Oleh Yulia Ummu Harist
Aktivis
Muslimah
Kabupaten
Bandung rawan bencana, Oleh karena itu Bupati Bandung mempersiapkan logistic,
peralatan evakuasi, termasuk mempersiapkan anggaran tidak terduga sebesar Rp20
miliar. Seperti yang dikutip oleh media online bandungraya.inews, Sabtu
(20/01), Bupati Bandung, Dadang Supriatna meminta pihak yang terkait dari hulu
sampai hilir, merespon secepatnya bila terjadi musibah di suatu daerah. Dari
mulai, pemerintah daerah, kecamatan, desa, kelurahan, untuk siaga tanggap
darurat terhadap bencana yang terjadi di wilayahnya.
Selain
itu, Pemkab juga mengimbau peran serta masyarakat beserta pihak terkait untuk
ambil peranan dalam menanggulangi bencana, juga berikut dengan mengurangi risiko
bencana atau pasca bencana. Selain itu, Pemkab
Bandung juga sudah mempersiapkan logistik, peralatan evakuasi, dan kebutuhan
lainnya yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. Pihaknya juga menyiapkan
anggaran tidak terduga (BTT) untuk kondisi tanggap darurat bencana dan
penanganan pasca bencana sebesar Rp20 miliar.
Memang
benar, bencana seharusnya ditanggulangi dengan segera, masyarakat yang terkena
bencana, atau pun yang terdampak bencana, baik urusan logistik, sandang
pangannya. Namun faktanya, ketika di suatu wilayah terjadi bencana, respon dari
pihak terkait belum maksimal atau bias dikatakan lambat. Yang ada hanyalah
bantuan alakadarnya, tidak sesuai dengan jumlah anggaran yang diajukan yang
begitu fantastis.
Di
sistem kapitalis seperti saat ini, menjadikan penguasa bertindak sesuai
keinginannya, bukan sesuai fungsinya, dengan dana yang besar untuk
menanggulangi masyarakat yang terkena bencana, malah entah kemana menguapnya,
mengurusi masyarakat hanya dijadikan dalih untuk mencairkan dana bantuan,
padahal yang diterima masyarakat hanyalah alakadarnya. Begitu watak sistem
kapitalis, hanya melakukan sesuatu, jika ada maslahat bagi pribadi dan
kroninya, tidak semata-mata menjalankan amanah yang dipikulnya karena Allah
Swt.
Berbeda
dengan sistem Islam, yang selalu mengarahkan manusia untuk taat terhadap
syariat, karena sistem Islam di dasari oleh akidah terhadap Sang Khaliq, bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak,
terhadap apa yang telah dilakukannya di masa hidupnya.
Ketika
seseorang yang diberikan amanah untuk mengurusi urusan umat, maka dia akan
semaksimal mungkin mengurusinya, karena jabatan adalah amanah, sehingga dia
akan takut bila menyalahi ataupun mengkhianati amanah, dan tentunya hanya
mengharapkan rida Allah Swt.
Hidup
dalam sistem Islam, sungguh memberikan kehidupan yang tenang, tentram, gemah
ripah loh jinawi, karena masyarakat yang islami yang menerapkan aturan Islam
akan membawakan keberkahan, sesuai dengan firman Allah Swt. surat Al-'Araf 96
"Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka menyebabkan
perbuatannya."
Oleh
karena itu, sistem Islam harus diterapkan dalam kehidupan, baik dalam urusan
individu, bermasyarakat, sampai bernegara, agar tercipta Baldatun Thoyibatun
Warobbun Ghofur.
Wallahualam
bissawab

No comments:
Post a Comment