Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Nilai Tukar Rupiah yang Terus Merosot

Thursday, May 02, 2024 | Thursday, May 02, 2024 WIB



Oleh Herra

Aktivis Muslimah


Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah seiring meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran di Timur Tengah. Bila konflik berlarut-larut, sejumlah pakar khawatir akan muncul dampak berantai yang dapat mengguncang ekonomi Indonesia. Kurs rupiah per dolar AS berkisar di atas Rp16.000 pada pekan ketiga April. Ini terakhir kali terjadi empat tahun silam, di awal merebaknya pandemi Covid-19.


Aksi saling serang antara Israel dan Iran, plus sikap The Fed—bank sentral AS—untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi, disebut berperan besar dalam pelemahan rupiah belakangan. "Konflik di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian global, menyebabkan investor menarik dana dari aset-aset berisiko tinggi, terutama dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia," kata Josua Pardede, kepala ekonom Bank Permata.


Ini adalah pertama kalinya nilai tukar rupiah mencapai Rp16.000 per dolar AS dalam empat tahun terakhir. Pada April 2020, angkanya sempat menyentuh Rp16.741 karena situasi serba tak pasti yang dipicu pandemi Covid-19. Sementara itu, pelemahan rupiah kali ini disebabkan beberapa hal.


The Fed atau bank sentral AS diperkirakan akan lebih lama mempertahankan suku bunga acuannya di level tinggi untuk meredam laju inflasi AS, kata Josua Pardede, kepala ekonom Bank Permata.

Selama suku bunga The Fed masih tinggi, investor global akan lebih tertarik menaruh uangnya di pasar AS, sehingga memicu arus keluar modal asing dari negara-negara berkembang seperti Indonesia. Dan konflik Israel-Iran di Timur Tengah yang kian memanas. (media online BBC news Indonesia, 21 April 2024)


Melemahnya rupiah terhadap nilai tukar dolar AS adalah bentuk konfirmasi bahwa dunia saat ini sedang dalam genggaman imperialisme AS. Dari kedua faktor tersebut, yang paling berpengaruh sebenarnya ialah dominasi mata uang dolar AS sebagai mata uang internasional yang mengontrol nilai tukar mata uang negara lainnya. Tidak hanya rupiah yang melemah, jika bank sentral Amerika menaikkan suku bunganya, pasti berimbas pula ke mata uang negara lainnya. Dalam hal ini, bukti AS adalah pengendali mata uang internasional.


Sedangkan Islam menetapkan sistem mata uang berbasis emas. Sistem ini lebih stabil dan adil sehingga dari aspek ekonomi akan aman dan jauh dari krisis. Emas dan perak sudah lama dipakai sebagai sistem mata uang sejak masa Rasulullah saw. Emas dan perak adalah mata uang paling stabil yang pernah ada. Sejak masa awal Islam hingga hari ini, nilai mata uang Islam dwilogam itu tetap stabil dalam hubungannya dengan barang-barang konsumtif.


Kondisi melemahnya rupiah akan terus berulang selama negeri ini menerapkan ideologi kapitalisme yang mana sistem ekonominya berbasis ribawi dan fiat money. Sedangkan jika menerapkan sistem Islam, kondisi perekonomian akan lebih stabil dan kuat karena ditopang sistem ekonomi Islam berbasis emas dan perak yang memiliki beragam keunggulan, baik dari aspek bahannya, jangka waktu penggunaannya, dan nilainya. Dan semua itu sudah di buktikan oleh suri tauladan kita bagi da Rasulullah saw,


Wallohualam bissawab



No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update