Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Krisis, Daya Beli Terjun Bebas

Monday, November 04, 2024 | Monday, November 04, 2024 WIB

Oleh Rahma

(Praktisi Pendidikan)

Pengusaha dan ekonom menganggap deflasi lima bulan bertubi-tubi sebagai gelagak lesunya ekonomi. Daya beli masyarakat anjlok. Pelemahan daya beli merembet pada kontraksi manufaktur, sehingga berujung pada perlambatan ekonomi yang terus di benahi. Melemahnya daya beli merembet ke banyak hal. Bagi sebagian masyarakat, situasi ini makin memburuk kondisi finansial, tabungan mereka makin tergerus untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Deflasi yang terjadi selama lima bulan berturut-turut sejak Mei hingga September 2024 memperlihatkan dengan jelas masyarakat kelas pekerja sudah tidak punya uang lagi untuk belajar. Hari ini kemiskinan terjadi di mana-mana kesenjangan antara miskin dan kaya makin lebar. Namun dunia tak kunjung mampu mewujudkan kesejahteraan.

Bahkan meski sudah ada hari pengentasan kemiskinan internasional 17 Oktober, yang di peringati sejak tahun 1992. Betul, ada upaya yang dilakukan dunia dalam organisasi internasional, tapi gagal mewujudkan kesejahteraan. Pasalnya sumber solusinya pada kapitalisme, sistem yang hanya menguntungkan para kapital, rakyat diabaikan, bahkan harus berjuang sendirian. Karena itu pengaruh juga di Indonesia seperti permintaan bank sentral Indonesia agar masyarakat lebih banyak belanja untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 5% mustahil terwujud. Pasalnya, hampir semua sektor industri melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), yang bakal berimbas pada anjloknya daya beli.

Namun, masalah ekonomi Indonesia tidak hanya berhenti pada penurunan tabungan. Fenomena peningkatan angka pengangguran di beberapa wilayah juga menjadi perhatian serius. Hari ini tanda-tanda deflasi terjadi. Sekilas deflasi tampak menguntungkan bagi orang karena harga-harga barang dan jasa jadi lebih terjangkau oleh konsumen. Tapi deflasi yang terjadi sekarang, bisa jauh lebih berbahaya. Sebab deflasi beruntun ini menjadi indikator pendapatan atau uang di masyarakat sudah semakin langka didapatkan. Sederhananya, masyarakat yang memilki uang makin sedikit. Jadi, uang semakin sedikit itu bukan karena masyarakat tidak ingin berbelanja, tapi karena memang pendapatannya sudah turun. Itu indikasi yang sangat jelas dari kondisi deflasi saat ini.

Di sisi lain ambisi pemerintah era jokowi untuk bangun infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia memang patut di sanjung, namun di sisi lain, besarnya alokasi dana infrastruktur di anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) pasti akan berpengaruh dengan menurunnya alokasi dana di sektor-sektor lainnya, terutama yang berkaitan pada sektor investasi human capital dan usaha padat karya. Walaupun infrastruktur merupakan kebutuhan krusial bagi pembangunan nasional tetapi infrastruktur bukanlah investasi yang keuntungan nya dapat di rasakan dalam waktu cepat. Pengembaliannya pun membutuhkan jangka panjang, sehingga wajar bila banyak yang menyayangkan kebijakan jokowi ini. Bahkan mantan presiden Susilo bambang Yudhoyono pun pernah mengingatkan jokowi, bahwa APBN sebaiknya tidak di priotaskan pada pembangunan infrastruktur. Persoalan yang dialami Indonesia sendiri.

Sebetulnya tak semata-mata terjadi karna keadaan ekonomi yang lesu dan daya beli turun. Namun sejatinya merupakan kegagalan kapitalisme dalam menjaga daya beli dan tingkat ekonomi warga. Sebabnya, aktivitas kosumsi warga, bahkan kalau bisa yang sampai tingkat komsumtif adalah andalan bagi sistem kapitalisme untuk terus panen profit. Namun, ketika berhadapan dengan warga kelas bawah dan menengah orientasi profit itu ternyata tidak sepenuhnya bisa berlaku secara berbanding lurus. Pada titik tertentu memang ada kalanya warga butuh berhemat. perilaku pemborosan warga pada sat-saat tertentu juga harus di rem.

Untuk itu, masyarakat jadi harus lebih memperhatikan skala prioritas terhadap aktivitas belanjanya. Tidak pelak, fenomena penghematan pengeluaran oleh warga kelas bawah dan menengah ini jelas berdampak langsung pada melesetnya target nominal laba para kapitalis. Sayangnya, kapitalisme sendiri toh begitu minimalis menjamin jalur yang benar dalam rangka sebab perolehan harta. Kapitalisme justru getol memperbudak manusia sebagai bagian dari sumber daya ekonomi. Tidak jarang, kapitalisme merestui aktivitas perolehan harta secara haram, semata atas nama kemanfaatan dan cuan. Penerapan islam kaffah akan mampu menuntaskan kemiskinan. Islam adalah sistem dari Allah yang memberi solusi atas persoalan manusia termasuk kemiskinan. Penerapan islam kaffah akan menjamin kesejahteraan atas indivdiu.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update