Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Merindu Pemimpin Berakhlak Nabi

Thursday, October 10, 2024 | Thursday, October 10, 2024 WIB

Oleh: Ummu Dandi

Beberapa hari yang akan datang, tepatnya 20 Oktober 2024, negeri ini akan memiliki pemimpin baru dengan dilantiknya Bapak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakilnya setelah melewati berbagai macam hambatan politik. Salah satu peristiwa yang sangat mencuri perhatian adalah viralnya sebuah video pengungkapan kecurangan terstruktur pada proses pemungutan dan perhitungan suara setelah unggul satu putaran dalam pemilu. Entah mengapa agaknya dua bakal presiden dan wakil presiden ini tak pernah luput dari obrolan masyarakat. Baru-baru ini pun diramaikan dengan munculnya akun media sosial Kaskus bernama Fufufafa. Akun kontroversial ini diduga milik wakil presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka. Alasan dari disorotnya akun tersebut adalah karena Fufufafa kerap mengunggah berbagai pernyataan negatif pada rentang 2014-2019. Bahkan, beberapa unggahannya dinilai menyerang Prabowo Subianto, yang pada beberapa periode lalu menjadi rival berat dari Presiden Jokowi dalam pemilihan presiden 2014 dan 2019. Selain itu, akun tersebut berisi hal-hal yang negatif, memalukan, sangat tidak pantas, dan tidak mungkin keluar dari pemikiran seseorang yang beradab dan berpendidikan.

Kasus-kasus tersebut akhirnya menimbulkan banyak keresahan. Sebenarnya apa kriteria menjadi pemimpin di negeri ini? Tidak adakah aturan yang memastikan bahwa calon yang mendaftar telah memenuhi syarat yang ketat sehingga layak menjadi pemimpin?

Setidaknya calon pemimpin itu harus orang yang beradab, mampu menjalankan amanah dengan landasan keimanannya, tidak memiliki catatan hitam di masa lalu, dan betul-betul paham konsekuensi amanah kepemimpinan pada Allah.

Kita belajar dari Rasulullah saw, bagaimana Baginda menolak Abu Dzar Al Ghifari yang meminta jabatan wali di suatu negeri dan malah mengingatkan bahwa amanah ini sangatlah berat. Dari sini, kita mengambil pelajaran bahwa syarat seorang pemimpin sangatlah ketat dalam Islam. Bahkan, sekelas kualitas Abu Dzar saja tidak terpilih menjadi pemimpin, akan tetapi beliau tidak kecil hati melainkan “sami’na wa atho’na” pada apa yang Rasulullah putuskan. Kita juga dapat belajar dari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang menangis karena takut pada Allah setelah dibaiatnya beliau menjadi Khalifah tersebab mengingat beratnya amanah dan pertanggungjawaban sebagai pemimpin negeri. Namun, ternyata setelah beberapa bulan kepemimpinannya, tidak ada lagi kaum muslimin yang mau menerima zakat. Hal tersebut setidaknya memberikan pertanda betapa makmurnya kehidupan rakyat di bawah kepemimpinannya. Itulah gambaran seorang pemimpin yang takut pada Rabb nya dan serius dalam mengemban amanahnya.

Islam sebagai agama yang sempurna memiliki aturan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam kriteria calon pemimpin. Imam Al-Mawardi rahimahullah dalam kitab al-Ahkâm ash-Shulthaniyah menyebutkan syarat-syarat seorang pemimpin, di antaranya: adil, memiliki ilmu yang bisa mengantar kepada ijtihad dalam menetapkan permasalahan kontemporer dan hukum-hukum, sehat jasmani yakni pendengaran, penglihatan dan lisan, agar ia dapat langsung menangani tugas kepemimpinan, normal (tidak cacat) yang tidak menghalanginya untuk bergerak dan bereaksi, bijak yang bisa digunakan untuk mengurus rakyat dan mengatur kepentingan negara, dan memiliki keberanian yang bisa digunakan untuk melindungi wilayah dan memerangi musuh.

Betapa kita merindukan pemimpin yang berakhlak nabi dan elok keteladanan hidupnya. Kita ingin kembali pada aturan Ilahi Rabbi yang akan mendatangkan keberkahan dan menyelamatkan negeri, bukan pemimpin yang penuh ambisi duniawi yang akan membawa negeri ini jauh dari rahmat Allah. Oleh karena itu, menghadapi gelaran pilkada ini, hendaklah kita menyadarkan diri serta mohon petunjuk ilahi agar tidak tertipu kesekian kali.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update