Oleh Ayulia_nie
Aktivis Dakwah
Kehidupan yang semakin berat menyebabkan tingkat stres meningkat. Hal ini menyebabkan lemahnya kesehatan mental di masyarakat semakin mengkhawatirkan. Terbukti dengan banyaknya kasus bunuh diri yang terjadi akhir-akhir ini.
KARIMUN – Polres Karimun menggelar rapat koordinasi bersama tokoh agama dan instansi terkait dalam rangka penanganan fenomena perilaku bunuh diri yang terjadi akhir-akhir ini di wilayah tersebut, Jumat 5 Juli 2024.
Pertemuan digelar di Kedai Kopi Servanda, Kelurahan Sungai Lakam Timur, Kecamatan Karimun, Kabupaten Karimun. Sebagaimana diketahui, beberapa hari yang lalu terjadi dua peristiwa bunuh diri dalam sehari. Kemudian di awal tahun 2024, juga terjadi empat kasus bunuh diri dalam kurun waktu satu bulan.
Tuntutan hidup yang semakin berat dalam sistem kapitalis, menyebabkan stres meningkat. Fenomena ini juga menunjukkan gagalnya pendidikan di sistem kapitalis dalam mencetak individu yang bermental kuat, selalu bersyukur dan bersabar dalam menjalani kehidupan. Selain itu juga menunjukkan gagalnya negara dalam mengurus rakyat dan menjaga kesehatan mental rakyat. Tekanan yang menimpa masyarakat dan mengakibatkan depresi hingga tak jarang berujung bunuh diri, bisa diakibatkan 4 faktor pemicu.
Pertama, diri sendiri. Individu yang memiliki pandangan hidup yang tidak sesuai dengan fitrah manusia sebagai hamba. Menerapkan sistem yang bukan berasal dari pencipta, bersikap hedonis, konsumtif, cenderung materialis dan sekular, jauh dari tuntunan agama, serta menjadikan harta dan jabatan sebagai tujuan hidupnya cenderung mudah mengalami depresi.
Kedua, keluarga yang tidak harmonis, broken home, kurang perhatian dan kasih sayang. Tempat hidup utama sehari-hari seperti itu menjadi tekanan bagi para penghuninya. Rumah yang biasa menjadi tempat pulang justru menjadi tempat yang paling menyeramkan.
Ketiga, masyarakat yang cenderung individualis dan apatis terhadap lingkungan sosial sebagai konsekuensi logis paham individualisme. Bahkan, dari internal masyarakat muncul berbagai kelompok yang justru menanamkan bibit-bibit depresi.
Keempat, negara yang tidak peduli terhadap masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan beban hidup masyarakat lainnya. Negara seharusnya menjadi perisai bagi rakyatnya, dan menjamin setiap kehidupan rakyatnya justru berlepas tangan dan tidak peduli dengan kehidupan rakyatnya.
Semua hal di atas yang menjadi pemicu lemahnya kesehatan mental, berawal dari penerapan sistem kapitalis sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan. Fenomena bunuh diri lahir dari kehidupan sekuler yang tidak menjadikan agama sebagai pedoman hidup. Kehidupan sekuler yang melahirkan individu materialistis dan liberalistis memicu stres yang berujung pada usaha mengakhiri nyawa sendiri.
Berbeda dengan sistem Islam. Dalam Islam, setiap kebutuhan pokok akan dijamin pemenuhannya oleh negara, sehingga masyarakat tidak akan khawatir terkait dengan kehidupannya. Negara akan hadir sebagai perisai untuk menjaga tatanan masyarakat, mulai dari tingkat keluarga hingga masyarakat yang akan senantiasa menerapkan amar ma’ruf nahi munkar pada sesamanya, tidak akan ada orang yang bersikap individualis.
Oleh karenanya, untuk menghentikan fenomena ini, tidak ada lagi cara selain mengembalikan kehidupan Islam di tengah umat manusia. Karena sesungguhnya semua aturan kehidupan yang tidak berlandaskan kepada hukum-hukum Allah akan menyebabkan kerusakan, kesengsaraan bagi umat manusia. Melalui negara, Islam akan menjaga umat dari segala permasalahan dengan sejumlah mekanisme dalam melindungi nyawa rakyatnya. Wallahu’alam bissawab.