Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sawah Kering, Bikin Pusing

Wednesday, July 24, 2024 | Wednesday, July 24, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:41:39Z

Oleh Fira

(Mahasiswi Telkom University)

Pihak PT Kreasi Papan (KP) angkat bicara terkait debit Yang mulai berkuramg di sumber mata air Cihampelas, kampung Sukahayu RW 10, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Budi yang merupakan direktur operasional PT KP debit air di sumber mata air cihampelas mengatakan telah mengambil langkah dengan cara mendistribusikan air tidak secara bergiliran setiap hari ke ratusan warga desa cinunuk. Pendistribusian air tersebut tidak hanya kepada masyarakat pengguna gratis tetapi berlaku juga kepada masyarakat pengguna perbayar. Ketika narasumber dari kejakimpolnews..com bertanya kepada direktur operasional PT KP mengenai irigasi di sekitar sawah mulai mengering karena dampak dari debit air yang mulai berkurang di sumber mata air cihampelas beliau enggan berkomentar, beliau berkata yang pastinya pihak PT KP juga distribusi air ke irigasi untuk pertanian dialirkan dari sumbernya.

Dampaknya, selain irigasi kering kerontang yang hanya dipenuhi rumput dan hektaran sawah kini kekeringan, air Cihampelas yang didistribrusikan ke banyak warga oleh PT Kreasi Papan secara gratis harus bergiliran. Diketahui, mata air Cihampelas yang merupakan sumber daya alam (SDA) yang airnya jernih dan layak minum serta andilnya besar untuk pertanian telah lama “dikelola” PDAM Tirta Raharja Kabupaten Bandung dan PT Kreasi Papan. Termasuk satu perusahaan lain dan perorangan. Baik oleh PDAM, PT Kreasi Papan atau pun perorangan, air
Cihampelas ini dengan membuat pipa jaringan disalurkan ke banyak warga pengguna air. Bahkan konon katanya sebagian air ini “dijual”. Melihat kondisi dimana debit air Cihampelas berkurang, irigasi kering patani dan warga menjerit
butuh air sejumlah harus segera turun tangan untuk mengatasi. Termasuk pihak PDAM dan Kreasi Papan bagaimana langkahnya,” kata sejumlah warga Cibolerang dan Sukahayu.

Faktanya, pengelolaan sumber air di dunia selama ini belum berangkat dari paradigma air sebagai salah satu hak dasar alias kebutuhan primer bagi masyarakat. Aroma kapitalisasi dan eksploitasi air makin lama makin menguat dengan diserahkannya berbagai pengelolaan air pada pihak pemilik modal, atau oleh negara, tetapi menggunakan skema hitung dagang alias komersial laiknya korporasi. Di Indonesia, untuk mendapatkan air layak konsumsi, rakyat harus membelinya kepada PT PAM (swasta) atau PDAM (pelat merah). Perusahaan ini diberi kewenangan oleh negara untuk mengelola dan mendistribusikan air kepada masyarakat secara berbayar. Di pihak lain, tidak sedikit pula wilayah-wilayah yang kesulitan mendapatkan air bersih. Sementara itu, perusahaan-perusahaan air minum yang menguasai sumber-sumber mata air makin marak. Betul bahwa keterbatasan cadangan air berkualitas mengharuskan pengelolaan dan pemanfaatan air secara efektif. Namun, selama ini problem-problem yang menjadi sebab terbatasnya sumber air justru luput dari perbincangan.

Negara malah menyolusi dengan proyek-
proyek berbau kapitalisasi air yang menambah beban masyarakat dan merusak air. Masifnya pembangunan berparadigma liberalisme, misalnya, jelas-jelas telah menimbulkan bencana gobal terkait air. Begitu pun proyek-proyek eksploitasi sumber daya alam oleh perusahaan-perusahaan asing yang karpetnya digelar oleh negara atas nama investasi, telah menjadi sumber bencana
tersendiri bagi masyarakat. Sungai-sungai besar di daerah-daerah pertambangan emas dan nikel, seperti Halmahera Tengah dan Konawe Kepulauan, mengalami pencemaran berat sehingga tidak bisa lagi digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Begitu pun daerah yang menjadi sentra proyek perusahaan sawit, sungai-sungainya banyak yang tercemar pestisida dan mengalami
sedimentasi.

Untuk pengelolaan sumber daya alam seperti air seharusnya dikelola langsung oleh negara dan menjadi tanggung jawab negara untuk mengelola hal tersebut agar rakyat tidak merasa kesulitan jika dihadapi oleh masalah seperti kemarau yang panjang. Negara wajib mengelola semua kepemilikan umum ini dan memberikan manfaatnya kepada rakyat. Terkait hal ini Rasulullah saw. bersabda, “Kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput, dan api.” (HR Ibnu Majah). Juga sabdanya, “Tiga hal yang tidak boleh dimonopoli: air, rumput, dan
api.” (HR Ibnu Majah).

Sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan membuat sumber daya alam dapat dikelola oleh pengusaha swasta dan perorang seperti air yang telah diatur distribusiannya kepada mereka mulai dari hilir hingga ke hulu sungai, sehingga air bersih yang didapatkan susah seharusnya negara dapat mempertegas hal ini jika SDA tidak bisa dikelola oleh mereka. Dari sistem ekonomi kapitalisme ini masyarakat terkena dampak yang mengakibatkan mereka kesulitan untuk mendapatkan air dengan kualitas yang baik dan bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga kegiatan para petani. Di dalam sistem islam telah jelas bahwa pengelolaan SDA merupakan tanggung jawab oleh negara maka dari itu untuk pengelolaan air harus diserahkan kepada negara karena SDA merupakan
milik masyarakat bersama-sama, bukan hanya untuk kepentingan bisnis atau cuan semata. Pada masa khilafah, pengelolaan air atau politik air dikenal sangat hebat dan terintegrasi dengan sistem lainnya seperti ekonomi, keuangan, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, hukum dan sanksi, dan sebagainya. Perairan berfumgsi debagai basis untuk Pertahanan, sarana transportasi, dan sumber untuk kebutuhan rakyat yang perlu di perhatikan dengan benar . Selain itu khilafah juga membangun waduk di bawah tanah yang berfungsi sebagai penampung air hujan dan jalur
transportasi perdagangan di kota Ramla, membangun bendungan untuk mencegah terjadinya krisis air, serta memberikan perhatian yang besar bagi sungai-sungai di sekitarnya seperti menjaga kebersihan dengan baik. Dari refleksi di atas merupakan fungsi dari kepemimpinan dalam Islam yang tegak atas asas keimanan dan pelaksanaannya yang dibimbing oleh syariat. Para pemimpin islam telah memfungsikan diri mereka dengan baik sebagai raa’in (pengurus) sekaligus junnah (penjaga) bagi seluruh rakyatnya. Maka dari itu, semestinya pemerintahan di dunia khususnya di indonesia bisa menerapkan sistem islam karena islam terlah memberikan sebuah solusi untuk mensejahterakan rakyatnya.
Wallahu a’lam bii ash shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update