Oleh: Linda Ariyanti, A.Md
(Tenaga Pendidik & Aktivis Dakwah)
Baru-baru ini, dunia pendidikan kembali berduka. Dikutip dari laman CNN Indonesia — Seorang mahasiswi program kedokteran spesialis di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, ditemukan tewas di indekosnya. Ia diduga bunuh diri karena mengalami perundungan. Polisi menemukan jasad mahasiswi itu pada Senin (12/8) pukul 23.00 WIB. Mereka menemukan buku harian yang mengungkapkan bahwa korban mengalami masa sulit selama kuliah kedokteran.
Kabar duka juga datang dari kampus UGM. Seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meninggal bunuh diri di kamar indekosnya di Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Senin (12/8). UGM membenarkan adanya perisitwa ini. (Kumparan.com, 13/08/2024). Kasus serupa juga terjadi di berbagai kampus lainnya, tak hanya di pulau Jawa tapi terjadi pula di kampus Sumatera.
Mahasiswa Tercekik Berbagai Polemik
Maraknya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa dengan sebab yang beragam, mulai dari perundungan, persoalan asmara, depresi, hutang pinjol, hingga tekanan dalam proses belajar di kampus, menunjukkan bahwa kehidupan mahasiswa hari ini penuh dengan berbagai masalah. Semua ini berkaitan erat dengan kerusakan pada sistem pendidikan hari ini.
Sekulerisme sebagai asas kehidupan juga asas dibangunnya sistem pendidikan di negeri ini, nyatanya telah menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak manusiawi. Yang kaya menindas yang miskin, yang kuat menindas yang lemah, yang pintar menghina yang lambat dalam berfikir. Sistem pendidikan hari ini hanya berkutat pada capaian materi. Lulus bekerja atau berwirausaha, tanpa memperhatikan sisi manusiawi yang harus dijaga yakni kepribadian seorang mahasiswa.
Mewujudkan Kepribadian Islam
Islam dibangun atas dasar satu aqidah yakni mengimani Allah SWT sebagai pencipta dan pengatur kehidupan. Islam memiliki aturan yang paripurna terhadap seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Paradigma pendidikan dalam Islam akan mewujudkan output yang beriman dan bertaqwa, memiliki kepribadian Islam, serta ahli dalam sains dan teknologi.
Seluruh masyarakat kampus akan memahami bahwa Islam melarang keras perilaku merendahkan orang lain. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۚ وَلَا تَلْمِزُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَا بَزُوْا بِا لْاَ لْقَا بِ ۗ بِئْسَ الِا سْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِ يْمَا نِ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 11). [Wallahualam bissawab]
No comments:
Post a Comment