Pemilu di depan mata. Rakyat Indonesia berharap besar mengalami perubahan kehidupan lebih baik dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun menuju keadaan lebih baik.
Sejak kemerdekaan fisik tahun 1945 lalu, rakyat terus menerus berharap ada titik terang dari menumpuknya masalah lokal hingga global menuju sejahtera masyarakat saat ini.
Tarif pajak terus melambung, harga sembako meroket, mahalnya pendidikan dan kesehatan, miskin ekstrim berupa pemukiman tidak layak huni, sanitasi air tercemar termasuk masalah banjir akibat penumpukan sampah, longsor akibat penebangan pohon di hutan lindung dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan pemimpin amanah yang mengentaskan segala masalah yang terjadi selama ini.
Pemilu serentak yang digelar 14 Februari 2024 mendatang adalah upaya pemerintah menuju kehidupan lebih baik, kebijakan baru dengan pemimpin baru diharapkan mampu berpihak pada rakyat.
Gelontoran dana, bagi-bagi sembako hingga pemasangan iklan, banner, pembentukan tim sukses dan sebagainya begitu ramai menjadi topik terhangat di media sosial saat ini.
Memilih pemimpin, harus berdasarkan hati nurani, yang memikirkan kesejahteraan bersama bukan pada golongan atau pemilik modal semata, yang betul-betul bijaksana dan mampu menobatkan prioritas kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadinya.
Berganti sosok pemimpin belum tentu menjamin kesejahteraan umat, namun sistemlah yang harus diganti agar Perubahan terasa secara mendasar. Orang berempati pada rakyat yang bernurani dan beriman kuat tentu tidak dihasilkan dari keadaan yang penuh rekayasa apalagi yang pro pada penjajah.
Sistem yang pasti dapat diharapkan mengubah kondisi Indonesia lebih baik adalah dengan digunakan sistem yang berasal dari Sang Pencipta yaitu Islam. Keberadaan Islam rahmatal lil'alamiin harus dengan cara menerapkan ya secara keseluruhan. Dengan begitu, jaminan kemakmurannya akan terasa sebagaimana telah terbukti dalam tentang waktu yang panjang selama 13 abad lamanya.
Sedangkan sistem kapitalisme justru sukses menjadikan orang-orang menjadi serakah mencintai dunia, berlomba-lomba meraihnya dengan menghalalkan segala cara sehingga kekuasaan dapat dipertahankan agar tetap langgeng dan sebagainya.
Terkait dengan panduan Islam dalam memilih pemimpin, maka kita harus melihat bagaimana Allah dan Rasulullah membimbing kita.
Allah SWT berfirman:
"Kabarkanlah kepada orang-orang munafik, bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin/teman penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan disisi orang kafir itu?, maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah."
(TQS An-Nisa ayat 138-139).
Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali (pemimpin/penolong) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang zalim."
(TQS At-Taubah ayat 23).
Disisi lain Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan (yaitu) diantara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik ) sebagai wali (pemimpinmu). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman."
(TQS Al-Maidah ayat 57).
Begitupun Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin mengadakan alasan yang nyata Allah (untuk menyiksamu)?"
(TQS An-Nisa ayat 144).
Bahkan Allah SWT berfirman:
"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin, teman setia, pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa-Nya) dan hanya kepada Allah kamu kembali."
(TQS Ali-Imran ayat 28).
Kemudian Rasulullah SAW juga bersabda:
"Jika ada 3 orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang diantara mereka menjadi pimpinannya."
(H.R Abu Dawud dari Abu Hurairah).
Demikian Islam sangat jelas menegaskan bahwa kehati-hatian dalam memilih pemimpin demi kesejahteraan bersama.
Betapa Rasulullah SAW pernah menerapkannya mengangkat pemimpin dengan baiat ta'at dan baiat in'ikad di Madinah. Lalu Islam menyebar hingga hampir menguasai seluruh penjuru dunia. Menjadi buah bibir dunia pada masanya menjadikan masyarakat Islami yang sejahtera berkah baldatun toyyibatun warabbun ghafur (negeri yang baik penuh ampunan dari Allah).
Jadi, jangan kaprah pada fokus memilih orang. Namun ingatlah bahwa yang harus diganti bukan semata orang, tetapi sistem yang harus berganti pulang dari sistem Kapitalisme menjadi sistem Islam.
Wallahu'alam bissawab.

No comments:
Post a Comment