untuk mewujudkan kemuliaan ini dengan berbagai mekanisme diantaranya dengan menerapkan sistem pergaulan Islam, sistem pendidikan berbasis akidah Islam, serta sistem sanksi yang tegas dan menjerakan.

Selain itu, negara juga akan menutup semua celah yang bisa menjadi jalan masuknya ide-ide asing seperti liberalisme, sekulerisme, kapitalisme dan isme-isme yang lainnya. Selama ini adanya pengaruh buruk tidak lepas dari peran media. Maka media inilah nanti yang akan betul-betul diawasi dan dikontrol kontennya oleh negara sehingga tidak ada lagi tayangan/tontonan yang merusak akidah dan moral masyarakat. Apalagi media sekuler, dipastikan tidak akan bisa hidup dalam negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh). 

Apabila dengan semua mekanisme pencegahan di atas masih juga terjadi tindak kemaksitan dan kriminal dalam aspek sosial pergaulan masyarakat, maka negara akan menerapkan hukuman yang tegas bagi pelakunya. Hukuman ini sekaligus juga akan menjadi pengingat bagi orang lain, agar tidak melakukan kemaksiatan yang serupa. Sungguh, Islam adalah sebaik-baik aturan dan jalan hidup manusia yang beriman dan berakal. 

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update