Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Abainya Pemerintah, SMP Negeri di Tengah Kota Bandung Tidak Memiliki Gedung

Monday, October 14, 2024 | Monday, October 14, 2024 WIB

Oleh : Auryn (Pelajar)

 

Gedung menjadi salah satu aspek yang paling penting sehingga kegiatan kita bisa berjalan dengan normal. Semua kegiatan-kegiatan yang menyongsong berjalannya kehidupan manusia dengan normal tentu membutuhkan gedung, tempat berteduh dari panas dan hujan. Sekarang, bagaimana anak-anak bisa bersekolah dengan benar tanpa khawatir takut kehujanan, kepanasan, kalau sekolah sendiri bisa sampai tidak memiliki gedung?

Fenomena ini terjadi di salah satu SMP negeri yang ada di Kota Bandung yakni SMPN 60 Bandung. Dalam sebuah video yang beredar, memperlihatkan suasana belajar KBM yang sedang berlangsung. Sekilas semua terlihat normal, sehingga orang-orang mulai menyadari ada yang janggal, lantaran dalam video KBM SMPN 60 Bandung tidak terlihat adanya kursi dan meja, seperti selazimnya sekolah. Terlihat, para siswa duduk lesehan beralaskan plastik terpal sambari menyimak materi yang dipaparkan oleh guru.

Setelah coba ditelusuri kebenaran video itu, ternyata benar adanya. Video itu  memang menangkap suasana belajar di SMPN 60 Bandung.

“Benar, video itu siswa kami,” kata Rita Nurbaini, Humas SMPN 60 Bandung, dikutip dari detikJabar, Jumat (27/9/2024).

Sebetulnya, kata Rita, bukan tidak ada kursi dan meja untuk para siswa ini belajar. Kursi dan meja bantuan dari Disdik Kota Bandung ada tersimpan di teras sekolah. Kursi dan meja itu tidak digunakan karena siswa SMPN 60 Bandung menumpang di bangunan sekolah SDN 192 Ciburuy, Regol, Kota Bandung.

Dilansir dari laman detikJabar, bahwa sejak tahun 2018, SMPN 60 Bandung harus menumpang di gedung SDN 192 Ciburuy, Kecamatan Regol, Kota Bandung. Dengan jumlah siswa yang cukup banyak, sekolah ini memiliki sembilan rombongan belajar (rombel), tetapi hanya tujuh ruang kelas yang tersedia.

Kondisi tersebut memaksa dua rombel lainnya belajar di luar ruangan, baik di teras sekolah dengan beralaskan terpal plastik maupun di bawah pohon yang sering disebut ‘DPR’ (di bawah pohon rindang).

Rita mengatakan, kondisi seperti ini terjadi sejak 2018 atau sejak sekolah ini didirikan. “Sekolah ini didirikan karena keinginan masyarakat, di sini masyarakat padat dan banyak, jadi zonasi sudah berlaku untuk mengikuti zonasi dari sini ke SMP yang sudah ada seperti SMPN 11, 3 dan 10, jaraknya bisa 3-5 KM,” ungkapnya.

Enam tahun sudah SMPN 60 Bandung berdiri. Namun, sejak didirikan, sekolah tersebut tak memiliki bangunan sekolah sendiri. Hingga kini sebagian siswanya harus belajar di luar kelas demi mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).

Bagaimana hal ini bisa sampai terjadi? Seabai itu kah pemerintah kota Bandung sehingga salah satu sekolahnya bisa sampai tidak memiliki gedung? Pihak sekolah sendiri telah mengajukan permohonan gedung kepada Dinas Pendidikan Kota Bandung. Namun, hingga saat ini belum mengetahui pasti perkembangan permohonan permintaan tersebut. Hal ini menunjukan betapa abai dan tidak pedulinya pemerintah terhadap kualitas pendidikan negara. Sekarang, bagaimana caranya anak-anak bisa fokus belajar kalau setiap turun hujan, mereka harus berlarian mencari tempat berteduh, baru bisa kembali melanjutkan pembelajaran? Bayangkan hari-hari sekolah selama musim penghujan, Oktober hingga Maret. Tidak terbayangkan harus berapa kali Kegiatan Belajar dan Mengajar terdistraksi karena hujan turun, dan anak-anak harus berlarian, mencari tempat berteduh.

Apalagi fenomena ini terjadi pada jenjang SMP, jenjang dimana seharusnya anak-anak bisa fokus dan belajar dengan nyaman, tanpa mengkhawatirkan apapun.

Pendidikan adalah salah satu bidang penting dalam menentukan masa depan bangsa, merupakan kebutuhan pokok setiap individu rakyat.  Sayangnya dalam  sistem kapitalisme, negara tidak berpihak penuh pada rakyat. Hal ini makin jelas ketika sekolah berdiri karena kebutuhan rakyat, namun negara tidak memfasilitasi ketersediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan pemerintahan kita? Ketika anak-anak bangsa mencoba untuk bersekolah, yang tentu bisa menjadi investasi negara di masa depan, pemerintah saat ini malah mempersulitnya. Apakah pemerintah kita tidak mau mencerdaskan anak bangsa, memajukan negara?

Negara memang sudah mengalokasikan anggaran Pendidikan.  Sayangnya dana sebenarnya sangatlah sedikit. Itupun hari ini ada banyak hal yang membuat dana tak dapat terserap sempurna, salah kelola, bahkan juga menjadi ajang korupsi, menambah angka kegiatan kriminal negara setiap tahunnya.

Apapun itu yang terjadi di belakang meja pemerintahan, semuanya masih abu-abu. Apakah ada intrik politik di balik semua ini, di balik ketidakadilan yang dirasakan rakyat, dan dibalik semua keputusan tidak bijaksana yang diambil oleh pemerintah.

Dari fenomena ini yang terjadi di negeri tercinta kita, apakah mungkin ada pihak di belakang pemerintah saat ini, yang sengaja menggunakan pemerintah kita sebagai pion, menggerakan mereka dari jauh, dari balik bayangan, agar negara ini berjalan sesuai keinginan mereka?

Kalau benar adanya, tentu mereka tidak ingin mencerdaskan anak-anak bangsa, bagaimana kalau anak-anak bangsa banyak yang cerdas, sehingga belasan tahun dari sekarang, negara ini akan memberontak dan memaksa lepas dari cengkraman mereka? Mereka tentu tidak mau hal itu terjadi.

Untuk apa mencerdaskan negeri yang dijajah, buang-buang tenaga. Esok lusa, negeri yang dijajah itu akan cukup cerdas untuk sadar dan memberontak. Malah jadi senjata makan tuan, iya kan?

Apapun itu, apakah kita semua yakin akan mempercayakan pendidikan dan masa depan anak-anak dengan pemerintah yang seperti ini?

Mungkin sebagian orang akan masa bodo, ah ini tidak seserius itu, ah nanti juga selesai, bersabar saja, kalau sudah ganti pemerintahan, pasti lebih baik. Tapi benarkah, kita akan menjadi orang tua yang seperti itu? Menggantungkan masa depan anak-anak terhadap konklusi, nanti juga selesai, bersabar saja?

Mau sampai kapan bersabar? Sudah berapa tahun negeri ini berdiri, dan katanya merdeka dari serangan penjajah?

Sudah bukan waktunya kita untuk bersabar dan acuh terhadap problematika negeri ini. Ini waktunya kita untuk mengganti sistem pemerintahan, bukan hanya mengganti pemerintahan. Kalau sistemnya tidak diganti, bagaimana akan menyingkirkan mereka yang berdiri di balik bayangan, menghentikan mereka untuk mengontrol negeri ini semau mereka?

Islam menjadikan Pendidikan sebagai salah satu bidang strategis untuk membangun peradaban yang maju dan mulia.

Pendidikan juga merupakan kebutuhan pokok rakyat yang wajib disediakan negara dengan anggaran yang bersifat mutlak.  Negara dalam islam adalah raain sehingga negara akan mengurusnya dengan cara terbaik sesuai tuntunan syara.  Negara mampu memenuhi kebutuhan anggaran, karena syara sudah menetapkan sumber-sumber pendapatan negara sesuai dengan sistem ekonomi Islam.

Mungkin sebagian orang akan merasa ide mengganti sistem ini sebagai ide yang bodoh, ide yang terlalu nekat, dan ide yang buat apa sih? Cape-cape.

Namun, apakah kalian yakin ide ini hanyalah ide yang bodoh, dan bukan menjadi jawaban atas semua masalah dalam negeri?

Abainya Pemerintah, SMP Negeri di Tengah Kota Bandung Tidak Memiliki Gedung

Gedung menjadi salah satu aspek yang paling penting sehingga kegiatan kita bisa berjalan dengan normal. Semua kegiatan-kegiatan yang menyongsong berjalannya kehidupan manusia dengan normal tentu membutuhkan gedung, tempat berteduh dari panas dan hujan. Sekarang, bagaimana anak-anak bisa bersekolah dengan benar tanpa khawatir takut kehujanan, kepanasan, kalau sekolah sendiri bisa sampai tidak memiliki gedung?
Fenomena ini terjadi di salah satu SMP negeri yang ada di Kota Bandung yakni SMPN 60 Bandung. Dalam sebuah video yang beredar, memperlihatkan suasana belajar KBM yang sedang berlangsung. Sekilas semua terlihat normal, sehingga orang-orang mulai menyadari ada yang janggal, lantaran dalam video KBM SMPN 60 Bandung tidak terlihat adanya kursi dan meja, seperti selazimnya sekolah. Terlihat, para siswa duduk lesehan beralaskan plastik terpal sambari menyimak materi yang dipaparkan oleh guru.
Setelah coba ditelusuri kebenaran video itu, ternyata benar adanya. Video itu memang menangkap suasana belajar di SMPN 60 Bandung.
“Benar, video itu siswa kami,” kata Rita Nurbaini, Humas SMPN 60 Bandung, dikutip dari detikJabar, Jumat (27/9/2024).
Sebetulnya, kata Rita, bukan tidak ada kursi dan meja untuk para siswa ini belajar. Kursi dan meja bantuan dari Disdik Kota Bandung ada tersimpan di teras sekolah. Kursi dan meja itu tidak digunakan karena siswa SMPN 60 Bandung menumpang di bangunan sekolah SDN 192 Ciburuy, Regol, Kota Bandung.
Dilansir dari laman detikJabar, bahwa sejak tahun 2018, SMPN 60 Bandung harus menumpang di gedung SDN 192 Ciburuy, Kecamatan Regol, Kota Bandung. Dengan jumlah siswa yang cukup banyak, sekolah ini memiliki sembilan rombongan belajar (rombel), tetapi hanya tujuh ruang kelas yang tersedia.
Kondisi tersebut memaksa dua rombel lainnya belajar di luar ruangan, baik di teras sekolah dengan beralaskan terpal plastik maupun di bawah pohon yang sering disebut ‘DPR’ (di bawah pohon rindang).
Rita mengatakan, kondisi seperti ini terjadi sejak 2018 atau sejak sekolah ini didirikan. “Sekolah ini didirikan karena keinginan masyarakat, di sini masyarakat padat dan banyak, jadi zonasi sudah berlaku untuk mengikuti zonasi dari sini ke SMP yang sudah ada seperti SMPN 11, 3 dan 10, jaraknya bisa 3-5 KM,” ungkapnya.
Enam tahun sudah SMPN 60 Bandung berdiri. Namun, sejak didirikan, sekolah tersebut tak memiliki bangunan sekolah sendiri. Hingga kini sebagian siswanya harus belajar di luar kelas demi mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).
Bagaimana hal ini bisa sampai terjadi? Seabai itu kah pemerintah kota Bandung sehingga salah satu sekolahnya bisa sampai tidak memiliki gedung? Pihak sekolah sendiri telah mengajukan permohonan gedung kepada Dinas Pendidikan Kota Bandung. Namun, hingga saat ini belum mengetahui pasti perkembangan permohonan permintaan tersebut. Hal ini menunjukan betapa abai dan tidak pedulinya pemerintah terhadap kualitas pendidikan negara. Sekarang, bagaimana caranya anak-anak bisa fokus belajar kalau setiap turun hujan, mereka harus berlarian mencari tempat berteduh, baru bisa kembali melanjutkan pembelajaran? Bayangkan hari-hari sekolah selama musim penghujan, Oktober hingga Maret. Tidak terbayangkan harus berapa kali Kegiatan Belajar dan Mengajar terdistraksi karena hujan turun, dan anak-anak harus berlarian, mencari tempat berteduh.
Apalagi fenomena ini terjadi pada jenjang SMP, jenjang dimana seharusnya anak-anak bisa fokus dan belajar dengan nyaman, tanpa mengkhawatirkan apapun.
Pendidikan adalah salah satu bidang penting dalam menentukan masa depan bangsa, merupakan kebutuhan pokok setiap individu rakyat. Sayangnya dalam sistem kapitalisme, negara tidak berpihak penuh pada rakyat. Hal ini makin jelas ketika sekolah berdiri karena kebutuhan rakyat, namun negara tidak memfasilitasi ketersediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan pemerintahan kita? Ketika anak-anak bangsa mencoba untuk bersekolah, yang tentu bisa menjadi investasi negara di masa depan, pemerintah saat ini malah mempersulitnya. Apakah pemerintah kita tidak mau mencerdaskan anak bangsa, memajukan negara?
Negara memang sudah mengalokasikan anggaran Pendidikan. Sayangnya dana sebenarnya sangatlah sedikit. Itupun hari ini ada banyak hal yang membuat dana tak dapat terserap sempurna, salah kelola, bahkan juga menjadi ajang korupsi, menambah angka kegiatan kriminal negara setiap tahunnya.
Apapun itu yang terjadi di belakang meja pemerintahan, semuanya masih abu-abu. Apakah ada intrik politik di balik semua ini, di balik ketidakadilan yang dirasakan rakyat, dan dibalik semua keputusan tidak bijaksana yang diambil oleh pemerintah.
Dari fenomena ini yang terjadi di negeri tercinta kita, apakah mungkin ada pihak di belakang pemerintah saat ini, yang sengaja menggunakan pemerintah kita sebagai pion, menggerakan mereka dari jauh, dari balik bayangan, agar negara ini berjalan sesuai keinginan mereka?
Kalau benar adanya, tentu mereka tidak ingin mencerdaskan anak-anak bangsa, bagaimana kalau anak-anak bangsa banyak yang cerdas, sehingga belasan tahun dari sekarang, negara ini akan memberontak dan memaksa lepas dari cengkraman mereka? Mereka tentu tidak mau hal itu terjadi.
Untuk apa mencerdaskan negeri yang dijajah, buang-buang tenaga. Esok lusa, negeri yang dijajah itu akan cukup cerdas untuk sadar dan memberontak. Malah jadi senjata makan tuan, iya kan?
Apapun itu, apakah kita semua yakin akan mempercayakan pendidikan dan masa depan anak-anak dengan pemerintah yang seperti ini?
Mungkin sebagian orang akan masa bodo, ah ini tidak seserius itu, ah nanti juga selesai, bersabar saja, kalau sudah ganti pemerintahan, pasti lebih baik. Tapi benarkah, kita akan menjadi orang tua yang seperti itu? Menggantungkan masa depan anak-anak terhadap konklusi, nanti juga selesai, bersabar saja?
Mau sampai kapan bersabar? Sudah berapa tahun negeri ini berdiri, dan katanya merdeka dari serangan penjajah?
Sudah bukan waktunya kita untuk bersabar dan acuh terhadap problematika negeri ini. Ini waktunya kita untuk mengganti sistem pemerintahan, bukan hanya mengganti pemerintahan. Kalau sistemnya tidak diganti, bagaimana akan menyingkirkan mereka yang berdiri di balik bayangan, menghentikan mereka untuk mengontrol negeri ini semau mereka?
Islam menjadikan Pendidikan sebagai salah satu bidang strategis untuk membangun peradaban yang maju dan mulia.
Pendidikan juga merupakan kebutuhan pokok rakyat yang wajib disediakan negara dengan anggaran yang bersifat mutlak. Negara dalam islam adalah raain sehingga negara akan mengurusnya dengan cara terbaik sesuai tuntunan syara. Negara mampu memenuhi kebutuhan anggaran, karena syara sudah menetapkan sumber-sumber pendapatan negara sesuai dengan sistem ekonomi Islam.
Mungkin sebagian orang akan merasa ide mengganti sistem ini sebagai ide yang bodoh, ide yang terlalu nekat, dan ide yang buat apa sih? Cape-cape.
Namun, apakah kalian yakin ide ini hanyalah ide yang bodoh, dan bukan menjadi jawaban atas semua masalah dalam negeri?

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update