Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mewujudkan Zero Food Waste Sebuah Mimpi?

Thursday, October 31, 2024 | Thursday, October 31, 2024 WIB

Nur Inayah

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Asep Kusumah, mengimbau agar masyarakat bersama-sama untuk mengurangi dan menangani sampah di rumah tangga secara berwawasan lingkungan.

Hal itu karena salah satu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yaitu Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat sudah over capacity, dan menurutnya, jika dilakukan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga, akan lebih efektif.

Salah satu langkah dalam pengelolaan sampah di rumah tangga tersebut, yaitu dengan mewajibkan setiap warga di Kabupaten Bandung membuat dua lubang cerdas organik (LCO) di halaman rumahnya masing-masing, satu untuk sampah organik, dan yang satu lagi untuk sampah anorganik yang akan digabungkan ke bank sampa anorganik. Inilah rumah tangga cerdas, ujarnya saat diwawancarai pada Jumat (11/10/2024). Asep mengatakan bahwa sosialisasi dan diseminasi tentang program zero food waste ini telah dilakukan di tingkat keluarga, RT, RW sampai ke tingkat desa atau kelurahan, sejak tanggal 7 Oktober 2024 lalu.

Seperti yang kita tahu, persoalan sampah menjadi masalah yang sampai saat ini belum bisa diselesaikan secara tuntas. Dari banyaknya berbagai jenis sampah yang ada, sampah sisa makanan menjadi salah satu penyumbang sampah yang mendominasi dari sekian banyak tumpukan sampah yang ada. Oleh karenanya, salah satu program yakni program zero food waste diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah sampah makanan ini. Program zero food waste ini juga diharapkan mampu mengurangi pemborosan makanan dan sekaligus akan mampu mengedukasi masyarakat agar lebih bijak lagi dalam mengkonsumsi maupun mengelola bahan pangan.

Program zero food waste sendiri adalah sebuah gaya hidup yang menerapkan konsep reuse pada produk atau makanan untuk mencegah sampah produk atau makanan tersebut terbuang ke tempat pembuangan, atau bahkan di laut. Mampukan program Zero Food Waste ini mengatasi pengurangan sampah sisa makanan saat ini?

Dari banyaknya sampah makanan yang ada di setiap tempat pembuang sampah, menunjukan bahwa masih berlangsungnya kebiasaan buruk masyarakat yang sering tidak menghabiskan makanan, ataupun prilaku mubazir dan boros terhadap makanan. Hal ini tak terlepas dari gaya hidup konsumtif masyarakat saat ini. Terlebih negara yang menerapkan sistem, sekuler-kapitalis, yakni memisahkan agama dari kehidupan (sekuler), secara tidak langsung telah membentuk kepribadian individu-individu yang jauh dari ketaatan kepada Allah SWT. Belum lagi karakter kapitalis yang sifatnya menjadikan seseorang bersifat hedonis, yang mengutamakan gaya hidup konsumtif, sehingga selalu mengedepankan hawa nafsunya untuk memenuhi keinginan mereka, tanpa memperhatikan mana kebutuhan dan keinginan.

Ditambah lagi dengan kemajuan teknologi saat ini, begitu banyak di aplikasi media sosial yang menjual berbagai aneka jenis barang dan tentunya juga aneka makanan dengan promosi iklan yang menggiurkan dan menggugah selera para konsumennya. Disertai dengan kemudahan dalam transaksi, sehingga konsumen mudah dalam mendapatkannya. Hal ini pun tentunya sangat mendukung gaya hidup konsumtif masyarakat. Standar perbuatan yang permisif (serba boleh), menjadikan mereka sangat mudah untuk membuang makanan jika bersisa yang kemudian dibuang ke tempat sampah.

Begitulah potret gaya hidup konsumtif yang ada di kehidupan sekuler, kehidupannya hanya sekedar mengejar kepuasan jasadiyah, termasuk dalam hal pemenuhan asupan makannya, tak jarang diwarnai dengan prilaku mubazir terhadap makanan.

Berbeda halnya dengan Islam, yang memiliki seperangkat aturan dari Sang Khalik, termasuk dalam hal pemenuhan asupan pangan. Syariat Islam telah memerintahkan agar memakan makanan yang halal dan baik, dan telah menganjurkan agar tidak berlebihan dalam hal makanan , dan terhindar dari hal yang tidak terpuji, seperti sikap berlebih-lebihan dalam makanan, sehingga dapat membuat makanan terbuang. Padahal saat ini tidak sedikit orang-orang yang masih sulit dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya yakni asupan pangan.

Lahirnya individu -individu yang taat syariat seperti ini merupakan hasil dari penyelenggaraan pendidikan Islam oleh negara yang berasaskan Islam. Mereka senantiasa melandaskan segala perbuatannya pada standar halal- haram, dan perintah- larangan Allah, semata untuk meraih keridhaan Allah sebagai tujuan hidupnya yang tertinggi. Termasuk dalam pemenuhan kebutuhannya, termasuk kebutuhan terhadap makanan. Tidak akan marak terjadi perilaku membuang makanan, karena perbuatan tersebut merupakan prilaku mubazir yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasul -Nya. Sebagimana dalam firmannya:
“Dan janganlah berlebihan, sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” Surat al-A’raf ayat 31.

Dan tentunya apabila syariat Islam ini diterapkan, akan mampu melahirkan individu- individu yang bertakwa, yang memiliki sikap peduli terhadap lingkungannya, sehingga tidak akan mengakibatkan tumpukan-tumpukan sampah, termasuk sampah rumah tangga yang dapat menimbulkan berbagai masalah lainnya, baik itu masalah lingkungan maupun kesehatan masyarakat di sekitarnya. Gaya hidup zero food waste akan mampu terwujud ketika pola pikir dan pola Islam individu sesuai dengan aturan Islam, dan semakin terjaga ketika hadir penerapan Islam secara kaffah oleh institusi negara.

WaLahu a’Lam bish shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update