Oleh: Zuliyama S. Pd.
(Relawan Opini)
Berdasarkan laporan Organisasi Pangan Dunia atau FAO yang berada di bawah naungan PBB bertajuk Global Report on Food Crises 2024, tercatat sebanyak 282 juta orang di 59 negara mengalami tingkat kelaparan akut yang tinggi pada 2023. Jumlah orang kelaparan pada 2023 meningkat sebanyak 24 juta orang dari tahun sebelumnya. “Krisis ini menuntut tanggapan segera. Menggunakan data dalam laporan ini untuk mengubah sistem pangan dan mengatasi penyebab kerawanan pangan dan kekurangan gizi akan sangat penting” kata Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal PBB di website FAO.org (cnbcindonesia.com 4/5/2024).
Selain itu, dilansir dari antaranews.com (25/4/2024) bahwa jumlah penduduk dunia yang berada di ambang kelaparan juga meningkat menjadi lebih dari 700.000 orang pada tahun lalu, hampir dua kali lipat dari angka yang tercatat pada 2022. Badan PBB itu pun menyerukan “Respons darurat.”
Kapitalisme, Dalang Dibalik Ancaman Kelaparan Global
Menurut International Rescue commitee, penyebab utama maraknya kelaparan pada berbagai negara meliputi beberapa hal. Pertama, kurangnya bantuan kemanusiaan yang memadai. Kelaparan adalah bentuk kekurangan pangan yang parah yang dapat dicegah melalui respons terkoordinasi dari organisasi bantuan, pemerintah dan entitas internasional. Kedua, kekeringan dan kegagalan panen. Kekeringan semakin sering terjadi. Afrika Timur sebagai contoh negara yang mengalami kegagalan hujan selama lima kali berturut-turut yang menyebabkan meluasnya kekurangan pangan. Ketiga, perubahan iklim. Kekeringan dan kegagalan panen sering kali disebabkan oleh kondisi iklim dan cuaca. Peningkatan suhu global mungkin berkontribusi terhadap kondisi yang lebih kering dan rendahnya curah hujan yang menyebabkan kekeringan dan kegagalan panen sehingga menyebabkan kekurangan pangan. Keempat, konflik dan politik. PBB mengatakan bahwa konflik dan kekerasan adalah penyebab utama kekurangan gizi dan kelaparan. Salah satu contohnya adalah perang di Ukraina yang berdampak pada pasokan biji-bijian global termasuk negara-negara Afrika Timur yang sudah menghadapi kekurangan pangan (rescue.org, 19/8/2022).
Kurangnya bantuan kemanusiaan yang memadai sebagai faktor ancaman kelaparan memang sulit untuk dihindarkan pada kondisi dunia saat ini. Terlebih lagi banyaknya masyarakat miskin yang tersebar di berbagai negara dan kurangnya kepedulian masyarakat mampu terhadap kelaparan yang menimpa sesamanya menambah runyam masalah yang ada. Adapun negara sebagai pengurus rakyat malah sering kali berlepas tangan dan membiarkan rakyatnya berjuang sendiri menuntaskan rasa laparnya. Kalaupun ada bantuan sosial (bansos), maka itu hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu saja. Rakyat yang diberikan bantuan pun sering kali tak merata hingga ada beberapa rakyat miskin malah tak mendapat bantuan tersebut.
Perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan juga merupakan faktor ancaman kelaparan. Hal tersebut dapat terjadi akibat krisis lingkungan karena tangan-tangan rakus manusia. Saat ini, SDA yang merupakan milik umum dibebasan untuk dimiliki perseorangan asal memiliki biaya. Akibatanya, berbagai sumber daya alam seperti tambang digerus tanpa batas dan tak terkendali oleh segelintir orang hingga terjadi kerusakan tanpa ada tanggung jawab yang nyata. Sementara itu, sebagian besar rakyat malah kesusahan untuk memenuhi kebutuhan pangannya karena tidak ada akses terhadap SDA. Konflik dan politik juga masuk sebagai faktor ancaman kelaparan, bahkan dikatakan sebagai faktor terbesar diantara faktor-faktor lainnya. Hal ini sebagaimana yang terjadi di Gaza sebagai penyumbang persentasi terbesar ancaman kelaparan global. Bantuan-bantuan rakyat dari berbagai negara telah diberikan kepada warga Gaza. Namun itu saja tak cukup untuk mengatasi masalah kelaparan di Gaza. Pemerintah seharusnya turun tangan menuntaskan konflik ini. Sayangnya, para penguasa terlampau takut untuk ikut campur mengingat negara adidaya di balik serangan-serangan yang menimpa Gaza. Lagi-lagi karena mereka takut dengan kerugian-kerugian yang nantinya mereka dapatkan.
Realitas yang ada tersebut tak lain tak bukan karena sistem kapitalisme yang begitu diagungkan oleh berbagai negara saat ini. Manfaat sebagai asas perbuatannya telah mendarah daging dalam benak masyarakat. Akibatnya, rakyat ataupun negara seolah mati rasa dan kurang kepedulian terhadap sesamanya jika dianggap hal tersebut tida mendatangkan keuntungan.
Islamlah Solusi Permasalahan Yang Ada, Bukan Yang Lain
Sistem Islam dengan aturan sempurna dan paripurnanya adalah solusi satu-satunya yang dapat mengatasi ancaman kelaparan ini. Berbeda dengan sistem kapitalisme, sistem Islam berorientasi kesejahteraan rakyat dengan pemenuhan kebutuhan tiap individu secara layak dengan tanggung jawab utama diemban oleh negara. Hal ini sebagaimana sabda Rasululullah dalam riwayat Bukhari dan Muslim “Imam atau khalifah itu laksana penggembala dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya.” Dengan berpegang pada hadits tersebut, negara akan mengurusi rakyatnya dengan baik. Alhasil, ancaman kelaparan tidak akan menimpa rakyat yang menerapkan sistem ini. Tidak hanya itu, negara juga akan saling membantu negara yang ditimpa masalah kelaparan utamanya kaum muslim sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak menzalimi dan tidak membiarkan saudaranya itu untuk disakiti. Siapa saja yang membantu kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, Allah aan menghilangkan satu kesusahan bagi dirinya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Siapa saja yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.”
Selain itu, sistem Islam juga menggatur terkait kepemilikan yang dibagi atas tiga bagian yaitu kepemilikan individu, kepemilikan negara dan kepemilikan umum sehingga segelintir orang tidak akan bisa menggerus secara semena-mena milik publik. Negara yang bertugas sebagai pengelola milik umum ini pun akan mengelolanya secara bijak dengan tetap memperhatikan lingkungan agar tidak terjadi kerusakan. Nantinya, hasil pengelolaan kepemilikan umum ini akan dikembalikan ke rakyat dalam bentuk pembiayaan kesehatan, pendidikan dan berbagai pembangunan infrastruktur yang semakin memudahkan aktivitas rakyat dan mengurangi beban hidup rakyat. Pendapatan yang dimiliki rakyat pun bisa difokuskan untuk kebutuhan lainnya semisal kebutuhan pangan. Namun ini hanya bisa teralisasikan dengan sistem Islam, bukan yang lain. Wallahu a’lam bishawab.
No comments:
Post a Comment