Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Saleh ala Masyarakat Sekuler

Wednesday, October 16, 2024 | Wednesday, October 16, 2024 WIB

Penulis : Dinda Kusuma W T

Ada-ada saja, di tengah riuh persoalan hidup yang dialami rakyat, pemerintah mengeluarkan wacana dan program yang tidak perlu. Yang sama sekali bukan hal krusial untuk diurusi, salah satunya urusan toleransi. Dengan dalih merawat, menjaga, meningkatkan kerukunan umat beragama yang faktanya umat dalam keadaan baik-baik saja, pemerintah melakukan berbagai program yang justru bisa memunculkan islamophobia. Kali ini, istilah saleh menjadi sasaran moderasi. Istilah yang maknanya telah umum di masyarakat ini, kini distandarisasi secara sepihak.

Pada Kamis (10/10/2024), Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam sebuah keterangan pers mengatakan, indeks kerukunan umat beragama dan kesalehan sosial secara nasional meningkat pada tahun 2024, dibandingkan 2023. “Melalui moderasi beragama ini kita terus memperkuat kerukunan, dan saya ingin sampaikan bahwa indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) meningkat dari 76,02 pada tahun 2023 menjadi 76,47 pada tahun 2024,” ungkapnya. Selain itu, indeks kesalehan sosial yang diukur melalui lima dimensi yakni, kepedulian sosial, relasi antar manusia, menjaga etika, melestarikan lingkungan, serta relasi dengan negara dan pemerintah, juga mencatat tren peningkatan (Kompas.com, 10/10/2024).

Mungkin, sebagian besar masyarakat yang baru mengetahui bahwa saleh memiliki parameter sebagaimana lima kriteria yang disebut diatas akan merasa terkejut. Terminologi saleh yang selama ini dipahami masyarakat adalah taat dengan niat karena Allah dan sesuai dengan ketentuan syariat islam. Sedangkan jika diperhatikan, lima kriteria Kementerian agama sangat jauh dari itu. Tidak ada kaitan sama sekali dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Malah dikaitkan dengan relasinya terhadap negara dan pemerintah. Jelas telah terjadi dekonstruksi istilah saleh, agar masyarakat tidak lagi menjadikan ketaqwaan sebagai standart hidup.

Selain itu, makna saleh diberikan pemaknaan baru dengan melekatkan tambahan kata “sosial”. Kemudian semua Indikatornya mengarah pada moderasi, karena yang diukur adalah parameter-parameter moderasi. Karakter sebagai muslim moderat inilah yang ditampakkan oleh Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) dan Indeks Kesalehan sosial (IKS). Umat islam secara tidak langsung dipaksa menjauh dari agamanya. Demi mensukseskan liberalisaasi berkedok moderasi, segala propaganda dilontarkan di tengah masyarakat tanpa memandang lagi maslahat atau mudharatnya bagi umat.

Umat hendaknya jeli dan berhati-hati dalam melihat persoalan ini. Jangan mudah terbawa arus dan propaganda yang tidak berasal dari islam. Sejatinya moderasi beragama merupakan proyek Barat untuk deideologi Islam. Ide ini merupakan hasil rekomendasi Rand Corporation (sebuah organisasi penelitian Amerika Serikat yang mengembangkan solusi untuk tantangan kebijakan publik) yang dipasarkan ke negeri-negeri Islam. Dengan strategi sampingan memberi pinjaman, investasi dan sejenisnya, Barat menjebak negeri-negeri islam untuk mengikuti propaganda mereka. Tidak lain untuk menyebarkan ideologi, liberal, kapitalis dan sekulerisme.

Selain itu, target sesungguhnya, yang tersembunyi dibalik semua itu adalah mencegah kebangkitan Islam melalui tegaknya kembali Daulah Islamiyah. Orang-orang Barat sangat memahami bahwa umat islam kelak akan bangkit. Mereka juga memahami bahwa umat islam hanya bisa dilemahkan jika pemikiran mereka dirusak, dilemahkan, dan dijauhkan dari akidah islam. Maka jelas, moderasi beragama dalam pandangan Islam adalah ide yang berbahaya, sehingga umat harus tegas menolaknya.

Bicara masalah toleransi, Islam sudah memiliki aturan tersendiri tentang toleransi, sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Bisa dikatakan, islam terdepan dalam hal toleransi. Satu-satunya agama yang memandang sama antara semua warna kulit, suku, ras, atau golongan apapun adalah islam. Agama yang datang untuk memuliakan baik perempuan maupun laki-laki, miskin ataupun kaya, adalah islam. Namun tentu memiliki batasan yang tidak merusak akidah dan jauh berbeda dengan standart toleransi Barat. Toleransi sesuai dengan tuntunan Islam tersebut sudah pernah diterapkan dan terbukti membawa stabilitas di masyarakat dunia. Bukan sekedar slogan seperti sekarang, yang katanya menjunjung tinggi toleransi, kebebasan, Hak Asasi Manusia, namun nyatanya diskriminatif dan menyengsarakan. Untuk itu umat harus bangkit melawan semua pemikiran kapitalis sekuler dan bersama-sama berjuang untuk menerapkan sistem islam secara sempurna. Wallahu a’lam bish shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update