Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gaji Dosen Rendah, Kemuliaan Pendidik Rendah

Saturday, May 18, 2024 | Saturday, May 18, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:46:38Z

By : Annisa J.B

Baru-baru ini trending hastag #janganjadidosen beredar di social media. Hastag yang trending tersebut merupakan bentuk keluh kesah dari para dosen akibat mendapatkan gaji minim. Sejalan dengan ini, hasil survey serikat pekerja kampus (SPK) mengungkapkan bahwa mayoritas dosen menerima gaji bersih kurang dari Rp.3 juta pada kuartal pertama 2023. Gaji yang diterimah tersebut termasuk gaji dosen yang sudah mengabdi selama lebih dari 6 tahun. Mirisnya lagi gaji dosen yang mengabdi di universitas swasta yang mendapat gaji lebih renda dari itu yakni dibawah Rp.2 juta. Tersebabkan hal itu, 76 % dosen harus mengambil langkah dengan pekerjaan sampingan, disisi lain 61 % dosen swasta merasa kompensasi yang diberikan tidak sesuai dengan beban kerja. (Tempo,co).

Ketua SPK Dhia al –uyun mengatakan bahwa para dosen selain menjalankan tri darma perguruan tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian, para dosen juga masih harus melakukan professional service untuk proyek-proyek dikampus mereka. Lanjutnya, para dosen juga sering menjalankan jam kerja melampaui batas. Namun sayangnya kondisi ini justru di normalisasikan dengan istilah ‘’ pengamdian kepada institusi” .(Tempo,co)

Sangat disayangkan melihat kondisi ini, jika dilihat gaji yang diberikan untuk para dosen tidak seimbang dengan kebutuhan sehari-hari mereka, dan biaya-biaya lain. apalagi harga kebutuhan yang semakin menjulang tinggi. Yang akhirnya para dosen harus menambah pekerjaan sampingan. Pekerjaan sampingan ini akhirnya menjadi dominant attention dibandingkan dengan tri darma perguruan tinggi.

Potret kegagalan kipitalis dalam menjaga kemuliaan pendidik.

Gaji dosen sebagai pendidik yang kecil tentu sangat memprihatinkan, karena menggambarkan rendahnya perhatian dan penghargaan negara atas profesi yang mempengaruhi masa depan bangsa. Kita tahu bahwasannya dosen atau guru merupakan suatu profesi mulia, yang menyebarkan ilmu dan membangun karakter mahasiswa sebagai agen of change/ agen perubahan dan calon pemimpin masa depan.

Inilah potret kegagalan kapitalisme dalam menjaga kemuliaan pendidik. Kapitalisme menggerus penghargaan atas jasa besar para dosen, karena prinsip materi sebagai suatu hal yang sangat berharga. Kenapa tidak, sifat kapitalisme adalah individualis, yang mementingkan kebahagian sendiri dengan materi sebanyak-banyaknya. Selain itu, jika dilihat lagi, untuk kenaikan gaji saja ataupun untuk mendapatkan tunjungan, para dosen harus bekerja ekstra dengan memenuhi setiap tugas agar bisa naik pangkat maupun naik gaji, apalagi harus dilengkapi dengan sertifikasi dan terbitan jurnal internasional. Sementara itu, biaya untuk melakukan penelitian dan terbitan jurnal terbilang cukup mahal. Alhasil dari penerapan kapitalisme, dosen hanya dianggap sebagai profesi, bukan sebagai pendidik calon pemimpin masa depan bangsa yang harus dihormati dan dijaga kemuliaannya.

Islam menjaga kemuliaan pendidik

Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna paripurna yang sangat menghargai ilmu, para pemilik ilmu, apalagi yang mengajarkan ilmu. Bahkan tidak hanya itu, saking sempurnahnya islam, islam juga mengatur bagaimana adab seorang murid kepada guru. Terlebih lagi profesi sebagai dosen tidak dianggap sebatas pekerjaan, namun sebagai pendidik calon pemimpin peradaban masa depan yang mulia. Sejarah islam mencatat bagaimana pemuliaan islam terhadap dosen.

Sebagaimana pada masa khalifah Umar bin Khathtab, guru digaji hingga 15 dinar/bulan ( 1 dinar = 4,25 gram emas) per bulan. Jika emas saat ini mei 2024,ed 1 gram emas adalah Rp.1,308 juta, maka gaji guru Rp.83,385 juta/bulan. Juga pada masa kekhalifahan Abbasiyah, penghargaan bagi orang berilmu pun sangat besar. Gaji pengajar waktu itu mencapai 1.000 dinar/tahun. Khalifah juga memberikan gaji dua kali lipat bagi pengajar Al-Qur’an. Bahkan, ketika pengajar atau ilmuwan menghasilkan buku, mereka akan mendapatkan penghargaan sesuai berat buku tersebut (dalam dinar).

Hal diatas menjadi bukti bahwa islam sangat menghargai ilmu dan pemilik ilmu.mengenai bagaimana negara bisa menggaji sebanyak itu, islam mempunyai tata kelola keuangan yang sungguh sempurna. Yaitu melalui baitulmal. Pemasukan baitulmal berasal dari jizya,fai,kharaj, ghanimah, SDA. Semua pemasukan itu dikelolah dengan baik oleh negara untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat termasuk gaji pendidik.

Dukungan negara inilah kemudian melahirkan pendidik dan pelajar yang luar biasa. Pendidik atau dosen tidak perlu lagi mencari pekerjaan sampingan, para dosen akan bersungguh-sungguh dalam mendidik calon para pemimpin sehingga mereka menjadi orang-orang yang berkepribadian islam. Maka hanya dengan islamlah yang mampu menjaga kemuliaan pendidik.

Wallahu ‘alam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update