Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Idul Adha kembali Berbeda, Persatuan Muslim dengan Khilafah Wajib Ada

Saturday, June 22, 2024 | Saturday, June 22, 2024 WIB

By : Kanti Rahmillah, M.Si

Amir Mekkah telah menetapkan melalui ru’yatul hilal (pengamatan bulan sabit), bahwa 1 zulhijah jatuh pada 7 Juni 2024. Sehingga Wukuf di Arofah jatuh pada tanggal 15 Juni dan idul adha jatuh pada 16 Juni 2024. Berbeda dengan Indonesia, Pemerintah menetapkan 1 Zulhijah pada 8 Juni 2024, sehingga idul adha jatuh pada 17 Juni 2024. Walhasil, tahun ini yang kesekian kalinya lebaran haji umat islam di Indonesia berbeda hari dengan di Mekah.

Padahal, tidak ada khilafiah di kalangan ulama mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali) pada perkara ini, bahwa penentuan idul adha mengikuti ru’yatul hilal penduduk mekah dan ini berlaku untuk seluruh dunia.

Dalilnya yaitu Hadist dari Husain Ibn Al-Harits Al-Jadali RA, ia berkata: “ Sesungguhnya Amir (Wali) Makkah pernah berkhutbah dan berkata: “Rasulullah SAW mengamanatkan kepada kami untuk melaksanakan manasik haji berdasarkan ru’yat. Jika kami tidak berhasil meru’yat tetapi ada dua saksi yang adil yang berhasil meru’yat, maka kami melaksanakan manasik haji berdasarkan kesaksian keduanya.” (HR Abu Dawud).

Salah satu derivat dari penetapan yang berbeda ini adalah saat kaum muslim puasa arofah. Bagaimana mungkin kaum muslim Indonesia puasa arofah pada hari penyembelihan hewan qurban, yaitu saat jamaah haji menjalankan idul adha? Sedangkan dalil keharaman puasa di hari raya sudah jamak diketahui umat.
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melarang berpuasa pada dua hari, yaitu hari Idul Fitri, dan hari Idul Adha.” (HR Bukhari dan Muslim).

Lantas, apa yang menyebabkan kaum muslim tidak mengikuti Amir Mekkah dalam penentuan 1 Dzulhijah? Bagaimana agar kaum muslim bisa kembali melaksanakan idul adha serempak?.

Nasionalisme
Alasan pemerintah Indonesia menetapkan hari idul Adha yang berbeda dengan Mekkah adalah karena perbedaan geografis. Pemerintah Indonesia menentukan awal bulan hijriah berdasarkan ru’yatul hilal lokal dengan Kriteria MABIMS (kesepakatan Menteri-menteri Agama Berunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura).

Padahal, ada banyak hadist yang menerangkan terkait kewajiban kaum muslim untuk beridul Adha pada hari yang sama. Salah satunya adalah hadist dari Aisyah ra.

“Idul Fitri adalah hari saat umat manusia berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika umat manusia menyembelih korbannya.” (HR Tirmidzi dari ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā)
“Bahwa hari Arafah (yaitu tanggal 9 Dzulhijjah) itu adalah hari yang telah ditetapkan oleh Imam (Khalifah), dan hari berkorban itu adalah masa Imam (Khalifah) menyembelih kurban.” (HR Thabrani dalam kitab al-Ausath, dengan sanad hasan).

Selain itu, jika pun alasan perbedaan waktu idul adha itu, merujuk pada ru’yat lokal Imam Syafii. Namun sepertinya, pemerintah tidak benar-benar merujuk pada dalil tersebut. Sebab ru’yat lokal yang dimaksud imam syafi’I adalah berdasarkan pada matla bukan nasional state alias skat negara. sebab jika memakai matla maka seharusnya wilayah Sumatera lebarannya berbeda dengan Papua.

Oleh karena itu sungguh disayangkan, penetapan idul adha di Indonesia selain tidak mengikuti putusan Amir Mekkah, juga karena skat nasionalisme. Seolah kaum muslim di Indonesia tidak ada hubungannya dengan kaum muslim di Arab juga Kaum muslim di belahan bumi lainnya. Padahal kaum muslim itu bagai satu tubuh. Seruan Allah Swt kepada umatnya adalah tidak tersekat bangsa-bangsa

Skat nasionalisme bukan hanya menciderai syariat terkait ibadah saja. Kekejamannya bahkan bisa menjadikan negeri-negeri muslim diam saat terjadi genosida di Palestina. Atas nama nasionalisme, Mesir malah membangun benteng yang kokoh diperbatasan rafah. Atas nama nasionalisme pula, Arab Saudi enggan menghentikan penjualan minyak ke entitas yahudi.

Nasionalisme harus diwaspadai sebagai paham yang berbahaya, baik bagi Aqidah umat juga bagi persatuan umat muslim di dunia. Nasionalisme bukan sekedar rasa cinta pada negeri, lebih dari itu paham ini menjadikan ayat konstitusi di atas ayat suci. Negara nasional state atau negara kebangsaan ini telah sukses menjadikan kaum muslim hidup tanpa aturan dari penciptaNya.

Khilafah satukan Umat
Oleh karena itu, Umat butuh satu kepemimpinan Islam yang akan menyatukan umat termasuk dalam penentuan hari raya, yaitu Khilafah Islamiyyah. Sebab dengan adanya Khilafah, rujukan satu-satunya penguasa adalah dalil syara bukan selainnya. Khalifah akan menetapkan idul adha berdasarkan pada ru’yat penduduk mekkah. Lalu memerintahkan seluruh kaum muslim beridul adha serentak bersama-sama dengan kaum muslim yang sedang berhaji.

Tidak akan ada lagi wilayah kaum muslim yang berbeda dalam merayakan idul adha. Semua kaum muslim shalat ied di hari yang sama. Begitupun saat yang berhaji wukuf di arofah, seluruh kaum muslim yang tidak berhaji akan berpuasa bersama-sama. Amalan sunnah yang mereka kerjakan telah sesuai dengan ketentuan syariat baik dari sisi waktu pelaksanannya dan tata cara ibadahnya.

Sungguh, penerapan islam kaffah dalam suatu institusi adalah perkara yang urgen. Sebab negara yang menerapkan islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah akan menjaga agar umatnya bisa beribadah dengan sempurna. Penguasanya pun akan berkhidmat pada amanahnya yaitu mengurusi dan melindungi rakyatnya hingga Allah Swt Ridha atas apa yang ia lakukan.

Adanya Khilafah pun akan mempersatukan umat, tanpa ada skat kebangsaan. Saat ada saudarinya yang meminta pertolongan, maka Khalifah akan menyerukan untuk saudari lainnya membantu. Begitupun apa yang tengah terjadi pada Palestina, jika Khilafah tegak, maka Khalifah akan memerintahkan seluruh tantara muslim dari wilayah manapun untuk mengusir penjajah yahudi.

Oleh karena itu, persatuan umat muslim di bawah kepemimpinan islam Khilafah harus terus diperjuangkan, sebab keberadaanya wajib dan urgen. Dengan adanya Khilafah kehidupan kaum muslim yang damai dan sejahtera akan niscaya terwujud. Kaum muslimin pun akan terlindungi dari segala macam marabahaya baik bahaya bagi Aqidah, jiwa maupun harta.

Khatimah
Inilah yang ditakutkan barat, yaitu persatuan umat muslim, sehingga ajaran Khilafah dimonsterisasi dan pejuangnya dikriminalisasi. Sebab dengan bersatunya umat muslim, hegemoni barat atas dunia muslim akan runtuh dan Islam akan memimpin dunia. Mereka tidak menginginkan kaum muslim bersatu, termasuk bersatunya umat dalam menjalankan ibadah idul adha.

Oleh karena itu, agar lebaran haji kembali dilaksanakan bersama-sama tanpa skat negara. Agar Palestina terbebas dari penjajah kafir Yahudi. Agar kaum muslim bisa beribadah dengan sempurna sesuai dengan ketentuan syariat, maka perjuangan menegakan khilafah harus semakin gigih diperjuangkan.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update