Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty
وَوَصَّيۡنَا الۡاِنۡسٰنَ بِوَالِدَيۡهِۚ حَمَلَتۡهُ اُمُّهٗ وَهۡنًا عَلٰى وَهۡنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِىۡ عَامَيۡنِ اَنِ اشۡكُرۡ لِىۡ وَلِـوَالِدَيۡكَؕ اِلَىَّ الۡمَصِيۡرُ
وَاِنۡ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنۡ تُشۡرِكَ بِىۡ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهٖ عِلۡمٌ ۙ فَلَا تُطِعۡهُمَا وَصَاحِبۡهُمَا فِى الدُّنۡيَا مَعۡرُوۡفًا وَّاتَّبِعۡ سَبِيۡلَ مَنۡ اَنَابَ اِلَىَّ ۚ ثُمَّ اِلَىَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَاُنَبِّئُكُمۡ بِمَا كُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ
Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. ” (QS Luqman: 14—15).
Ayat Allah di atas seakan hanya sebatas bacaan biasa. Viralnya kedurhakaan anak pada orangtua telah melukiskan betapa kefanaan dunia telah diisi dengan perilaku anak manusia tanpa adab. Seperti yang diberitakan di liputan6.com 23-06-2024, seorang pedagang ditemukan tewas di sebuah toko perabot kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Dari hasil penyelidikan polisi, ternyata pelakunya adalah dua anak kandungnya sendiri.
Begitu juga yang terjadi di Lampung beberapa waktu yang lalu. SPA (19), warga Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, melakukan penganiayaan terhadap ayah kandungnya yang menderita strok. Korban dianiaya hingga terkapar dengan kondisi penuh darah dan tidak sadarkan diri. Pelaku melakukan aksinya karena tersulut emosi saat diminta korban untuk mengantarnya ke toilet. Setelah sempat dirawat inap, keesokan harinya korban mengembuskan napas terakhirnya.(Tribun Lampung, 13-6-2024).
Turbulensi Generasi Produk Sekuler Kapitalis
Bagai pesawat yang mengalami turbulensi, demikianlah kondisi yang terjadi pada generasi. Sekulerisme telah menggoyahkan hidup mereka hingga tidak lagi faham benar atau salah. Perilaku membunuh orang tua menjadi hal biasa. Kedurhakaan ditumbuhsuburkan bagai monster yang dihidupkan dalam jiwa-jiwa anak manusia. Tuntunan syariat Islam pun diabaikan.
Fenomena anak durhaka mungkin hanyalah sedikit dari kian pekatnya racun sekularisme dalam kehidupan manusia. Birrul walidain tak terangkai dalam susunan struktural sistem sekuler. Nihil akhlak lahir brutal dalam pola pikir dan sikap anak.
Tragis. Sekularisme-kapitalisme benar-benar merusak dan menghancurkan mafhum yang benar tentang keluarga. Hakikat keluarga yang seharusnya menjadi tempat yang Allah tetapkan bagi anggota keluarga di dalamnya untuk saling berkasih sayang karena di tengah-tengah mereka ada hubungan rahim, hancur lebur karena sistem toksik radikal ini (Sekulerisme Kapitalisme).
Sekularisme dengan brutalnya hasilkan manusia-manusia miskin iman tak ada adab tak ada akhlak hingga tidak mampu mengontrol emosinya. Jiwa rapuh, kosong dan hampa telah tersemai dalam diri mereka sejak dini. Akibatnya generasi rusak yang berakibat pada rusaknya hubungan mereka dengan Allah terwujud.
Demikian juga kapitalisme. Kapitalisme telah menjadikan materi sebagai tujuan hidup, sehingga banyak anak yang abai pada kewajiban birrul walidain. Materi lebih penting bagi hidupnya dibanding harus birrul walidain.
Demikianlah sekularisme telah memangkas habis relasi birrul walidain sehingga yang tersisa hanyalah relasi anak-orang tua yang berdasarkan kemanfaatan semata. Pada saat anak-anak merasa orang tua tidak berguna, dianggap menghalangi mereka untuk capai puncak hawa nafsu, menghilangkan nyawa orang tua menjadi lumrah bagi mereka. Astaghfirullaah.
Sistem Islam Kembalikan Fitrah Manusia
Sungguh penerapan sistem kapitalisme sekuler tidak menghumaniskan manusia.
Sekularisme-kapitalismenjauhkan manusia dari tujuan penciptaan yaitu sebagai hamba Allah dan pembawa rahmat bagi senesta alam. Menjauhkan dari pandangan yang sesat.
Berbeda dengan sistem Islam. Fitrah dan akal terpelihara dengan sistem sahih. Keimanan, ketaqwaan dan amal saleh tumbuh subur dengan sempurna dalam jiwa-jiwa manusia.
Sistem Islam mendidik generasi menjadi generasi yang memiliki kepribadian Islam serta taat syariat. Berbakti, hormat dan memuliakan orang tua menjadi tabiat yang melekat dalam dirinya. Kemampuan yang baik dalam mengendalikan garizah baqa’ (naluri mempertahankan diri) terjaga dengan baik sehingga tidak mudah terjatuh dalam jurang emosi dan membaranya hawa nafsu.
Sistem Islam pun menghidupkan mekanisme yang mampu menjauhkan generasi dari kemaksiatan dan tindak kriminal, baik secara individu, keluarga, masyarakat, dan negara, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat,
وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَتَعَدَّ حُدُوْدَهٗ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيْهَاۖ وَلَهٗ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ
“Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS An-Nisa: 14).
Sistem Islam sangat mensyariatkan tegaknya negara yang menerapkan aturan Islam kafah (Khilafah) sehingga mampu mewujudkan sanksi tegas bagi pelaku tindak kriminal dan pelanggaran aturan Islam, yakni sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus).
Dengan sanksi ini manusia terhindarkan dari tindakan kriminal yang sama. Jika sanksi diberlakukan kepada pelanggar hukum, sanksi tersebut dapat menebus dosanya.
Semua hal di atas dilakukan dalam rangka mencegah berbagai bentuk kejahatan termasuk kekerasan anak kepada orang tuanya.
Kisah Luqman di dalam Al-Qur’an saat menasihati anaknya adalah contoh terbaik. Menegaskan bahwa fitrah manusia sangat dijaga agar tetap suci bersih dalam iman dan taqwa. Sistem Islam senantiasa mengembalikan fitrah manusia agar dunia ini aman sentosa, rahmatan lil’aalamiin, selamatkan penduduknya dari azab dunia dan akhirat.
Wa’alaykum Salam wabaratuh.
No comments:
Post a Comment