Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak agar Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dapat memblokir gim online yang mengandung kekerasan dan seksualitas. Pasalnya, gim seperti itu bisa berdampak buruk pada anak terutama yang bergenre battle royale seperti Free Fire yang sangat populer saat ini.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengatakan, s
"Jika memang terbukti, saya langsung minta di-takedown,” tegas Budi Arie saat dihubungi, dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (12/4). (Kata Data).
Budi Arie juga meminta agar masyarakat juga dapat melaporkan gim-gim lainnya yang bermuatan kekerasan dan pornografi melalui kanal aduankonten.id.
Sementara itu, pemerintah juga tengah menyusun rancangan Peraturan Presiden tentang peta jalan perlindungan anak di ranah daring. Hal itu merupakan sebuah upaya untuk melindungi anak dari konten maupun game online yang dapat berpengaruh pada tumbuh kembang anak.
Menurut Deputi Perlindungan Khusus Anak KPPPA, Nahar, Perpres tersebut akan memetakan tiga strategi jangka pendek dan menengah untuk memperkuat kebijakan partisipasi multipihak, termasuk anak dan penanganan kasus eksploitasi dan kekerasan terhadap anak di ranah daring. Menurut Nahar, berbagai hal yang ada di ranah daring, termasuk game online bisa berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Adanya konten kekerasan dalam game online, menurut dia, dapat memberikan dampak yang berbeda-beda bagi anak. Namun, secara umum dapat memengaruhi perilaku, karakter dan kesehatan mental mereka.
Game online membahayakan generasi. Pemberantasan game online butuh keseriusan negara karena telah nyata dampak buruk yang terjadi pada anak. Maraknya game online menunjukkan adanya kesalahan dalam memanfaatkan digitalisasi. Di sisi lain, nampak adanya ketidakmampuan negara membuat aturan seiring dengan perkembangan internet dan sosial media, termasuk game online yang berbasis internet.
Teknologi yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan dan sarana dalam memperoleh informasi, malah disalahgunakan oleh anak untuk melakukan hal-hal yang buruk. Dalam hal ini, sesungguhnya negara mempunyai peran penting dalam membuat aturan yang jelas dan tegas, terutama bila sudah menyangkut generasi.
Namun pada kenyataannya, negara mengabaikan hal ini, sehingga terciptalah kebebasan yang merusak generasi karena kemajuan teknologi tidak diatur sedemikian rupa oleh negara. Ditambah lagi dengan keimanan yang lemah dari generasi saat ini karena sudah sangat dipengaruhi oleh sistem kapitalisme sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan.
Negara harusnya menjadi regulator yang mengatur tentang hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh diakses oleh anak-anak di internet, sehingga anak-anak tidak terpengaruh dengan hal-hal negatif dari tontonan yang mereka lihat. Harusnya negara menjadikan teknologi
sebagai sarana untuk mengembangkan hal-hal yang positif, sehingga tercipta generasi yang tangguh keimanan juga mentalnya.
Namun, ditengah sistem kapitalisme yang menguasai dunia hari ini, kemajuan teknologi bukan menjadi hal yang menggembirakan namun justru menjadi petaka bagi generasi. Kemajuan teknologi tanpa iman yang kuat menjadi titik awal rusaknya generasi. Apabila generasi sudah rusak, maka duniapun akan hancur karena generasi adalah ujung tombak perubahan. Saat ini perubahan kearah yang baik sangat jauh dari harapan, ditengah sistem kapitalisme yang diterapkan.
Berbeda halnya dengan sistem Islam (Khilafah). Islam menetapkan pemanfaatan teknologi untuk kebaikan umat dan mendekatkan umat pada kemudahan menjalankan hukum syariat. Khilafah juga mendukung penuh pembentukan kepribadian generasi Islam. Tentunya dengan menanamkan tsaqofah Islam sejak dini pada anak, menyaring tontonan-tontonan yang layak dan tidak layak untuk anak.
Begitu juga untuk sistem pendidikan yang berbasis pendidikan Islam. Output sistem pendidikan Islam membentuk pelajar bersyaksiyah Islam yang mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak sesuai dengan hukum syara. Sehingga terciptalah generasi beriman yang tangguh yang menjadikan Islam sebagai pedoman dalam melakukan perubahan menuju kebangkitan Islam.
Oleh sebab itu, hanya Islamlah satu-satunya sistem yang dapat menyelesaikan problematika kehidupan, khususnya masalah kerusakan generasi. Generasi Islam dengan keimanan yang kuat hanya akan terjadi bila sistem pemerintahan Islam diterapkan secara kaffah. Dimana generasi inilah yang nantinya akan memimpin dunia.
Wallahu a'lam bishshowaab.

No comments:
Post a Comment