Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KAPITALISME MATIKAN NALURI IBU

Saturday, August 31, 2024 | Saturday, August 31, 2024 WIB

Oleh: Anggraini Arifiyah

Pendidik Generasi dan Aktivis Dakwah Islam Kaffah

Di lansir dari kompas.com, 14 Agustus 2024 — Empat perempuan di Kabupaten Deli, Serdang Sumut, telah diringkus oleh Satreskrim Polrestabes Medan. Mereka didapati terlibat jual beli bayi seharga Rp. 20 juta. Menurut Wakil Kepak Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Medan, Ajun Komisaris Madya Yustandi, kasus ini terungkap berawal dari adanya informasi masyarakat bahwa adanya rencana transaksi bayi yang baru dilahirkan di sebuah RS. Percutseituan pada 6 Agustus 2024.

Dengan adanya informasi tersebut maka petugas melakukan penyelidikan dan akhirnya tertangkap seorang ibu rumah tangga berinisial SS (27 tahun) sedang menjual bayinya Rp. 20 juta melalui perantara MT (55 tahun) kepada Y (56 tahun) dan NJ (40 tahun). Diakui oleh SS bahwa ia menjual bayinya yang baru lahir Rp. 20 juta dan MT rencana diupah Rp. 3 juta. Adapun alasan SS menjual bayinya yakni karena kesulitan ekonomi. Sementara pembeli bayi ibu karena memang belum memiliki anak.

Miris, saat ini kehidupan kapitalisme telah menggerogoti kewarasan sang ibu, telah merubah sifat alami manusia dan telah membuat manusia menyingkirkan kodrat aslinya. Kita dapat melihat bahwa dari kasus ini, seorang ibu yang telah melahirkan anaknya sendiri tega untuk menjual anaknya dan berpisah dari darah dagingnya sendiri, dengan alasan terimpit ekonomi. Alasan ini pula yang menjadi penyebab sulitnya memenuhi kebutuhan hidup. Dengan begitu, ibu tersebut tidak mampu secara ekonomi untuk membiayai kebutuhan hidup anaknya. Yang menjadi pertimbangan adalah mulai dari makanan ibu yang harus sehat agar ASI untuk anaknya lancar dan sehat, kebutuhan popok serta kebutuhan makanan dan pakaian untuk anaknya yang juga harus dipenuhi.

Tidak dapat dipungkiri dengan mahalnya biaya hidup ini adalah akibat dari penerapan sistem Kapitalisme. Karena sejatinya kapitalisme selalu mengedepankan materi dan meraih keuntungan sebesar-besarnya. Salah satunya adalah pengelolaan SDA (Sumber Daya Alam) yang diserahkan kepada individu (para pemilik modal). Sistem Kapitalisme membebaskan individu bermodal mengelola SDA, seperti tambang, emas, batu bara, minyak, gas dan lain-lain. Alhasil, SDA yang seharusnya dikelola oleh Negara, yang hasilnya harusnya diberikan kepada rakyat, malah didapatkan oleh para pemilik modal yang keuntungannya hanya untuk segelintir orang.

Inilah penyebab mahalnya biaya hidup, karena SDA itu sendiri dipakai untuk meraih keuntungan oleh para pemilik midal. Padahal seharusnya SDA dikelola oleh Negara, yang di mana hasilnya diberikan kepada rakyat dengan harga murah, sehingga tidak mempersulit rakyat, bahkan gratis. Karena memenuhi kebutuhan rakyat adalah tanggung jawab Negara.

Bukan hanya itu saja, sulitnya seorang suami mendapat pekerjaan juga salah satu faktor rendahnya ekonomi di kalangan masyarakat. Bahkan mengakibatkan kemiskinan yang berkepanjangan. Karena faktanya, untuk bisa bekerja ternyata mempunyai syarat yang tinggi jika ingin mendapat gaji yang tinggi, salah satunya adalah berpendidikan tinggi. Namun tidak bisa dienyahkan, kebutuhan hidup mahal bahkan tak jarang harganya selalu naik. Itulah penyebab masyarakat sulit, gaji yang minim tidak bisa memenuhi kebutuhan, ingin gaji tinggi pun harus berpendidikan tinggi terlebih dahulu agar mendapat pekerjaan dan gaji yang layak. Sedangkan pendidikan dalam sistem Kapitalisme juga memerlukan biaya.

Sulitnya hidup dalam sistem Kapitalisme yang serba materi, para kapitalis menggunakan berbagai cara untuk bisa meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan mengeluarkan modal seminim mungkin. Rakyat pun menjadi korban ketidakpedulian penguasa yang sejatinya hanya mengeruk keuntungan dari rakyatnya, bukan malah menjalankan kewajibannya sebagai pengurus seluruh rakyat.

Berbeda dengan sistem Islam. Negara tidak akan membiarkan SDA dikelola oleh individu, karena SDA merupakan milik umum. Negara akan mengelola SDA sendiri dan hasilnya diberikan kepada rakyat. Negara dan pemimpin dalam sistem Islam sadar bahwa apa yang dipimpinnya adalah amanah yang harus dijaga dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang ia pimpin.

Islam menjadikan Negara wajib mewujudkan kesejahteraan per individu. Islam juga memiliki sistem pendidikan yang mencetak individu yang beriman dan bertakwa, dengan menanamkan aqidah bahwa Allah menjamin segala urusan hambanya, termasuk rezekinya. Selain itu, Islam juga mengajarkan agar sabar dalam menghadapi ujian, menjauhi kejahatan dan saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.

Wallahu’alam bish-showwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update