Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jangan Biarkan Dunia Alami Lapar Berkepanjangan

Friday, May 10, 2024 | Friday, May 10, 2024 WIB Last Updated 2024-05-10T06:07:35Z


Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty 
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)


Cost of livin’ gets so high

Rich and poor they start to cry

Now the weak must get strong

They say, “Oh, what a tribulation!”

Them belly full, but we hungry

A hungry mob is a angry mob

A rain a-fall, but the dirt it tough


Potongan lirik lagu di atas diambil dari lagu "Them Belly Full (But We Are Hungry)" Bob Marley berbahasa prokem Jamaica dengan makna kurang lebih tentang kelaparan yang melanda. Lagu ini kental dengan teriakan protes tentang kelaparan. Orang lapar bisa marah. Demikian sebagian dari potongan otongan liriknya disenandungkan. 


Bisa dibayangkan, tahun tujuh puluhan saja lagu tentang kelaparan sudah banyak dirilis. Lagu Bob Marley yang ditulis sekitar 1974 sudah menggambarkan kondisi tersebut. Artinya kelaparan telah menjadi salah satu masalah paling mendesak yang dihadapi dunia sampai saat ini. Dalam beberapa tahun terakhir, jutaan orang masih belum memiliki cukup makanan untuk menjalani hidup layak, sehat, cukup pangan untuk kehidupan.


Coba kita perhatikan kondisi akhir-akhir ini. Mengutip dari antaranews.com 25/4/2024, Organisasi Pangan Dunia atau FAO yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengungkapkan masih banyaknya kelaparan akut di 59 negara atau wilayah, dengan jumlah 1 dari 5 orang di negara itu mengalami kelaparan akibat permasalahan pangan akut. Jumlah penduduk dunia yang menghadapi kerawanan pangan akut melonjak menjadi sekitar 282 juta orang pada 2023. Angka ini menunjukkan peningkatan 24 juta orang sejak 2022, sebut FAO dalam Laporan Krisis Pangan Global terbarunya.


 *Ada Sebab Ada Akibat* 


Mendung tak selamanya menurunkan hujan. Tapi saat gelap sulit rasanya merasakan semburat cahaya.


Demikianlah jika kita merasakan sistem yang saat ini berjalan. Mendung yang dibawa sistem kapitalis tak selalu peka dirasakan oleh penghuni dunia karena sampai saat ini masih saja diterima. Padahal gelapnya solusi yang ditawarkan olehnya telah dirasa oleh para penduduk negeri-negeri.


Walhasil jadilah masalah kelaparan akut menjadi salah satu ancaman bagi masyarakat dunia.  Sistem ekonomi kapitalis yang masih diterapkan di setiap negara merupakan sistem yang tidak memiliki mekanisme menyejahterakan rakyat. Minimnya lapangan kerja serta upah yang rendah masih menjadi masalah besar di tengah masyarakat. Masyarakat  berjuang sendiri memenuhi isi perut sampai pada titik kesenjangan kesejahteraan yang luar biasa.


Benang kusut ekonomi masyarakat kian parah. Sistem kapitalisme telah menguasai dan mengeksploitasi SDA di berbagai negara miskin dan berkembang melalui penjajahan gaya barunya.  Sistem ekonomi neoliberalisme telah meluluhlantakkan sistem pangan di dunia. Selama sistem ini masih diminati dan dipakai maka kelaparan akan terus berlangsung menjadi permasalahan sistemis. Krisis berkepanjangan akan terus menghantam dan menyeret manusia.


Sungguh sistem kapitalis sekuler radikal telah meniscayakan penderitaan. Derita lapar rakyat yang terus menjadi drama berkepanjangan yang terus tayang dalam fragmen kehidupan manusia di sudut dunia manapun tak terkecuali di negeri-negeri muslim.

 

 *Islam Takkan Biarkan Lapar Berkepanjangan* 


Sejatinya Islam dengan sistemnya yang sempurna dan paripurna memiliki konsep yang jelas dan solutif saat dihadapkan hajat hidup orang banyak. Problem kelaparan takkan bisa dibiarkan dalam sistem Islam selain segera menyelesaikannya sampai pada individu per individu.

Islam dengan institusinya yang kuat dan mandiri meniscayakan  angka kemiskinan struktural 0% dan menihilkan wabah kelaparan hingga takkan biarkan wabah ini menelan korban. Beberapa mekanisme diterapkan agar menunjang realisasi penyejahteraan ekonomi rakyatnya. 


Pelarangan aktivitas riba agar tak terjerat hutang berkepanjangan tak terbayar; usaha berbasis sektor roduktif; pemenuhan kebutuhan massa (pendidikan, kesehatan, dan keamanan) agar pendapatan rakyat fokus pada kebutuhan hidup; pemberian nafkah bagi rakyat yang benar-benar membutuhkan (hingga perempuan tak perlu jadi tulang punggung);  pengelolaan SDA secara adil untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan masyarakat;  penerapan sistem keuangan negara menggunakan baitulmal dengan pos pendapatan yang beragam tanpa utang;   penggunaan sistem moneter berbasis emas dan perak, sehingga angka inflasinya 0%;  keseluruhannya merupakan mekanisme sistemis yang mampu menghantarkan pada kesejahteraan membentengi dari jurang kemiskinan yang berujung pada kelaparan.


Tentunya ini pun didukung sifat empati dan mengutamakan kepentingan rakyatnya dari para penguasanya. Misalnya saja pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab ra. Beliau senantiasa memberi masyarakatnya makanan, harta, dan sebagainya dengan dana yang  bersumber dari baitulmal. Saat rakyatnya ditimpa kelaparan, beliau bahkan memutuskan tidak akan makan mentega dan daging sampai musibah berakhir.Pada kondisi negara mengalami keguncangan ekonomi dan dilanda kelaparan, pemimpin Islam berupaya memenuhi kepentingan rakyat terlebih dahulu dibandingkan kepentingan pribadinya sekalipun kelaparan pun begitu dirasakannya.


Oleh karena itu jika tidak menghendaki kelaparan  menjadi musibah berkepanjangan, jangan biarkan musibah sistemis terus menerus ditempatkan dalam sendi  kehidupan. Jangan betah dengan sistem yang salah sebagai solusi selain Islam, karena jika itu terus saja dilakukan maka penderitaan umat manusia kian parah dirasa, kian terpuruk.  Hanya penerapan syariat Islam secara kafah saja yang mampu membuktikan kelaparan akut di dunia berakhir. Ada syariat pasti ada maslahat.


Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update