Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tanpa Junnah Umat Islam Teraniaya

Thursday, September 12, 2024 | Thursday, September 12, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:38:28Z

Oleh: Hamsina Ummu Ghaziyah

 

Serangan pesawat nirawak atau drone terhadap warga Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar menewaskan puluhan orang, anak-anak. Beberapa saksi mata mengatakan, para korban selamat terpaksa harus mencari di antara tumpukan mayat untuk menemukan dan mengenali kerabat mereka yang tewas atau terluka. (Voaindonesia.com,10/8/2024)

 

Setidaknya 150 warga sipil dari minoritas muslim Rohingya di Myanmar diperkirakan tewas dalam serangan artileri dan pesawat nirawak (drone) di negara bagian Rakhine, Myanmar. Serangan dilakukan terhadap warga Rohingya yang mencoba melarikan diri dari pertempuran sengit di Kota Maungdaw dengan berupaya menyeberangi Sungai Naf untuk menyelamatkan diri ke Bangladesh.

 

Di saat yang bersamaan, Israel kembali memborbardir warga Palestina dengan menyerang sebuah sekolah yang menampung para pengungsi di dalamnya. Badan pertahanan sipil Gaza mengatakan, pada Sabtu (10/8), sedikitnya 90 orang tewas dalam serangan Israel terhadap sebuah sekolah yang menampung pengungsi di wilayah Palestina yang terkepung. Insiden ini juga dikatakan sebagai pembantaian yang mengerikan karena terdapat sejumlah jenazah terbakar.

 

Saat ini dunia telah menyaksikan berbagai konflik, penindasan, dan krisis kemanusiaan yang mendera umat muslim di beberapa negeri minoritas muslim. Krisis kemanusiaan yang menimpa muslim Rohingya di Myanmar dan Palestina di Timur Tengah adalah salah satu gambaran konflik kemanusiaan yang berlarut-larut tanpa ada penyelesaian hingga penderitaan dan penindasan terus terjadi.

 

Baik Palestina maupun Rohingya, memiliki sejarah panjang yang ditandai dengan kerusuhan politik dan diskriminasi. Muslim Rohingya merupakan etnis minoritas yang tinggal di negara bagian Rakhine, Myanmar. Sejak 1942, muslim Rohingya telah mengalami upaya pengusiran dari wilayah Arakan hingga saat itu terjadi pembantaian muslim Rohingya oleh pasukan pro Inggris. Dari pembantaian itu, setidaknya ada 100 ribu muslim Rohingya yang tewas dan ribuan desa hancur dalam tragedi berdarah tersebut. Sejak itu, muslim Rohingya hidup dalam ketakutan di tanah kelahirannya sendiri. Konflik demi konflik hingga penderitaan yang dialami muslim Rohingya masih terasa hingga saat ini.

 

Demikian halnya muslim Palestina, yang mengalami perampasan tanah dan pemindahan sejak kedatangan bangsa Israel ke Palestina. Hal ini kemudian mengakibatkan ratusan ribu warga Palestina harus mengungsi mencari tempat tinggal yang aman dan nyaman di tanah mereka sendiri. Sejak saat itu hingga kini, warga Palestina masih dihujani dengan berbagai serangan oleh tentara zionis Israel. Mereka kerap hidup dalam ketakutan, kelaparan, kehausan, dan pontang-panting mencari tempat perlindungan yang aman bagi mereka. Puncaknya, terhitung sejak serangan brutal di jalur Gaza pada 7 Oktober 2023 setidaknya telah menelan korban lebih dari 37.000 warga Palestina, dimana korban terdiri dari wanita dan anak-anak, dan 85.000 terluka parah menurut otoritas kesehatan setempat.

 

Melihat permasalahan yang tengah dihadapi kaum muslim saat ini, tentu tak terlepas dari penerapan sistem hidup yang bukan berasal dari Islam. Kaum muslim yang menjadi minoritas di negeri-negeri kufur pun kerap mengalami diskriminasi, penindasan, hingga pembunuhan. Bahkan, ajaran Islam dan simbol-simbol Islam pun menjadi bahan ejekan, Al-Qur’an dibakar, Rasulullah dihina, dan sebagainya. Potret demikian akan selalu kita saksikan, karena fakta saat ini kaum muslim telah kehilangan Junnahnya (perisainya) yang sejatinya adalah pelindung umat Islam. Semua berawal ketika runtuhnya Kekhilafahan Turki Utsmaniyah sejak tahun 1924. Sejak itu pula sistem Islam dihapuskan dan digantikan dengan sistem demokrasi-sekularisme dan semua itu tak terlepas dari peranan Mustafa Kemal Attaturk sebagai antek Inggris.

 

Di sisi lain, hadirnya negara-negara Barat mendukung penuh penyerangan yang dilakukan oleh Israel di antara negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat. Dakam hal ini, di antara negara-negara pendukung zionis Israel ini, Amerika Serikat merupakan otak dan aktor penting dalam konflik Israel-Palestina. AS dikenal dengan dukungannya yang tak tergoyahkan terhadap Israel. AS segera mengirim bala bantuan setelah Hamas membalas serangan Israel pada Oktober 2023 lalu. Mengutip US News, bala bantuan yang dikirim berupa kapal induk canggih dan terbaru dari angkatan laut. Selain itu, ada amunisi dan sejumlah peralatan canggih lainnya yang mempermudah Israel melancarkan serangannya ke Jalur Gaza. Bahkan, belum lama ini, Amerika Serikat mengucurkan bantuan senilai 3,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 55,8 triliun untuk memperkuat persenjataan dan peralatan militer Israel. (Republika.co.id)

 

Bagaimana dengan negara-negara Uni Eropa? Baik AS maupun Uni Eropa sama-sama mendukung adanya solusi dua negara dan mengutuk pelanggaran Israel atas Palestina. Namun, pada faktanya, baik AS maupun Uni Eropa, tetap menjaga hubungan baik dengan Israel dalam membantu memperkuat ekonomi negara tersebut lewat berbagai kesepakatan dagang. Kenyataan ini menyadarkan kita, bahwa negara-negara Barat tersebut menerapkan standar ganda dalam menangani konflik Israel-Palestina.

 

Keberadaan PBB sebagai badan dunia yang menjaga perdamaian dan keamanan global seharusnya bersikap objektif dan menegakkan hukum internasional secara adil. Namun, PBB sebagai badan kemanusiaan tidak mampu melindungi hak-hak rakyat Palestina. Bahkan, seringkali PBB mendapatkan kritikan tajam karena kegagalannya dalam penanganan konflik Israel-Palestina. Meskipun telah banyak tindakan yang dilakukan PBB dalam mengutuk dan mencela pelanggaran Israel terhadap hak asasi manusia di Palestina, namun tindakan nyata untuk menghentikan pelanggaran tersebut belum terlihat, bahkan serangan zionis Israel terhadap Palestina semakin membrutal.

 

Olehnya, dari sini kita bisa menilai keberpihakan negara-negara Barat terhadap Israel. Sebab, bagaimanapun mereka adalah penganut ideologi kapitalisme yang sama-sama mencari keuntungan dan saling menguatkan. Sementara, PBB sebagai badan kemanusiaan yang bertujuan memberi perlindungan dan keamanan dunia tudak mampu menghentikan perang Israel-Palestina. Karena, pada faktanya, PBB adalah badan dunia yang dikendalikan oleh Amerika Serikat.

 

Oleh karena itu, baik Palestina maupun Rohingya dan kaum muslim minoritas yang berada di negeri kufur, sama-sama membutuhkan perlindungan. Mereka butuh tentara dan pemimpin yang kuat untuk membebaskan mereka dari segala bentuk penindasan dan penjajahan. Bukan hanya sekadar bantuan makanan, obat-obatan, dan tempat tinggal.

 

Inilah akibat ketiadaan Khilafah sebagai pelindung kaum muslim yang kerap ditindas serta dihinakan kemuliaan dan kehormatannya. Musuh-musuh Islam bebas melakukan kebringasan, membunuh hingga menjajah tanah kelahiran mereka. Keberadaan negeri-negeri Islam pun tak berkutik, bahkan dikendalikan lewat perjanjian/kerjasama internasional. Belum lagi, adanya konsep nation state yang membuat lumpuh para pemimpin-pemimpin muslim di seluruh dunia.

 

Sungguh, nasib umat Islam sangat berbeda ketika di bawah naungan Khilafah Islam. Mereka akan hidup mulia dan dijaga kehormatannya. Hal ini sudah dirasakan oleh umat Islam tatkala Rasulullah saw. memimpin Daulah Khilafah di Madinah. Kaum muslim hidup dalam rasa aman, terlindungi, hak-hak mereka terpenuhi bahkan kesejahteraan menyelimuti mereka hingga saat Khilafah runtuh pada periode Khilafah Turki Utsmaniyah.

 

Untuk itu, sebagai muslim yang taat dan memiliki ikatan aqidah yang sama, wajib bersatu memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah Islam sebagai benteng perlindungan umat. Dengan memperjuangkan tegaknya aturan-aturan Islam dan menerapkannya dalam berbagai sendi kehidupan, maka umat Islam akan kembali memiliki Junnahnya( perisainya), yang akan melindungi mereka dari berbagai ancaman serta rongrongan dari musuh-musuh Islam dan kaum muslim.

 

“Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung”. ( HR. Al Bukhari )

 

Hadist di atas menunjukkan bahwa keberadaan seorang imam atau khalifah adalah Junnah atau perisai yang akan memberikan perlindungan bagi seluruh umat Islam dari segala marabahaya, keburukan, kezaliman, dan sejenisnya. Karenanya, ketika umat Islam tidak memiliki seorang imam atau Khalifah yang menjadi perisai mereka maka keberadaan kaum muslim akan tetap menjadi bulan-bulanan penjajah Barat. Oleh karena itu, untuk mengakhiri penderitaan umat, sudah saatnya kita sebagai pengemban dakwah berjuang menerapkan syari’at Islam agar terwujud Junnah atau perisai ditengah-tengah umat.

 

Wallahu A’lam Bishshowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update