Oleh : Gien Rizuka
Sempat berseliweran di sebuah fyp sejumlah selebritas turun dari pesawat di sebuah bandara. Mungkin video ini tidak asing, namun setelah ditelisik, ternyata mereka sedang mendarat di bandara Kalimantan.
Kunjungan mereka ke sana tidak lain dalam rangka memenuhi undangan presiden yang ingin mengajak mereka berkunjung ke Ibu Kota Negara (IKN). Bahkan, Jokowi dan mereka berangkat bersama.
Menurut berita, keberangkatan mereka ditanggung negara. Hal ini pun menuai pro-kontra dari sejumlah masyarakat. Bagaimana tidak, ada pun komentar kontra dari masyarakat, menyayangkan atas sikap kepala negara. Ketika kian banyak rakyat yang kelaparan, di sisi lain pemerintah malah menggunakan uang rakyat untuk hal yang tidak terlalu urgent.
Bahkan, yang lebih mengiris hati. Ada ungkapan dari salah menteri tatkala ia menanggapi sebuah komentar dari masyarakat tentang berita Jokowi mengajak beberapa influencer terbang ke IKN yang disinyalir memakai uang rakyat. Menteri tersebut (Moeldoko) beranggapan bahwa sebuah kewajaran menggunakan uang rakyat demi merayakan kemerdekaan. Di manakah letak hati nurani mereka pada rakyat?
Pantas, kebanyakan masyarakat di hari ini susah untuk diatur karena para pejabat sendiri tak berempati pada mereka. Rakyat terus dipungut dengan dengan berbagai metode yang keuntungannya pun dibuat seakan bakal kembali ke rakyat, padahal sejatinya dipergunakan hanya demi melancarkan agenda-agenda para pejabat.
Pasalnya, diundangnya dan pelayanan super mewah yang diberikan negara kepada sejumlah influencer ternama di IKN, kita bakal tergambar kemana arah pemerintah selanjutnya pasca mereka berkumpul di sana. Obrolan mereka tentu tidak jauh dari seputar pembangunan IKN yang sempat mangkrak.
Ini artinya kita masih dalam masa penjajahan. Mengapa demikian? Sebab kita belum merdeka sepenuhnya. Dalam penjajahan fisik kita memang bisa disebut aman, namun penjajahan pemikiran sungguh di luar dugaan. Pasalnya, penjajahan pemikiran sedang berjalan di negara ini, yakni pemikiran sekularisme -kapitalisme.
Pemikiran batil ini hingga kini merasuki jiwa-jiwa penghuni nusantara, tak terkecuali pemikiran para pejabatnya. Maka tak heran pemerintah lebih mengedepankan menggaet investor lokal daripada perasaan rakyat. Hal ini demi mengembangkan IKN sebagai icon negara yang mereka yakin mampu mengendalikan ekonomi negara, tentu hasilnya pun bukan untuk rakyat.
No comments:
Post a Comment