Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lagi Berbeda Idul Adha, Khilafah Tak Bisa Ditunda!!!

Thursday, June 13, 2024 | Thursday, June 13, 2024 WIB

Oleh: Lilik Solekah, SHI
(Ibu Peduli Generasi)

 

Miris, kembali terjadi perbedaan hari raya di kalangan umat Islam lagi di Idul Adha 1445 H/2024 M. karena ada perbedaan cara menentukannya. Padahal umat islam sedunia ini satu kitab dan satu keyakinan bahwa Allah pencipta langit dan bumi beserta isinya. Bukankah aturan itu juga satu?

Seperti yang telah telah diberitakan, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama telah menetapkan bahwa Idul Adha 1445 H tahun ini jatuh pada hari Senin, 17 Juni 2024.

Bila Idul Adha adalah 10 Dzulhijjah, maka 9 Dzulhijjah-nya atau Hari Arafah, hari dimana jamaah haji wukuf di Arafah, dengan ketentuan ini mestinya akan jatuh sehari sebelumnya, yakni 16 Juni 2024.

Sementara pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengumumkan bahwa 1 Dzulhijjah jatuh bertepatan dengan tanggal 7 Juni 2024, maka Wukuf atau Hari Arafah (9 Dzulhijjah) jatuh pada Sabtu, 15 Juni 2024.

Dengan demikian Idul Adha (10 Dzulhijjah) akan jatuh pada hari Ahad, 16 Juni 2024, bukan hari Senin, 17 Juni seperti ketetapan pemerintah Indonesia.

Yang lebih miris dan memprihatinkan lagi, Perbedaan yang terjadi bukan karena dalil syar’i, tetapi factor fanatisme dan nasionalisme. Apakah kita tidak menyadari bahwa nasionalisme itu sengaja diciptakan agar umat islam tersekat- sekat dan tidak bersatu? sehingga kaum kafir bisa dengan mudah melahap sedikit demi sedikit. Dan agar kaum muslimin tetap bisa dalam genggaman kafir laknatullah.

Selain itu penentuan tersebut juga tidak sesuai dengan dalil penentuan idul adha yang menyatakan mengikuti ketetapan Amir makkah. Bahwa bila umat Islam meyakini, bahwa inti dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah hari ketika jamaah haji di Tanah Suci sedang melakukan wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi saw.:
«اَلْحَجُّ عَرَفَةُ»
Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah. (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni, Ahmad, dan al-Hakim)

Juga sabda beliau: Hari Raya Idul Fitri kalian adalah hari ketika kalian berbuka (usai puasa Ramadhan), dan Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian menyembelih qurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian (jamaah haji) berkumpul di Arafah. (HR as-Syafi’i dari ‘Aisyah, dalam al-Umm, juz I, hal. 230).

Maka mestinya, umat Islam di seluruh dunia yang tidak sedang menunaikan ibadah haji menjadikan penentuan hari Arafah di tanah suci sebagai pedoman. Bukan berjalan sendiri-sendiri seperti sekarang ini.

Bila keadaan ini terus berlangsung, bagaimana mungkin umat Islam akan mampu mewujudkan kerahmatan Islam yang telah dijanjikan Allah? Karena itu, perpecahan ini harus dihentikan. Caranya, umat Islam harus bersungguh-sungguh, dengan segala daya dan upaya masing-masing, untuk berjuang bagi tegaknya kembali Khilafah Islam.

Karena umat butuh satu kepemimpinan Islam yang akan menyatukan umat termasuk dalam penentuan hari raya, yaitu Khilafah Islamiyyah.

Untuk perjuangan ini, kita dituntut untuk rela berkorban, sebagaimana pelajaran dari peristiwa besar yang selalu diingatkan kepada kita, yaitu kesediaan Nabi Ibrahim as. dalam memenuhi perintah Allah dengan mengorbankan putranya, Ismail as.

Allah berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kalian demi sesuatu yang dapat memberikan kehidupan kepada kalian.” (QS al-Anfal: 24).

Umat butuh satu kepemimpinan Islam yang akan menyatukan umat termasuk dalam penentuan hari raya, yaitu Khilafah Islamiyyah.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update