Oleh Tutik Haryanti
Pegiat Literasi
Kabar mencengangkan datang dari dunia kesehatan. Terdapat banyak anak Indonesia yang terdeteksi mengalami gagal ginjal, dan harus menjalani cuci darah.
Dikutip dari laman healty.detik.com (06/08/2024), Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengungkapkan ada sekitar 60 anak rutin mendatangi Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM). Hal ini karena anak-anak tersebut memiliki kondisi gagal ginjal.
Dinkes DKI mencatat, pada 2023 ada 439 kasus gagal ginjal pada anak. Data ini berdasarkan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Online Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes).
Sebenarnya apa yang menjadi penyebab anak-anak terkena gagal ginjal ? Lantas adakah solusi bagi masyarakat, agar senantiasa terjaga kesehatan dan keamanan makanan minumannya, terutama pada anak-anak?
Berawal dari Pola Hidup
Saat ini masyarakat cenderung memilih pola hidup yang serba instan. Termasuk dalam hal memilih makanan. Makanan cepat saji menjadi pilihan pertama bagi mereka yang malas gerak (mager). Apalagi saat ini menu olahan cepat saji banyak dijual bebas di masyarakat. Seperti, minuman dan makanan kemasan yang mengandung pemanis, pewarna, perasa buatan, yang membahayakan bagi kesehatan.
Sebagaimana ditemukannya salah satu merk roti yang sedang viral di masyarakat, mengandung zat berbahaya yakni bahan pengawet kosmetik sodium dehydroacetate.
Para ahli kesehatan menjelaskan, bahwa sebenarnya makanan cepat saji mengandung tinggi gula. Ketika makanan dan minuman tersebut dikonsumsi secara berlebihan, maka dapat meningkatkan gula darah dalam tubuh. Tingginya gula darah inilah yang menimbulkan penyakit diabetes. Apabila penyakit diabetes sudah pada tahap kronis, maka penderita akan mengalami gagal ginjal, sehingga perlu tindakan cuci darah.
Di sisi lain, faktor kemiskinan juga memengaruhi kesehatan. Masyarakat yang hidup dengan kondisi pas-pasan tentunya akan memilih makanan yang murah meriah asal mengenyangkan. Hal ini disebabkan melonjaknya harga kebutuhan pangan. Sehingga kondisi masyarakat ekonomi bawah tak mampu menjangkau akses pangan yang bergizi.
Demikian pula rendahnya pengetahuan dan literasi masyarakat, ditambah cara berpikir pragmatis, membuat mereka lebih memilih makanan instan.
Demi Keuntungan
Makanan instan memang lebih disukai anak-anak, semisal burger, pizza, sosis, nuget, kentang goreng dan sejenisnya. Serta minuman-minuman dalam kemasan yang mudah ditemukan di warung dekat rumah. Di samping harganya terjangkau, rasanya juga tak kalah enak di lidah anak-anak. Permintaan konsumen pun jadi meningkat. Ini membuat produsen berlomba-lomba memroduksi makanan dan minuman dengan berbagai varian, yang membuat anak-anak makin tertarik untuk mencoba.
Tentu bagi pelaku industri ini menjadi bisnis yang menjanjikan. Sehingga mereka memroduksi sebanyak-banyaknya, meski mengabaikan aspek kesehatan dan keamanan masyarakat. Bagi pebisnis dalam kapitalisme, keuntungan provit menjadi prioritas utama.
Inilah konsekuensi dari kapitalisme. Produsen akan mencari untung sebanyak-banyaknya, meskipun konsumen dirugikan. Demi keuntungan yang banyak, mereka tidak lagi mempertimbangkan kesehatan dan keamanan masyarakat.
Negara Abai
Terciptanya kesehatan dan keamanan pada makanan dan minuman yang dikonsumsi masyarakat, menjadi tanggung jawab pemerintah atau negara. Negara harus segera turun tangan dalam mengatasi, maraknya penyakit gagal ginjal yang terjadi pada remaja dan anak-anak.
Sayangnya, negara abai dalam memberikan pelayanan terbaik tersebut. Makanan dan minuman yang beredar berkadar gula tinggi lolos dari pengawasan. Harusnya negara memberikan kontrol terhadap kadar gula pada makanan dan minuman yang diedarkan di pasaran, serta mencukupi nilai gizinya.
Sejatinya, negara harus segera bergerak cepat dan tegas. Agar generasi terhindar dari penyakit diabetes dan gagal ginjal. Negara sebenarnya sudah menetapkan kebijakan dengan program Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM), Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), regulasi kandungan garam, gula, lemak yang aman dikonsumsi, regulasi gizi makanan pada kemasan, cukai produk minuman manis, pembatasan iklan makanan dan minuman tinggi gula. Namun, kebijakan ini tidaklah efektif bila pola dan gaya hidup tidak berubah.
Beginilah, negara kapitalisme tak mampu memberikan solusi tuntas atasi permasalahan makanan halal dan thoyyib.
Islam Mengatur Makanan Halal dan Thoyyib
Islam adalah agama yang sangat sempurna, hadir dari Yang Maha Sempurna Allah Swt. Juga bukan saja mengatur di ranah peribadatan, tetapi juga mampu menyelesaikan semua permasalahan hidup, termasuk mengatur makanan halal dan thoyyib.
Bagi kaum Muslim mengonsumsi makanan halal dan thoyyib, menjadi persoalan yang sangat penting. Sebab, Islam mengatur masalah ini secara rinci, mulai cara mendapatkan makanan tersebut, bagaimana memilih makanan yang halal dan thoyyib, serta bagaimana tata cara makan sesuai yang dicontohkan Rasulullah saw. Agar semua makanan dan minuman yang dikonsumsi menjadi berkah, menjadikan sehat tubuh lahir maupun batin.
Untuk itu Islam memiliki solusi agar masyarakat dapat mengonsumsi makanan halal dan thoyyib dengan mudah. Pertama, negara akan menjamin kesejahteraan masyarakat. Yakni, memberikan kemudahan dalam memperoleh bahan pangan. Negara akan memastikan harga pangan tetap stabil dan terjangkau oleh masyarakat.
Kedua, negara membuat regulasi agar industri makanan dan minuman tetap menjaga kadar bahan makanan, tidak mengandung bahan yang haram dan berbahaya.
Ketiga, memberikan edukasi agar masyarakat selektif dalam memilih makanan dan minuman, bukan saja halal tetapi thoyyib, tidak berbahaya bagi kesehatan organ tubuh. Allah Swt. berfirman,
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ – ١٦٨
Artinya: “Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Keempat, negara menindak tegas kepada industri atau pelaku usaha, pedagang atau siapapun tanpa terkecuali, yang berani berbuat curang. Memasukkan zat berbahaya pada makanan minuman. Maka, akan diberikan sanksi yang membuat mereka jera.
Kelima, memberikan kemudahan pelayanan kesehatan secara murah bahkan gratis. Sehingga masyarakat dapat melakukan pengecekan kadar gula darah, kolesterol dan lainnya secara berkala. Bagi yang memerlukan tindakan seperti cuci darah akibat gagal ginjal atau penyakit lain yang sifatnya urgen, maka diberikan prioritas.
Demikian, negara Islam dalam menjamin masyarakat agar tidak kesulitan dalam mendapatkan makanan minuman yang halal dan thoyyib. Sangat berbeda di negara kapitalisme.
Khatimah
Dengan begitu masyarakat Islam secara lahiriah maupun batiniahnya akan selalu terjaga kesehatannya. Sehingga dalam menjalankan aktivitas ibadah maupun muamalah dapat berjalan dengan maksimal. Semua ini akan dapat terwujud dengan penerapan syariah secara kafah dalam Daulah Islamiyah.
Wallahualam bissawab.
No comments:
Post a Comment