Oleh Dewi Rahayu Cahyaningrum
Komunitas Muslimah Rindu Jannah Jember
Istilah yang lagi trending untuk menyebut anak muda saat ini adalah generasi Z atau jika disingkat menjadi Gen Z. Mereka (Gen Z) yang seharusnya mempunyai cita-cita tinggi, setinggi langit diangkasa tetapi pada kenyataannya mereka terpuruk akan sesuatu yang tidak pasti dengan berbagai situasi dan kondisi yang terjadi saat ini.
Gen Z banyak yang mengalami sakit jiwa/kerapuhan mental hingga mereka juga sering disebut dengan generasi strawberri, kelihatan matang atau ranum dari luar tetapi pada kenyataannya mereka lemah, malah kadang cenderung menjadi busuk bahkan rusak. Miris memang, tapi itulah yang terjadi pada mereka.
Berbagai macam persoalan dibebankan kepada Gen Z seperti UKT mahal, pengangguran, kompetisi, kebutuhan hidup, tekanan sosial, rusaknya lingkungan membuat beban hidup makin menekan, dan lain-lain. Dan di sisi lain, pada hari ini Gen Z terjebak dalam gaya hidup yang rusak, mulai dari fear of missing out (FOMO), konsumerisme, hedonisme. Semua ini terjadi dikarenakan dampak dari sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan sehingga melahirkan aturan yang rusak dan merusak. Dan semua itu tersimpan dalam jeritan diam yang tak terdengar.
Hal ini terjadi pada remaja laki-laki yang melakukan bunuh diri dengan melompat dari gedung parkir sepeda motor Metropolitan Mall, Bekasi. Remaja itu mengenakan kemeja lengan panjang dan celana panjang putih tanpa disertai bet di kantong kemeja dan tidak membawa identitas diri. Satu-satunya petunjuk hanyalah lambang ikat pinggang yang menunjukkan bahwa ia diduga merupakan siswa SMP.
Kepala Polsek Bekasi Selatan, Jawa Barat, Komisaris Untung Riswaji mengatakan sampai saat ini masih menelusuri identitas korban. ”Kami cukup kesulitan untuk mengetahui siapa korban karena tidak ada identitas yang melekat pada tubuhnya,” katanya saat dihubungi, Kompas.id (23/10/2024).
Data Badan Pusat Statistik mencatat populasi remaja dan dewasa muda yang signifikan: 22,12 juta jiwa berusia 15-19 tahun dan 22,28 juta jiwa berusia 20-24 tahun, angka yang menunjukkan besarnya potensi sekaligus tantangan yang dihadapi bangsa (BPS, 2024).
Realitas mengejutkan terungkap melalui Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), survei kesehatan mental nasional pertama untuk remaja 10-17 tahun di Indonesia. Hasil survei menunjukkan satu dari tiga remaja Indonesia menghadapi masalah kesehatan mental, setara dengan 15,5 juta remaja.
Satu dari dua puluh remaja (2,45 juta) terdiagnosis gangguan mental, sesuai dengan panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Edisi Kelima (DSM-5) yang menjadi panduan penegakan diagnosis gangguan mental di Indonesia. Dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (16/10/2024), (Times Indonesia, Kamis, 17/10/2024). Ini memberikan gambaran bahwa adanya problematika kerapuhan mental/sakit pada jiwa generasi muda yang sangat mengkhawatirkan.
Sedangkan angka pengangguran di kalangan Generasi Z (Gen Z) di Indonesia telah mencapai titik kritikal, yaitu sebanyak 9,9 juta orang (22/10/2024). Ini berarti sekitar 22,25% dari total penduduk usia 15-24 tahun masih belum memiliki pekerjaan stabil, (Jawapos Radar Yogya, Rabo, 23/10/2024).
Padahal Gen Z adalah pemuda-pemuda yang seharusnya mempunyai dan membawa visi dan misi menjadi agen generasi perubahan peradaban, tetapi pada kenyataannya saat ini malah mengalami kemunduran.
Fenomena-fenomena yang terjadi di atas hanya akan bisa terselesaikan apabila perubahan hakiki menuju Islam kaffah terjadi, karena hanya dengan sistem Islamlah generasi dan umat manusia akan terselamatkan.
Hijrah bersama keluarga, masyarakat dan negara
Sebagai seseorang yang beragama Islam mendengar kata Hijrah adalah sesuatu yang amat sangat menakjubkan, apalagi dilakukan oleh semua anggota keluarga, masyarakat bahkan negara. Karena kita sebagai umat Islam memiliki tanggungjawab untuk membawa keluarga, masyarakat bahkan negara dalam hidayah Allah Swt. sesuai dengan apa yang Allah syariatkan, membawa semua bersama-sama kedalam surga-Nya dan menjauhkan semua dari azab neraka-Nya. Dikarenakan hal tersebut, maka gen Z membutuhkan adanya pembinaan secara shahih yang mendorong terbentuknya gen Z yang memiliki kepribadian Islam, memiliki visi misi untuk membela Islam dan membangun peradaban Islam secara menyeluruh.
Apa itu hijrah? Menurut Izzuddin bin Abdis Salam dalam Syajarat al Ma’arif wa al-Ahwal wa Shalih al-Aqwal wa al-A’mal, hijrah ada dua macam:
Pertama, Hijrah meninggalkan dosa dan pelanggaran terhadap syariah
Kedua, Hijrah meninggalkan negeri
Hijrah dalam arti meninggalkan dosa dan pelanggaran syariah juga wajib dilakukan. Karena, tiap maksiat wajib harus ditinggalkan sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yaitu “Seorang muslim adalah orang yang menjadikan kaum muslim selamat dari ucapan dan tangannya. Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang telah Allah larang.” (HR al-Bukhari Muslim).
Menurut istilah syariah, menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah jilid 2, hijrah adalah keluar dari Darul Kufur menuju Darul Islam, seperti hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah (Darul Kufur) menuju Madinah al Munawwarah (Darul Islam) pada tahun 622 M. Dengan demikian hijrah meninggalkan negeri sudah tidak berlaku lagi. Kecuali bagi mereka yang tertindas dan tidak bisa lagi menampakkan syiar-syiar Islam, wajib hukumnya hijrah dari darul kufur menuju darul Islam. Allah berfirman:
اِنَّ الَّذِيۡنَ تَوَفّٰٮهُمُ الۡمَلٰٓٮِٕكَةُ ظَالِمِىۡۤ اَنۡفُسِهِمۡ قَالُوۡا فِيۡمَ كُنۡتُمۡؕ قَالُوۡا كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِيۡنَ فِىۡ الۡاَرۡضِؕ قَالُوۡۤا اَلَمۡ تَكُنۡ اَرۡضُ اللّٰهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوۡا فِيۡهَاؕ فَاُولٰٓٮِٕكَ مَاۡوٰٮهُمۡ جَهَـنَّمُؕ وَسَآءَتۡ مَصِيۡرًا
Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi sendiri,1 mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekkah).” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS an-Nisa ayat 97)
اِلَّا الۡمُسۡتَضۡعَفِيۡنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالۡوِلۡدَانِ لَا يَسۡتَطِيۡعُوۡنَ حِيۡلَةً وَّلَا يَهۡتَدُوۡنَ سَبِيۡلًا ۙ
Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau perempuan dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah) (QS an-Nisa 98)
Hijrah keluarga
Hijrah keluarga membutuhkan waktu yang tidak sebentar jika pemahaman diantara anggota keluarga berbeda, sehingga harus menempuh langkah-langkah agar tercapai keberhasilannya, diantaranya:
Pertama,Memperbanyak do’a kepada Allah untuk membukakan hati para anggota keluarga, memberikan hidayah dan petunjuk kepada mereka agar berhijrah bersama, karena do’a adalah sumber kekuatan yang memberikan keyakinan untuk terus berusaha sebaik-baiknya.
Kedua, Menyampaikan dakwah dan ajakan berhijrah dengan cara yang makruf kepada suami atau istri, anak dan keluarga lainnya dengan cara yang sebaik-baiknya dan tentu kita telah mengenal karakter mereka dengan menjalin komunikasi yang baik dengan keluarga sehingga kita bisa membagikan visi misi hijrah tanpa dirasa menggurui apalagi memaksa.
Ketiga, Memberikan contoh dan pembiasaan. Mengubah kebiasaan lama yang masih dilakukan dengan memberikan contoh, mengajarkan dan memahamkan bahwa pemahaman sekulerisme, liberalisme, feminisme, kapitalisme dan semua hal tentang turunannya adalah salah. Mengajarkan dan memahamkan bahwa hanya hukum Islamlah yang benar, serta membiasakan pada keluarga untuk menerapkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Hijrah lingkungan masyarakat
Lingkungan masyarakat dan media sosial memiliki pengaruh yang besar dalam keluarga yang berhijrah. Jika berhijrah, namun tidak berhijrah juga lingkungan sebelumnya, maka kemungkinan untuk terbawa kembali sangat besar. Rasulullah saw. bersabda: “Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Karena itu hendaklah kalian memperhatikan siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Dalam berhijrah, lingkungan yang baik akan membantu kita untuk selalu istiqomah. Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Penjual minyak wangi mungkin akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli dari dia, atau engkau mendapatkan bau harumnya. Sebaliknya, pandai besi mungkin akan membakar pakaianmu atau engkau mendapatkan bau yang buruk” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Media massa dan sosial yang kita lihat dan tonton, memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan kita. Terutama yang menyangkut masalah keimanan, syariat Islam, keistikamahan dan lain sebagainya.
Hijrah negara
Negara berperan memastikan agar rakyatnya berhijrah kepada kebaikan tanpa ada kendala dan kesulitan. Pun berkewajiban membentengi rakyatnya dari serangan pemikiran dan pemahaman yang rusak dari luar Islam. Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh Imam itu perisai, orang-orang akan berperang di belakang dirinya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya (HR Muttafaqun ‘alayh).”
Hijrah tidak akan berlangsung sempurna tanpa institusi pelindungnya. Selama institusi yang melindungi tidak ada, hijrah hanya akan menjadi fenomena individual, jika keluarga semata tidak akan membawa pada perubahan yang signifikan dalam kehidupan umat.
Misi visi dalam hijrah semestinya berhijrah dari kekufuran sistem jahiliyah kepada sistem paripurna dari Zat yang Maha Sempurna yaitu Sistem Islam. Berpindah dari sistem kapitalis sekuler kepada sistem Islam yang melibatkan seluruh umat. Jadi, aktualisasi hijrah harus dimaknai dengan perjuangan untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam dalam ranah individu, masyarakat dan negara.
Belajar kepada Baginda Rasulullah saw. dalam membangun Madinah sebagai sebuah masyarakat Islam. Beliau benar-benar merancang dan mempersiapkan Madinah sebagai sebuah masyarakat yang mempresentasikan ideologi Islam. Rasulullah menstabilkan kondisi masyarakat dengan melakukan berbagai perjanjian dengan masyarakat non Islam maupun masyarakat tetangga. Bahkan Rasulullah tidak segan-segan mengusir kaum Yahudi dari Madinah karena merusak perjanjian dan demi mempertahankan Madinah sebagai masyarakat yang khas. Dan inilah hijrah yang sempurna.
Wallahualam bissawab.
No comments:
Post a Comment