Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Penanggulangan Bencana dalam Sistem Kapitalis

Sunday, February 04, 2024 | Sunday, February 04, 2024 WIB

 



Oleh Yulia Ummu Harist

Aktivis Muslimah

 

Kabupaten Bandung rawan bencana, Oleh karena itu Bupati Bandung mempersiapkan logistic, peralatan evakuasi, termasuk mempersiapkan anggaran tidak terduga sebesar Rp20 miliar. Seperti yang dikutip oleh media online bandungraya.inews, Sabtu (20/01), Bupati Bandung, Dadang Supriatna meminta pihak yang terkait dari hulu sampai hilir, merespon secepatnya bila terjadi musibah di suatu daerah. Dari mulai, pemerintah daerah, kecamatan, desa, kelurahan, untuk siaga tanggap darurat terhadap bencana yang terjadi di wilayahnya.


Selain itu, Pemkab juga mengimbau peran serta masyarakat beserta pihak terkait untuk ambil peranan dalam menanggulangi bencana, juga berikut dengan mengurangi risiko bencana atau pasca bencana. Selain itu, Pemkab Bandung juga sudah mempersiapkan logistik, peralatan evakuasi, dan kebutuhan lainnya yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. Pihaknya juga menyiapkan anggaran tidak terduga (BTT) untuk kondisi tanggap darurat bencana dan penanganan pasca bencana sebesar Rp20 miliar.


Memang benar, bencana seharusnya ditanggulangi dengan segera, masyarakat yang terkena bencana, atau pun yang terdampak bencana, baik urusan logistik, sandang pangannya. Namun faktanya, ketika di suatu wilayah terjadi bencana, respon dari pihak terkait belum maksimal atau bias dikatakan lambat. Yang ada hanyalah bantuan alakadarnya, tidak sesuai dengan jumlah anggaran yang diajukan yang begitu fantastis.


Di sistem kapitalis seperti saat ini, menjadikan penguasa bertindak sesuai keinginannya, bukan sesuai fungsinya, dengan dana yang besar untuk menanggulangi masyarakat yang terkena bencana, malah entah kemana menguapnya, mengurusi masyarakat hanya dijadikan dalih untuk mencairkan dana bantuan, padahal yang diterima masyarakat hanyalah alakadarnya. Begitu watak sistem kapitalis, hanya melakukan sesuatu, jika ada maslahat bagi pribadi dan kroninya, tidak semata-mata menjalankan amanah yang dipikulnya karena Allah Swt.


Berbeda dengan sistem Islam, yang selalu mengarahkan manusia untuk taat terhadap syariat, karena sistem Islam di dasari oleh akidah  terhadap Sang Khaliq, bahwa manusia akan  dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak, terhadap apa yang telah dilakukannya di masa hidupnya.


Ketika seseorang yang diberikan amanah untuk mengurusi urusan umat, maka dia akan semaksimal mungkin mengurusinya, karena jabatan adalah amanah, sehingga dia akan takut bila menyalahi ataupun mengkhianati amanah, dan tentunya hanya mengharapkan rida Allah Swt.


Hidup dalam sistem Islam, sungguh memberikan kehidupan yang tenang, tentram, gemah ripah loh jinawi, karena masyarakat yang islami yang menerapkan aturan Islam akan membawakan keberkahan, sesuai dengan firman Allah Swt. surat Al-'Araf 96

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka menyebabkan perbuatannya."


Oleh karena itu, sistem Islam harus diterapkan dalam kehidupan, baik dalam urusan individu, bermasyarakat, sampai bernegara, agar tercipta Baldatun Thoyibatun Warobbun Ghofur.


Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update