Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tawuran Cari Cuan, Generasi Kian Meresahkan

Wednesday, July 10, 2024 | Wednesday, July 10, 2024 WIB

Oleh: Hildayanti

 

Tawuran, suatu fenomena remaja yang masih meresahkan masyarakat sampai sekarang. Setiap tahun, bukannya mereda, justru makin parah kondisinya. Ditemukan di beberapa daerah di Indonesia, tawuran sengaja dijadikan siaran langsung di Instagram oleh kelompok remaja sendiri. Mereka sengaja memviralkan video temannya yang sedang tawuran untuk mendapatkan uang dari media sosial.

Salah satu kasus yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dilansir dari Detik News, dari Jakarta – Aksi tawuran lagi-lagi pecah di Jalan Basuki Rahmat (Bassura), Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Dugaan sengaja buat mencari cuan melalui medsos pun muncul dibalik terjadinya aksi tawuran.

Tawuran masa kini dilakukan dengan cara kekinian, bahkan untuk mendapatkan cuan. Hal ini menunjukkan rusaknya generasi dan menunjukkan betapa kebahagiaan yang hanya berdasar materi telah menghujam kuat dalam diri masyarakat. Kebahagiaan ini diraih dengan menghalalkan segala cara. Di sisi lain, menggambarkan betapa gagalnya sistem pendidikan mencetak generasi berkualitas. Generasi muda yang dihasilkan adalah generasi sekuler.

Selain dijadikan konten, para remaja yang ikut tawuran pun makin banyak yang mengonsumsi minuman keras dan narkoba agar saat menjalani aksinya mereka seperti tidak memiliki rasa takut. Di samping itu, senjata tajam seperti parang, celurit, belati hingga golok banyak ditemukan di tempat kejadian.

Lantas, mengapa angka tawuran makin naik? Apa yang menyebabkan anak-anak remaja makin tidak takut melakukan kekerasan dan kejahatan? Apa yang salah dan bagaimana agar remaja kembali menjadi generasi yang diharapkan bangsa?

Sekularisme, sebuah paham yang berasal dari negara barat telah mempengaruhi pemikiran gen Z di negara kita. Paham ini menyatakan bahwa agama tidak boleh ikut campur dalam mengatur kehidupan masyarakat. Agama hanya untuk mengatur ibadah ritual saja.

Jadilah masyarakat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, termasuk para remaja. Tawuran yang seharusnya dihilangkan, malah diviralkan di media sosial. Hal ini disebabkan karena standar kebahagiaan bagi mereka ada materi atau cuan.

Sistem pendidikan yang asasnya hanya berdasarkan manfaat saja tidak akan pernah mampu untuk melahirkan anak yang berkualitas kepribadiannya. Padahal esensi dari pendidikan adalah membentuk karakter anak. Terbukti, sistem sekularisme kapitalis menciptakan generasi yang memahami bahwa uang adalah segalanya dalam hidup. Mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kenikmatan sesaat. Kebebasan berperilaku ini sangat jauh dari kharakter anak yang berkualitas.

Lebih lanjut, sekularisme melahirkan liberalisme. Paham ini menjadikan manusia bebas melakukan segala sesuatu yang ia senangi hingga puas. Ia tidak peduli andai perbuatannya menzalimi orang karena yang ia pikirkan hanyalah kesenangannya sendiri. Dengan begitu, mereka tidak merasa takut memukul bahkan menusuk temannya yang ia anggap musuh tawurannya. Mereka pun tidak takut untuk meminum minuman keras dan narkoba, padahal telah jelas keharamannya.

Pendidikan Sekuler

Tawuran yang kian mengerikan dan meresahkan ini sejatinya satu gambaran kegagalan sistem pendidikan sekuler dalam mencetak generasi berkualitas. Sistem yang menjauhkan agama dari kurikulumnya ini telah menjadikan generasi muda tumbuh tanpa iman dan takwa.

Energi besar yang dimiliki kaum muda nyatanya mengalir pada aktivitas-aktivitas yang tidak berguna. Tawuran bukanlah satu-satunya kenakalan remaja yang lahir dari rahim sistem pendidikan sekuler. Di luar sana marak juga pergaulan bebas, aborsi, geng motor, narkoba hingga kenakalan/kejahatan remaja, semua tumbuh subur bak jamur pada musim hujan.

Sistem pendidikan sekuler yang hanya berorientasi akademik juga menyebabkan para peserta didik fokus pada dirinya sendiri. Dogma atas “nilai yang bagus agar bisa bekerja di tempat bonafide” sudah terlalu mengakar, tanpa peduli caranya halal atau haram. Semua itu mereka lakukan hanya demi capaian materi. Itulah gambaran kebahagiaan yang terus ditanamkan pada pelajar.

Lebih parahnya lagi, sistem pendidikan sekuler telah gagal menanamkan tujuan hidup pada seseorang. Akibatnya, para pelajar tidak memiliki tujuan kuat di balik fitrah penciptaan mereka. Kondisi ini menjadikan para pelajar mudah stres dan gamang dalam menghadapi persoalan hidup. Banyak pelajar yang juga terserang kesehatan mentalnya sehingga mereka mudah terbawa pada arus negatif, termasuk tawuran.

Jauhkan Tawuran dengan Islam

Agar pemuda mampu menyalurkan kekuatan dan segala potensinya sebagai agen perubahan serta anti tawuran, kepribadian Islam harus dilahirkan di benak setiap individu. Kepribadian Islam hanya akan terwujud melalui sistem yang menggunakan agama sebagai pedoman dan tidak memisahkannya dari peraturan kehidupan yakni sistem Islam.

Islam memiliki sistem pendidikan terbaik berbasis akidah Islam yang terbukti berhasil melahirkan generasi berkualitas yang menjadi agen perubahan dan membangun peradaban yang mulia. Dalam hal ini, negara memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkannya.

Tujuan pendidikan yang ingin diraih yaitu mewujudkan kepribadian Islam agar setiap peserta didik memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Dalam Islam pun ilmu dan tsaqofah yang dipelajari untuk diamalkan bukan hanya sekedar teori belaka. Sehingga generasi yang lahir memiliki akidah dan iman yang kokoh, tidak mudah terbawa arus, kepribadian islam yang menancap kuat serta mumpuni dan cerdas di bidang-bidang keilmuannya.

Sistem sanksi yang memberi efek jera akan diterapkan pula oleh negara. Setiap remaja baligh saat terbukti melanggar peraturan, akan dihukum sesuai jenis pelanggarannya. Misalnya terdapat sanksi qishas yang nantinya akan diberikan saat seseorang terbukti melukai dan membunuh orang.

Melalui penerapan syariat islam secara total inilah, kekuatan dan segala potensi pemuda akan dibina dan dimaksimalkan untuk Allah dan agama Islam. Melahirkan generasi terbaik pembangun peradaban mulia. Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update