Oleh : Ipayanti
Mengejutkan, Indonesia tercatat menjadi juara 1 tingkat pengangguran tertinggi di Asia Tenggara. Setelah beberapa waktu lalu menjuarai judi online, kali ini juara 1 juga disabet Indonesia. Sayangnya juaranya bukan juara prestasi gemilang. Sungguh menyedihkan. Oh
Negeri ini konon kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Namun bak ayam mati di lumbung padi, demikian nasib rakyat ini, kekurangan di tengah keberlimpahan. (Infografis.okezone..com, 21/07/2024)
Tingginya angka pengangguran membuat kita berpikir, sebenarnya apa yang terjadi sekarang ini. Pengangguran tinggi, artinya banyak orang yang tidak punya pekerjaan dan membutuhkan pekerjaan. Padahal setiap hari orang membutuhkan makan dan minum, tempat tinggal yang layak, membutuhkan uang untuk biaya kesehatan, berobat saat sakit, membutuhkan kendaraan untuk bepergiaan, dan butuh membayar ini dan itu iuran-iuran. Apa yang terjadi ketika pemasukan tidak ada? Orang akan mencari jalan agar dapat uang. Orang yang lemah iman akan berusaha mencari penghasilan dengan cara-cara instan dan cepat tidak peduli halal haram, melanggar agama dan berdosa. Atau ketika orang yang lemah iman akan melampiaskan kepenatan hidup karena sulitnya mencari kerja dengan mengkonsumsi narkoba dan perbuatan negatif lainnya yang bisa merusak dirinya.
Keimanan yang lemah ditambah aturan yang mempersulit untuk mendapatkan kerja, menunjukkan kegagalan negara dalam menciptakan lapangan pekerjaan untuk rakyatnya. Kebijakan yang salah strategi menyebabkan deindustrialisasi, yakni suatu kondisi dimana industri tidak lagi mempunyai peran sebagai basis pendorong utama perekonomian suatu negara. Kebijakan salah strategi juga menyebabkan lulusan sekolah kejuruan dan perguruan tinggi tidak terserap dalam dunia kerja, sementara tenaga kerja asing mudah masuk ke dalam negeri.
Pengelolaan Sumber Daya Alam ala kapitalisme telah mengakibatkan tenaga ahli dan tenaga kerja diambil dari negara asing, akibatnya rakyat sendiri kehilangan kesempatan kerja, sampai mereka menjadi TKI ke negara lain. Merantau ke luar negeri meninggalkan keluarga di negerinya sendiri. Mereka menjadi pahlawan penyumbang devisa. Banyak juga tenaga ahli yang memilih ke luar negeri karena di negeri sendiri tidak dihargai dan diapresiasi.
Sangat berbeda dengan sistem Islam.
Islam mewajibkan negara untuk mengurus/meriayah rakyatnya dengan penuh tanggung jawab, termasuk menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup melalui berbagai kebijakan yang mendukung, seperti pengelolaan Sumber Daya Alam secara mandiri dan tidak diserahkan kepada asing. Pengelolaan SDA secara mandiri itu akan membuka banyak lapangan kerja. Negara juga mendukung rakyat memberikan bantuan modal untuk rakyat yang tidak punya pekerjaan. Pemberian bantuan itu dilandasi kejujuran dan bebas dari korupsi, tidak ada potongan-potongan dan tidak ribet administrasi. Dengan berbagai kebijakan dan upaya itu rakyat akan merasa diurusi oleh negara.
Begitulah seharusnya, seperti disebutkan dalam hadist Bukhari dan Muslim bahwa “Imam/Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya.” [Hr. Bukhari dan Muslim]. Begitu berat tugas seorang pemimpin karena di akhirat nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas semua yang dilakukan.
Allahu ‘alam bishowab.
No comments:
Post a Comment