Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lingkaran Setan Solusi Palestina

Saturday, September 28, 2024 | Saturday, September 28, 2024 WIB

Oleh: Annisa Nur Fitriani

Sejak 1948 Israel masuk ke tanah Palestina, sudah 76 tahun kaum muslim seluruh dunia dari berbagai negara hanya mengupayakan solusi yang berputar dalam lingkaran yang sama.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Puan Maharani menyuarakan keinginannya untuk menghentikan perang di Palestina dan daerah konflik lainnya. Pidato itu disampaikan di hadapan puluhan delegasi negara-negara Afrika dalam Forum Parlementer Indonesia Afrika (IAPF) 2024 di Nusa Dua, Bali, Minggu (1/9/2024).

Dalam pidatonya yang sekaligus membuka kegiatan tersebut, Puan mengingatkan peran parlemen untuk berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan global. Selain itu, dia menilai parlemen juga harus menghargai HAM dan menegakkan hukum.

Puan juga menegaskan niat untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina melalui forum kerjasama antara Indonesia dan Afrika. Selain itu, dia juga mendorong perdamaian di wilayah konflik lainnya seperti Ukraina yang terlibat perang dengan Rusia. Ia menambahkan bahwa penting untuk memperjuangkan kemerdekaan penuh Palestina serta menghentikan perang di Gaza, Ukraina, dan berbagai daerah yang mengalami perang dan konflik.

Hal yang sama juga diutarakan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Dia mengungkapkan hal yang senada dengan yang disampaikan Puan. Namun, Retno juga menegaskan peran parlemen untuk memobilisasi tekanan publik internasional dalam upaya mengakhiri genosida di Palestina. Ia menyatakan bahwa dalam konteks Palestina, Parlemen memiliki peran penting dalam memanfaatkan jaringan parlemen untuk menggerakkan tekanan publik internasional demi menghentikan agresi dan genosida di Palestina.

Dari mulai tingkat kepala negara (presiden maupun perdana menteri) hingga rakyat sekalipun, hanya menyuarakan solusi Palestina tidak akan jauh dari sekedar menyerukan kemerdekaan dan perdamaian dunia. Paling jauh lagi-lagi lari ke PBB yang dianggap sebagai polisi dunia, atau Pengadilan Mahkamah Internasional yang dianggap sebagai hakimnya dunia. Namun hasilnya tetap saja nol besar.

Hanya berputar soal solusi dua negara (_two nation state solution_), boikot produk-produk yang berafiliasi maupun yang langsung dari Israel, cukup ucapkan kecaman, himbauan untuk menahan diri, kutukan dan hal-hal lain yang sama sekali tidak menghilangkan akar masalah.

Padahal dengan logika sederhana, cara menghilangkan pencuri dari dalam rumah tentu dilawan dengan fisik, baik itu fisik yang dimiliki pemilik rumah, maupun bantuan fisik tetangga sekitar untuk menghilangkan gangguan dan keberadaan dari si pencuri tersebut. Hanya saja hal itu tak sama sekali dilakukan oleh para pemimpin dari berbagai negeri muslim untuk menurunkan militernya agar bisa membebaskan Palestina.

Hal ini dengan sangat jelas disebabkan oleh adanya konsep Nasionalisme yang membuat kaum muslim tersekat menjadi sekitar 50 negara. Alih-alih satu tubuh, nyatanya termutilasi tanpa perduli rasa sakit bagian tubuh lain. Belum lagi dirongrong dengan bercokolnya kapitalisme sebagai ideologi sekaligus sistem yang diemban seluruh negeri Islam, maka sudah lengkap kerusakan umat Islam saat ini.

Ditambah lagi, sayangnya kaum muslim yang sudah tergerak membela Palestina pun, terbawa gelombang yang sama soal solusi Palestina, yakni lagi-lagi bukan kepada Islam, namun konsep yang sudah ditawarkan Barat. Maka, sesungguhnya solusi hakiki yang seharusnya disuarakan dan diperjuangkan oleh kaum muslim hanyalah satu, yaitu kembali kepada kehidupan Islam dengan menegakkan Syariah dalam naungan Khilafah.

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (QS. Al-Maidah: 50).

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update