Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Harga Beras Meroket, Rakyat Elus Dada

Tuesday, November 12, 2024 | November 12, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:34:50Z

Oleh: Yesti

 

Harga beras tinggi karena biaya produksi tinggi. Hal ini disebabkan sektor pertanian sudah dikuasai oligarki dari hulu hingga hilir. Sementara negara tidak memberikan bantuan kepada petani, petani harus mandiri terlebih petani yang sedikit modal. Di sisi lain, negara sedang melakukan pembatasan impor beras sehingga ketersediaan beras juga lebih sedikit sehingga harga makin mahal. Bahkan saat ini harga beras dalam negeri konsisten tertinggi di kawasan ASEAN.

 

Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Carolyn Turk menilai tingginya harga beras ini terjadi karena beberapa hal, seperti kebijakan pemerintah terkait pembatasan impor dan kenaikan biaya produksi hingga pengetatan tata niaga melalui non tarif.

Harga beras di Indonesia dinilai melonjak dibandingkan negara lain. Biaya produksi beras di dalam negeri memang telah meningkat. Hal ini penting untuk memastikan petani juga mendapatkan keuntungan yang layak dari hasil pertanian mereka. Harga gabah yang diterima petani bahkan melebihi Harga.

 

Mahalnya harga beras menjadi ironi Indonesia sebagai negeri agraris. Bahkan, Bank Dunia (World Bank) mencatat harga beras di Indonesia tergolong lebih mahal bila dibandingkan dengan sejumlah negara di ASEAN. Pedagang pasar dan pengamat pertanian menyebut kenaikan harga beras yang terjadi sejak empat bulan terakhir hingga menyentuh harga Rp14.000 per kilogram untuk beras medium dan Rp18.000 per kilogram untuk beras premium adalah yang “tertinggi dalam sejarah”. Akibatnya, ratusan warga di berbagai daerah rela antre berjam-jam demi bisa mendapatkan beras murah yang digelar pemerintah lewat operasi pasar.

 

Pengamat pertanian dari Universitas Lampung, Bustanul Arifin, memperkirakan kenaikan ini akan berlangsung hingga musim panen April 2024. Pasalnya, El Nino menyebabkan musim tanam mundur. Selain itu, produksi padi tahun 2023 turun sekitar satu juta ton. Kenaikan beras berdampak langsung terhadap rakyat kecil. Dalam jangka panjang, hal ini bisa berubah menjadi krisis yang bisa merembet ke masalah sosial, politik, dan keamanan nasional.

 

Ada beberapa faktor penyebab kenaikan harga beras. Faktor lingkungan, penyebab utama kenaikan harga beras adalah fenomena El Nino yang terjadi pada tahun 2023. Hal ini mengakibatkan musim tanam menjadi terlambat, mempengaruhi ketersediaan beras di pasaran.

 

Bantuan sosial, adanya bantuan sosial kepada lebih dari 10 juta rumah tangga juga turut mempengaruhi ketersediaan beras di pasaran. Kenaikan harga beras secara langsung berdampak pada rumah tangga, terutama yang tidak mendapatkan bantuan sosial. Hal ini dapat memperberat beban ekonomi keluarga.

 

Keterbatasan sistem informasi pangan, ketidakmampuan dalam mengintegrasikan data pangan dari tingkat pusat hingga desa menyebabkan kesulitan dalam memprediksi ketersediaan pangan, yang pada gilirannya mengganggu proses distribusi dan penyediaan.

 

Solusi yang disarankan adalah pengaturan Impor. Pemerintah telah mencoba melakukan impor beras untuk memenuhi kebutuhan pasar, namun hal ini juga memiliki risiko tersendiri karena dapat meningkatkan ketersediaan beras yang berlebihan di pasaran. Ketika ketersediaannya besar pasti juga akan berpengaruh pada harga, sehingga petani-petani yang kemarin menikmati harga baik, mungkin tidak akan bisa menikmati harga yang cukup baik di kemudian hari. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan desa diperlukan untuk mengintegrasikan ketersediaan pangan dan mengidentifikasi daerah-daerah yang mengalami kekurangan atau surplus.

 

Kolaborasi antar pihak, Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan desa sangat penting dalam mengembangkan lumbung-lumbung pangan dan memastikan distribusi pangan yang merata. Pemantauan dan Pengawasan, dalam menyambut Ramadan, pemantauan dan pengawasan terhadap operasi pasar menjadi kunci untuk mencegah kelangkaan pangan dan mengoptimalkan pasokan selama bulan suci tersebut.

 

Melalui upaya penyelesaian masalah kenaikan harga beras, berbagai aspek pembangunan berkelanjutan dapat terdampak secara positif. Misalnya, dengan memperbaiki ketersediaan pangan dan distribusi yang merata, kita dapat berkontribusi pada pemberantasan kelaparan. Selain itu, kolaborasi antarpihak untuk memecahkan masalah ini juga sejalan dengan semangat membangun kemitraan untuk mencapai tujuan bersama. Dengan upaya bersama dan implementasi solusi yang tepat, diharapkan kenaikan harga beras dapat diatasi dan dampaknya terhadap sosial ekonomi petani dan masyarakat dapat teratasi dengan baik.                                                                                                                                                                                                Negara Islam menempatkan ketahanan dan kedaulatan pangan sebagai salah satu basis pertahanan negara dan basis menyejahterakan rakyatnya. Negara akan melakukan seluruh upaya untuk mewujudkannya sesuai dengan sistem ekonomi islam dan dengan dukungan sistem lain dalam bingkai penerapan Islam kaffah. Wallahu’alam bishawab

×
Berita Terbaru Update