Rengganis Santika A, STP
Belum usai kasus pembunuhan Vina, geng motor kembali berulah di kabupaten Bandung. Kasus ini semakin menambah panjang jejak kriminal gang motor di negeri ini. Daftar kriminalitas dan perilaku sadistis yang dilakukan gang motor sudah teramat panjang. Tentu saja fakta ini sangat meresahkan masyarakat. Terakhir kasus di Soreang kabupaten Bandung. Pelaku ditembak ditempat dan diringkus dalam waktu cukup singkat. Namun apakah tembak ditempat dapat menyelesaikan masalah secara tuntas? Inilah yang akan coba dijawab dalam tulisan singkat ini.
Aksi Gang Motor Motor Dan Perilaku Generasi Muda Kian Meresahkan!
Belum lama ini aksi sadis gang motor kembali terjadi, TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG, melansir berita, dengan mengangkat pernyataan Kapolresta Bandung, bahwa, apabila ada geng motor yang berulah (melakukan aksi kriminal) di wilayah Kabupaten Bandung, mereka akan ditindak tegas, dengan ditembak di tempat oleh jajaran Polresta Bandung. Selanjutnya Kapolresta Bandung Kombes Pol Kusworo Wibowo mengungkapkan, pihak kepolisian tak akan segan melakukan tindakan tegas, bagi geng motor yang meresahkan.Kamis, 30 Mei 2024.
Pada kesempatan tersebut generasi muda, dihimbau untuk memilih pertemanan yang positif. Jangan sampai ikut-ikutan perkumpulan yang negatif dan diingatkan pula agar dalam bertindak berpikir panjang, jangan sampai melakukan tindakan yang berhadapan dengan konsekuensi hukum,” ujar Kusworo, di Mapolresta Bandung, Soreang, Kamis (30/5/2024).
Kronologi kejadian aksi gang motor di Soreang kabupaten Bandung, dilakukan oleh salah seorang anggota gang motor yang berinisial MAA (21). Aksi penusukan di Soreang yang dilakukan olehnya mengakibatkan korban AK (24) meninggal dunia. MAA tega menghabisi nyawa AK yang diduga merupakan anggota geng lainnya dengan pisau dapur karena cemburu. Tersangka dengan cepat diamankan dengan ditembak dan diringkus oleh petugas hanya dalam kurun waktu sekitar 4 jam setelah kejadian penusukan tersebut. Kombes pol membuktikan pihaknya melakukan tembak ditempat bagi geng motor yang meresahkan.
Pertanyaannya apakah masalah aksi kekerasan dan kriminalitas gang motor berakhir?
Akar Permasalahan Gang Motor Dan Kriminalitas Pada Generasi Muda
Aksi kekerasan gang motor adalah bagian dari kumpulan kasus kriminalitas yang makin marak saat ini di kalangan remaja, juga gen-Z dan milenial. Data dari Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham, kasus hukum anak meningkat pada periode 2020—2023. Per 26 Agustus 2023, tercatat hampir 2.000 kasus. 1.467 kasus anak berstatus tahanan dalam proses peradilan, dan 526 anak menjalani hukuman sebagai narapidana. Sungguh miris! Maka perlu serius segera menyelamatkan generasi. Mereka aset berharga bangsa, sehingga perlu solusi tuntas.
Menyelesaikan masalah generasi. Jangan berfokus pada masalah parsial gang motor saja. Tindakan tegas tembak ditempat diharapkan bisa memberi efek jera dan takut. Tapi apakah efektif? Atau justru memicu adrenalin mereka, merasa makin tertantang. Tembak ditempat mungkin bisa menyelesaikan satu dua kasus, tapi soalan gang motor dan kriminalitas pemuda adalah fenomena gunung es, mati satu tumbuh seribu selama solusinya tidak menyentuh akar masalah. Ini adalah problem generasi, mereka lahir dari keluarga. Masalah tentu berawal dari inti pendidikan dan pola asuh dalam keluarganya. Pada saat yang sama gempuran dari lingkungan yang buruk juga kuat. Faktanya masyarakat yang mayoritas umat islam ini, jauh dari bimbingan aturan ilahi. Virus Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan menjangkiti umat. Kapitalisme juga memberi andil rapuhnya ketahanan keluarga. Hidup diatur hawa nafsu yang berorientasi kepuasan jasadi. Sistem Kapitalisme sekulerlah akar masalahnya.
Kembalilah Pada Syariat Islam Secara Menyeluruh
Al qur’an sebagai petunjuk manusia, menegaskan agar umat islam masuk (mengamalkan) syariat islam secara menyeluruh (kaffah) QS Al Baqoroh 208. Artinya dalam semua aspek kehidupan harus terikat syariat islam. Baik dilevel individu/keluarga, yaitu penanaman iman dan takwa. Pendidikan dalam keluarga basis utama. Kemudian level masyarakat, fungsi kontrol, kepedulian masyarakat efektif berjalan.
Tokoh masyarakat, lingkungan sekolah, aparat bersinergi, dakwah berjalan. Tak lupa edukasi remaja lewat kajian semarak. Terakhir peran negara harus hadir dan sangat penting. Negara memiliki ‘power’ bekerja sistemik dengan menangkal sekularisne lewat regulasi/kebijakan bagi masyarakat. Menerapkan sanksi hukum yang adil, tegas dan memberi efek jera. Realitas ideal ini hanya bisa bila islam diterapkan, sebagaimana pernah terwujud selama 13 abad mencetak generasi emas. Wallahu’alam bish Shawab
No comments:
Post a Comment