Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Peringatan Hari Santri Nasional, Kembalikan Eksistensi Hakiki Santri

Saturday, November 09, 2024 | Saturday, November 09, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:35:11Z

Oleh Lia April

Pendidik Generasi

 

22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Peringatan ini merujuk pada peristiwa penting yang bersejarah dalam perjuangan bangsa. Yaitu dicetuskannya resolusi jihad oleh KH. Hasyim Asy’ari selaku tokoh besar Nahdatul Ulama pada tahun 1945. Seruan ini bertujuan untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah. Ulama dan santri pada saat itu bersatu demi melawan kolonialis penjajah.

Hari santri yang diperingati setiap tahunnya merujuk pada Keppres No.22/2015. Peringatan ini bertujuan untuk mengenang dan meneladani peran santri dan kiyai dalam memperjuangkan dan mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagaimana dikutip dari KETIK, BANDUNG – Kabupaten Bandung terpilih menjadi tuan rumah puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2024 tingkat Jawa Barat, di Lapangan Upakarti Soreang dan Dome Bale Rame Soreang, Selasa (22/10/2024).

Peringatan HSN 2024 ini digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, berkolaborasi dengan PCNU Kabupaten Bandung dan Pemkab Bandung,  dengan tema Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan. Ketua HSN PWNU Jabar, Arif Rahman menjelaskan, HSN tahun ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kontribusi santri dalam menghadapi tantangan global.

“HSN 2024 dirancang untuk memperkuat kontribusi santri dalam menghadapi tantangan global, termasuk kemajuan teknologi, perubahan sosial, dan lingkungan,” kata Arif dalam keterangannya.

“Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan” memiliki makna yang mendalam. Para santri diharapkan mampu meneruskan perjuangan para pendahulunya tidak hanya mengenang. Namun, juga memiliki semangat juang yang sama dalam konteks ini adalah mampu menghadapi tantangan zaman saat ini. Sudahkah peringatan Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tahunnya memberikan perubahan  yang berarti bagi perbaikan generasi?

Sayangnya, momentum tersebut belum bisa memberikan perubahan yang hakiki untuk eksistensi santri. Berbagai macam tantangan harus dihadapi oleh santri pada zaman modern saat ini. Era Digitalisasi dan paham moderasi yang berasaskan pada sekularisme telah meniscayakan terwujudnya generasi yang beriman, bertakwa serta cakap dalam teknologi.

Pada kenyataannya, generasi saat ini termasuk santri lebih diberdayakan untuk menderaskan adanya arus moderasi beragama. Memiliki pemikiran yang moderat yaitu memiliki pandangan hidup ala barat yaitu sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) dan memiliki pemikiran seperti kapitalisme, hedonisme, sekularisme, demokrasi, pluralisme beserta turunannya. Alhasil jati diri dan eksistensi dari santri sebagai generasi cemerlang pendobrak peradaban sirna sudah.

Santri hanya cukup berakhlak mulia dalam hal ibadah ritual saja seperti sholat, puasa, zakat, dan haji tanpa menyadari jatidirinya sebagai muslim kaffah yang patuh dan taat pada seluruh aturan Allah Swt. Tindak kriminalitas pun seperti kasus perundungan, kasus kekerasan, penganiayaan bahkan sampai pelecehan seksual bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang tak sedikit terjadi di lingkungan pesantren dan pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah santri dan para pengurus didalamnya.

Sebagai salah satu contohnya seorang santri berinisial MSH (14) warga Kesambenkulon, wringinanom yang merupakan santri di salah satu ponpes di Desa Sidoharjo, Kedamean, Gresik nekat memukul seniornya menggunakan batu batu hingga tewas pada saat seniornya tertidur pulas, dan masih banyak lagi peristiwa miris lainnya.

Gambaran di atas adalah bukti nyata bobroknya sekularisme betapa sekularisme telah menjadi racun yang mematikan bagi generasi termasuk para santri. Lingkungan pendidikan seperti pesantren yang seharusnya mengajarkan nilai-nilai luhur Islam justru terkena imbasnya dari sekularisme. Padahal Santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki dua makna. Yang pertama santri berarti orang yang mendalami agama Islam sedangkan makna yang kedua santri adalah orang yang beribadah sungguh-sungguh; orang yang saleh.

Santri kerap kali diidentikkan dengan seseorang yang tengah mendalami dan menuntut ilmu agama Islam beserta tsaqofahnya di pondok pesantren. Oleh karenanya pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sangat dibutuhkan keberadaannya. Karena, pesantren mempunyai tujuan yang mulia yaitu mencetak ulama yang faqih fiddin, mumpuni secara ilmu agama, berkepribadian Islam, memahami Islam secara kaffah (menyeluruh), membawa kemashlatan bagi umat serta unggul dalam sains dan teknologi.

Pendidikan yang diberikan di pesantren haruslah seimbang antara ilmu agama dan keterampilan teknologi, karena ilmu agama mengajarkan adab dan etika sedangkan keterampilan teknologi menjadikan santri mampu bersaing di era modern seperti saat ini. Maka dari itu antara ilmu agama dan teknologi keduanya harus seimbang seiring sejalan.

Sebagaimana Rasulullah saw. Riwayat Imam Tirmidzi, “Barang siapa yang menginginkan dunia, maka wajib baginya memiliki ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya, maka wajib baginya memiliki ilmu.”

Bisa kita lihat pada masa Rasulullah saw. Beliau mendidik, mengajar serta membimbing para sahabat dan kaum muslim sebagai santrinya. Mempelajari Islam secara keseluruhan beserta hukum-hukumnya di rumah Arqam bin Abi Al Arqam yang dikenal dengan Darul Arqam. Sebagai pesantren pertama yang mendidik kaum muslim dengan pemahaman yang kuat dan akidah yang salih

Maka dari itu, negara pun turut andil dalam menjaga keberadaan pesantren. Lembaga yang melahirkan generasi ulama. Mulai dengan menerapkan sistem dan kurikulum yang dasar pada akidah Islam, memberikan fasilitas yang memadai, menggaji para asatidz (guru) dengan layak. Bahkan negara dapat memberikan biaya pendidikan secara gratis bagi para santrinya.

Oleh karenanya ketika santri memiliki dua hal tersebut (ilmu agama dan teknologi) secara seimbang maka melalui eksistensinya ia akan menjadi agen perubahan. Mampu membawa perubahan yang baik bagi bangsa tidak hanya pintar secara  ilmu namun mulia dalam akhlak dan moral.

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update