Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kesadaran Politik Pemuda, Antara Politik Demokrasi Dan Politik Islam

Monday, October 14, 2024 | Monday, October 14, 2024 WIB

 

 

Oleh: Firda Yulianti (Pegiat Literasi)

 

Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) 2024 sebentar lagi, tak dipungkiri pada tahun 2024 ini memang menjadi tahun politik bagi bangsa Indonesia. Baru saja pada bulan februari lalu Indonesia menyelesaikan hajatan pesta demokrasi berupa Pemilu 2024 untuk memilih anggota legislatif dan presiden-wakil presiden.

 

Selajutnya, tepatnya bulan depan rakyat akan dilibatkan lagi dalam Pemilhan Kepala Daerah (pilkada) dan terlihat jelas panggung politik daerah sudah mulai ramai dan panas saat ini. Bahkan, baru-baru ini di Sultra ada deklarasi Pilkada Damai yang dilaksanakan oleh sejumlah mahasiswa bahkan sampai pada kalangan rektor.

 

Sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi di Sulawesi Tenggara (Sultra) secara serempak menyerukan deklarasi damai. Ajakan ini ditujukan kepada seluruh mahasiswa dan masyarakat Sultra untuk bersama-sama menjaga situasi keamanan dan kenyamanan di Bumi Anoa, Sabtu 28 September 2024.

 

Dalam deklarasi tersebut, mahasiswa menyuarakan dukungannya terhadap peran kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Sultra. Selain itu, mereka mengajak seluruh mahasiswa untuk berperan aktif menjaga kondusivitas serta menyuarakan aspirasi masyarakat dengan cara yang tertib dan tanpa tindakan anarkis, dikutip dari media online sultravisionary.

 

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Fakultas Hukum Universitas Halu Oleo (UHO) melaksanakan kegiatan penyuluhan di Sekolah Menengah Atas (SMA) 2 Konawe Selatan dan MA DDI Nurul Qalbi Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra). Kegiatan penyuluhan tersebut mengangkat tema tentang “Peningkatan Pengawasan Partisipatif dalam Pilkada Serentak 2024”. Yang bertujuan untuk mengedukasi para siswa tentang pentingnya partisipasi aktif dalam mengawal proses demokrasi di Indonesia.

 

Dilansir dari media indosultra, Menurut Muhammad Farhan Alim, Koordinator KKN Tematik Fakultas Hukum mengatakan, dalam penyuluhan ini, mahasiswa KKN Tematik Fakultas Hukum memberikan pemahaman tentang pentingnya pengawasan partisipatif, serta bagaimana masyarakat, termasuk generasi muda, dapat berperan aktif dalam menjaga integritas dan transparansi pemilihan. “Kami ingin para siswa tidak hanya menjadi pemilih yang cerdas, tetapi juga menjadi pengawas partisipatif yang kritis dan berintegritas. Peran mereka sangat penting dalam memastikan proses Pilkada berjalan dengan jujur dan adil,” ujarnya, Kamis (15/8/2024)

 

Kapolda Sulawesi Tenggara, Irjen Pol Dwi Irianto, membangun sinergisitas dengan Forum Rektor se-Sulawesi Tenggara di Kendari dalam acara silaturahmi menjelang Pilkada 2024 di Kendari, Kamis. Kapolda menegaskan pentingnya deklarasi damai dalam menghadapi Pilkada 2024. “Mendukung tugas Polda Sultra, kita bersama-sama deklarasi damai bukan hanya menghadapi Pilkada 2024 tetapi untuk seterusnya. Kami sangat berharap agar semua elemen masyarakat mendukung terciptanya suasana yang damai dan kondusif,” tambah Kapolda. Acara ini diakhiri dengan deklarasi damai, menegaskan komitmen bersama untuk menjaga Sulawesi Tenggara aman dan kondusif, tidak hanya dalam momentum Pilkada 2024 tetapi juga untuk masa depan daerah dikutip dari media online sultra.antarnews.

 

Peran kaum muslimin dalam politik belum sesuai dengan politik yang benar. Deklarasi yang dilaksanakan oleh kalangan mahasiswa tersebut seolah ingin memperlihatkan peran mereka dalam menjaga keamanan yang stabil agar tidak ada yang anarkis pada saat pelaksanaan pilkada 2024, namun apakah peran seorang pemuda muslim hanya sebatas itu saja dalam hal perpolitikan?.

 

Melihat dari pelaksanaan pemilu yang lalu, peran pemuda dalam hal politik kebanyakan hanya mengawasi jalannya proses pilkada. Dan hal ini pun sangat viral dan para pemuda merasa bangga ketika bisa menjadi bagian dari pengurus Pemilu. Artinya mereka telah menjadi pembela dan penjaga demokrasi saja.

 

Sungguh miris, padahal para pemuda itu meraup banyak suara dan sangat mempengaruhi suara dalam pemilihan tetapi minat mereka terhadap politik sangat kurang bahkan mereka diidentik dengan buta politik.

 

Disisi lain, dengan adanya deklarasi ataupun edukasi terkait politik hanya untuk memastikan para pemuda berperan mendukung demokrasi. Ada pula diskursus fenomena kemunduran demokrasi (democratic backsliding) yang mengarah pada harapan agar kaum muda dari kalangan Gen Z khususnya mahasiswa, bisa menjadi agen perubahan demokrasi.

 

Demokrasi tidaklah layak untuk diperjuangkan sebab kerusakan tatanan kehidupan saat ini berasal dari sistem politik demokrasi. Buktinya, sejak awal kemerdekaan hingga hari ini, demokrasi tidak mampu membawa rakyatnya pada kesejahteraan yang ada hanya persoalan hidup yang makin rumit yaitu harga kebutuhan hidup yang semakin tinggi, pengangguran, kelaparan hingga kriminalitas yang makin banyak.

 

Sehingga, kita bisa melihat bahwa peran kaum muslimin dalam politik belumlah benar. Peran politik genz dan mahasiswa dalam sistem saat ini hanya sekedar di jadikan penambah suara. Akibatnya kaum mislimin jauh dari politik yang benar dan masih terus meyakini sistem demokrasi akan memberikan kesejahteraan bagi mereka.

 

Umat masih melihat persoalannya hanya sebatas figur pemimpin bukan persoalan sistem.

Pemuda membutuhkan politik islam

 

Pemuda membutuhkan politik islam saat ini, yaitu penyandaran aktivitas politik pada ajaran islam. Artinya, menjadikan politik berbasis islam, diatur berdasaran islam dan untuk kepentingan islam.

 

Secara faktual , Islam dan politik tidak bisa dipisahkan. Politik merupakan salah satu bentuk pegamalan ajaran islam yang didasarkan pada akidah islam. Politik islam ditujukan untuk melaksanakan islam didalam negeri dan mendakwahkan islam ke luar negeri. Politik islam hakikatnya pengurusan urusan umat berdasarkan kebenaran dan keadilan islam.

 

Dalam islam, pemuda memiliki peran penting sebagai agen perubahan. Kepedulian kepada umat tidak hanya terbatas pada figur tapi juga rusaknya sistem dan kritis terhadap kebijakan menjadi identitas para pemuda. Dalam sistem politik islam, mahasiswa atau para pemuda dibina agar megkaji dan mempelajari islam, kemudian menyuarakannya ke tengah umat. Oleh karenanya, kerangka pergerakan pemuda haruslah pada pijakan yang kuat sehingga tidak mudah dilemahkan.

 

Rasulullah saw. memberi pesan yang mendalam tentang pemuda, “Aku pesankan agar kalian berbuat baik kepada pemuda sebab sebenarnya hati mereka itu lembut. Allah swt. telah mengutusku dengan agama yang lurus dan penuh toleransi, lalu para pemuda bergabung memberikan dukungan kepadaku. Sementara itu, orang-orang tua menentangku.”

 

Pemuda adalah pelaku perubahan, hampir di setiap perjuangan pemuda selalu berperan sebagai pelopor perubahan. Sepanjang sejarah islam selalu ada peran pemuda yang tidak bisa dipandang remeh.

 

Dakwah Rasulullah saw. juga diperkuat oleh banyak pemuda. Salah satunya ialah Zubair bin Awwam, hawarinya Rasulullah saw. ia memeluk islam pada usia 15 tahun dan senantiasa membersamai perjuangan Rasulullah. Oleh karena itu, perjuangan dakwah dan dalam berpolitik harus banyak dipenuhi oleh para pemuda. Wallahu’alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update