Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bonus Demografi atau Bom Waktu? Masa Depan Indonesia di Tangan Gen Z

Thursday, November 07, 2024 | Thursday, November 07, 2024 WIB

Oleh Shabrina Nibrasalhuda

Mahasiswi

 

Bonus demografi adalah sebuah momen unik yang terjadi ketika suatu negara memiliki jumlah penduduk usia produktif (15—65 tahun) lebih besar dibandingkan mereka yang berusia di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun. Situasi ini dapat menguntungkan suatu negara karena memberikan sumber daya manusia produktif yang melimpah. Namun, bonus demografi juga bisa berdampak negatif jika tidak dikelola dengan baik.

Indonesia diperkirakan akan mencapai puncak bonus demografi pada tahun 2045, bertepatan dengan momen peringatan 100 tahun kemerdekaan yang dikenal dengan “Generasi Emas 2045.” Meski masih 21 tahun ke depan, persiapan untuk generasi penerus sebaiknya dimulai sekarang, sebab mereka yang akan membawa Indonesia ke masa depan.

Melihat kondisi hingga 2024, ada kekhawatiran terhadap masa depan generasi muda, khususnya Gen Z yang kini mulai memasuki usia produktif. Banyak permasalahan dihadapi oleh Gen Z, hingga mereka dijuluki “generasi stroberi” karena dianggap rapuh. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 9,9 juta Gen Z yang masuk dalam kategori NEET (not in employment, education, and training), yang berarti mereka tidak bekerja, tidak melanjutkan pendidikan, dan tidak menjalani pelatihan. Dari angka ini, 5,2 juta tinggal di perkotaan dan 4,6 juta di pedesaan, menunjukkan tantangan serius bagi upaya menuju Indonesia Emas 2045.

Gen Z, yang berusia antara 15-24 tahun dan lahir antara 1997 hingga 2012, banyak yang merasa tidak punya harapan untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga mengalami kecemasan akan masa depan. Hal ini diperburuk oleh banyaknya lulusan pendidikan tinggi yang belum memiliki keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja, seperti keterampilan digital, teknologi informasi, dan kemampuan berpikir kritis. Beban biaya kuliah yang tinggi juga menambah tekanan bagi Gen Z, yang sebagian besar keluarganya mengalami penurunan pendapatan dan daya beli.

Gen Z juga dihadapkan pada berbagai pengaruh negatif seperti FOMO (fear of missing out), game online, judi online, pergaulan bebas, konsumerisme, dan hedonisme. Situasi ini memperkuat pandangan masyarakat bahwa Gen Z seolah bukan generasi yang tangguh, padahal permasalahan yang mereka hadapi bersifat sistemik. Oleh karena itu, langkah-langkah perlu diambil untuk membangun generasi Gen Z menjadi generasi emas yang percaya diri dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Masalah sistemik yang dihadapi oleh generasi muda saat ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Kerapuhan dan kerusakan moral mereka secara keseluruhan adalah hasil dari penerapan sistem sekuler demokrasi kapitalisme. Gen Z menjadi target empuk para kapitalis yang terus mengeksploitasi potensi mereka.

Salah satu aspek yang mencerminkan kerusakan generasi ini adalah sistem pendidikan. Metode pendidikan sekuler Barat masih diterapkan di negara-negara Muslim, menciptakan “pasukan besar” tenaga pengajar yang mempertahankan metode tersebut. Akibatnya, lahirlah generasi yang pragmatis dan cenderung sekuler.

Kondisi generasi semakin memburuk dengan adanya Kurikulum Merdeka. Di satu sisi, mereka dihadapkan pada biaya pendidikan yang tinggi, dan di sisi lain, mereka terperangkap dalam kurikulum liberal. Kurikulum Merdeka ini justru menghilangkan esensi dari pendidikan, yaitu untuk menuntut ilmu yang membawa berkah. Fokusnya hanya pada hasil, tanpa memberikan dampak positif bagi pengajar maupun siswa. Hal ini terlihat dari dihapusnya konsep “tinggal kelas” dan kewajiban “lulus” bagi anak-anak usia sekolah.

Lebih parah lagi, pengaruh konten liberal di media sosial membuat banyak pelajar menjadikan sekolah sebagai tempat melakukan perundungan. Tindak kejahatan yang mengejutkan, seperti seks bebas dan perilaku seksual menyimpang, bahkan dilakukan oleh anak-anak yang masih sangat muda.

Di tingkat perguruan tinggi, kurikulumnya mendorong pola pikir instan pada mahasiswa, yang hanya berorientasi pada perolehan gelar. Hal ini merusak citra kampus sebagai pusat pendidikan calon pemimpin peradaban. Perguruan tinggi lebih fokus pada reputasi internasional, namun abai dalam memanfaatkan ilmu dari para akademisinya untuk kepentingan masyarakat luas dalam bentuk kebijakan nasional.

Produktivitas besar Gen Z saat ini secara nyata telah disalahgunakan oleh sistem demokrasi sekuler kapitalisme. Oleh karena itu, solusi mendasarnya haruslah melalui perubahan sistem secara menyeluruh, yakni menggantinya dengan sistem Islam.

Generasi muda memegang peran penting dalam kebangkitan umat. Potensi ini harus dikelola agar tidak hilang di tengah jalan. Perjalanan panjang menuju terbentuknya negara yang berlandaskan sistem Islam memerlukan generasi yang tangguh, bukan generasi yang rapuh. Dengan Islam, generasi muda akan diberikan arah dan tujuan yang jelas. Islam membentuk mereka melalui pendidikan akidah, aktivitas dakwah untuk menegakkan negara Islam, serta pergerakan dakwah yang mencontoh metode dakwah Rasulullah saw

Pola ini sangat penting dalam membangun identitas dan produktivitas generasi, sebagaimana Rasulullah saw. membina para sahabat di Makkah untuk mempersiapkan mereka menjadi generasi unggul yang akan mewujudkan Daulah Islam pertama di Madinah sebagai institusi yang menerapkan syariat Islam secara komprehensif.

Pada awal dakwahnya, Nabi saw. mengajak semua orang yang siap menerima ajaran Islam, tanpa memandang usia, status sosial, jenis kelamin, atau asal mereka. Beliau mengajak seluruh umat manusia untuk menerima Islam. Rasulullah SAW. kemudian membina mereka dalam satu kelompok untuk mengemban dakwah bersama. Kelompok ini terdiri dari laki-laki dan perempuan, yang mayoritas adalah pemuda. Mereka beriman, menaati, dan berdakwah bersama beliau.

Saat hijrah ke Madinah, para pemuda Madinah juga menyambut dakwah Rasulullah saw. Mereka siap menyerahkan kekuasaan agar Daulah Islam dapat ditegakkan di sana. Peristiwa hijrah ini menandai peralihan dakwah dari tahap pembinaan dan interaksi ke tahap penerapan hukum-hukum Islam di masyarakat. Negara tersebut kemudian menjadi pusat pembangunan masyarakat yang kokoh, serta pusat persiapan kekuatan untuk melindungi negara dan menyebarkan dakwah Islam.

Menyimak aktivitas dakwah Rasulullah saw, generasi muda perlu memahami tujuan hidup yang hakiki berlandaskan akidah Islam serta merintis jalan menuju kebangkitan dan perubahan pemikiran, termasuk kewajiban untuk amar makruf nahi mungkar. Selanjutnya, mereka harus bergabung dengan organisasi dakwah yang mengikuti metode dakwah Rasulullah saw. dan berupaya untuk menegakkan kembali kehidupan Islam.

Organisasi dakwah tersebut berperan dalam mengaktifkan potensi Gen Z melalui pendidikan tsaqafah Islam yang bersifat ideologis, menjadikan ilmu sebagai pemahaman melalui proses berpikir. Pendidikan ini berjalan intensif dan berkesinambungan, sehingga menghasilkan pengemban dakwah yang siap menghadapi berbagai tantangan. Kematangan tsaqafah, serta pola pikir dan sikap yang terbentuk selama proses pendidikan, menjadi bekal bagi mereka untuk menjadi pengemban dakwah yang tangguh.

Wallahualam bissawab.

 

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update