Oleh: Anna Ummu Maryam
Pegiat Literasi Peduli Negeri
Tanggal 23 Juli 2024 ini ada peringatan Hari Anak Nasional. Tahun ini merupakan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang ke-40. Setiap tahunnya ada tema yang berbeda-beda. Tema dipilih agar peringatan ini bisa difokuskan ke sejumlah tujuan dan persoalan.
Melansir dari situs resmi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA), tema Hari Anak Nasional 2024 ini sama dengan tahun lalu yakni “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”.(Kompas.com, 18/7/2024)
Tentu harapan bagi setiap pihak bahwa negeri ini harus segera berbenah dan bisa menyelesaikan permasalahan tentang anak yang semakin hari sangat memperhatikan. Bukan tanpa alasan hal ini dikawatirkan, mengingat bagaimana generasi bangsa ini dapat melanjutkan kehidupan dimasa yang akan datang.
Bukankah kita sering mengatakan bahwa generasi bangsa hari ini adalah para pembangun dimasa depan. Namun jika kita kembali pada realitanya bahwa kondisi anak masih sangat jauh dari menjadi generasi yang maju.
Hal ini dikemukakan langsung oleh Deputi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan dan Pemuda, Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum di Kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat yang mengatakan bahwa “Berdasarkan tempat kejadian paling banyak terjadi di rumah tangga sebanyak 2.132 kasus. Artinya, pelaku adalah orang terdekat,” katanya. (Senin, 22 April 2024).
Tidak hanya sampai disitu, namun berdasarkan data Simfoni PPA, kekerasan terhadap anak yang terjadi di rumah sebanyak 2.132 kasus, fasilitas umum 484 kasus dan sekolah 463 kasus. Kemudian pelaku terbanyak merupakan teman atau pacar yakni 809 pelaku, 702 orang tua, keluarga/saudara 285 orang, hingga guru 182 pelaku.
Tingginya angka kekerasan terhadap anak bahkan dikalangan para pakar pun telah sampai pada keadaan darurat anak. Tentu bukan tanpa bukti dan sebab jika hal tersebut dinyatakan. Namun realitanya lah yang tak bisa dipungkiri.
Maka dapat dikatakan bahwa peringatan hari anak belumlah menyentuh akar permasalahan yang terjadi pada anak. Seolah peringatan hari anak hanya sebatas seremonial yang dilakukan untuk menunjukkan kepedulian namun sejatinya permasalahan atau kejahatan pada anak masih terus terjadi bahkan lebih beragam bentuknya.
Stanting masih dalam keadaan genting. Bahkan kini menjadi program yang penting untuk diperhatikan. Belum lagi judi online (judol) sudah menjadi perangkap berikutnya pada anak anak yang dikemas dalam bentuk permainan yang menarik.
Kapitalis Biang Kerusakan Anak
Kondisi generasi negeri memang tak dapat dipungkiri terus terperosok dalam kubangan hitam kejahatan dan jurang kematian. Tentu permasalahan yang harus dituntaskan dari akarnya jangan sampai tak menyentuh akar masalahnya sama sekali.
Mengapa kasus kekerasan hingga kejahatan terus meningkat pada anak?.Apakah kejahatan hanya terjadi pada anak semata?. Dan sudah optimalkah peran negara menuntaskannya?.
Tentu banyak pertanyaan lagi yang muncul dalam benak kita. Harapan yang kita harapkan adalah setiap permasalahan yang terjadi pada anak benar -benar dapat diseriusi dan dituntaskan.
Negeri ini sudah merdeka puluhan tahun lamanya namun selama itu pula kasus kejahatan kepada anak tidak ada ujungnya hingga kini. Sebenarnya bukan tanpa alasan ini terjadi karena memang pada dasarnya tidak menyentuh akar masalah.
Akar masalah dari tingginya kejahatan dan kekerasan pada anak adalah karena karena aturan yang mengatur dan pemberi solusi berdasarkan sistem kapitalis sekular. Sistem ini tidak memiliki sistem yang tepat dan tuntas dalam mengatasi masalah.
Justru masalah berawal dari sistem ini. Karena peraturannya berasal dari manusia yang lemah dan tergantung pada yang lainnya. Kebebasan menjadi hal yang diagungkan dan mempersilahkan manusia mengekspresikan hal tersebut.
Negara sebagai penjamin dan pelaksana sistem ini sehingga wajar masalah ini tak ada ujungnya. Ibarat terus berada dalam lingkaran setan. Sistem ini bukan menyelesaikan masalah manusia namun justru mendewakan nafsu manusia. Manusia dianggap bebas menentukan apapun yang menurutnya terbaik padahal sudah ada aturan agama yang sempurna yang menjelaskan pelaksanaan peraturan hingga tuntas.
Sistem keluarga dalam sistem ini dilemahkan, fungsi orang tua disibukkan dengan mencari materi semata. Hingga wajar generasi tumbuh Tampa asuhan dan kontrol keluarga. Anak dibesarkan dengan media sosial dan berkembang dengan lingkungan yang tak sehat.
Sistem pendidikan juga mengalami kegoncangan yang hebat. Sehingga kenakalan hingga kebrutalan senantiasa menghiasi berita. Jauh dari keteladanan dan jauh dari kehidupan yang menenangkan.
Anak Dalam Pangkuan Islam
Islam adalah agama yang sempurna yang didalam nya mengatur tiga elemen penting kehidupan dan keselarasan manusia. Elemen yang penting itu adalah pengaturan manusia dengan penciptanya, manusia dengan dirinya dan manusia dengan makhluk lainnya.
Islam telah menjadikan generasi bagian penting yang menjadi fokus keluarga, lingkungan dan bernegara. Generasi adalah tumpuan masa depan manusia di masa akan datang. Maka dengan demikian diharuskan sedini mungkin anak ditanamkan ketauhidan kepada Allah SWT sejak usia kandungan.
Dalam Islam setiap pasangan yang menuju ke jenjang pernikahan haruslah dibekali sedini mungkin agar memahami konsep keluarga dan siap menjadi orang tua yang memberikan sakinah mawadah warahmah dalam keluarganya.
Keteladanan dan kasih sayang adalah hal yang wajib ditampilkan pada seluruh anggota keluarga. Selain itu Islam juga menganjurkan bahwa setiap manusia harus memperhatikan saudara lingkungan tempat tinggalnya.
Mereka harus saling menjaga dari hal yang merusak dengan melakukan pencegahan dalam kemaksiatan kepada Allah SWT dan berlomba-lomba dalam kebaikan diantara sesama manusia. Lingkungan adalah benteng kedua pada anak dari pengaruh yang buruk.
Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia muliakan tetangganya.” (H.R. Bukhari 5589: Muslim 70).
Selain itu juga pendidikan dalam Islam juga harus selaras dengan Islam. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk anak yang berkepribadian Islam dan berilmu pengetahuan. Ilmunya yang diperoleh adalah untuk kepentingan orang banyak.
“Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu. (HR Tabrani).
Kedudukan ilmu harus seimbang dengan iman yang kokoh sehingga tidak ada kesombongan dan hanya mencari materi semata namun media sebagai cara lebih mudah untuk beribadah kepada Allah SWT.
Negara dalam Islam adalah perisai, pelaksana, penjaga dan pelayan bagi rakyatnya. Negara dan seluruh aparatur didalamnya sebagian pelayan dan pelaksana terbaik. Sehingga tidak ada kesenjangan dan saling bertikai karena taqwa adalah kunci komunikasi.
Negara wajib menjaga penerapan Islam dijalankan secara sempurna oleh rakyatnya maka wajar melahirkan generasi bibit yang unggul. Sinergitas diantara seluruh elemen tadilah yang menjadikan anak benar -benar dalam keadaan terbaiknya dan fokus menjadikan peradaban emas dimasa di depan.
No comments:
Post a Comment