Blogger, Woman And Generation Enthusiast
Hamas dan Taufan al-Aqsa-nya terbukti telah sanggup menggetarkan entitas Yahudi Zionis Israel. Serangan-serangan Hamas telah menimbulkan dampak yang sangat dahsyat bagi eksistensi Yahudi Zionis Israel. Akibat serangan-serangan Hamas, entitas Yahudi Zionis Israel mengalami kerugian yang luar biasa. Menurut salah satu sumber dari media Israel terkemuka, setelah 83 hari mereka melancarkan perang di Gaza, sebanyak 825 tank mereka hancur akibat “dirudal” oleh Hamas. Perlawanan Hamas juga telah mengakibatkan kematian 8.435 tentara Yahudi Israel, 905 tentara Prancis, 1.385 tentara AS, 79 tentara Inggris, 48 tentara Itali dan 62 orang tentara bayaran.
Dukungan dari masyarakat internasional terutama Dunia Islam terhadap Hamas dan Palestina secara umum kembali menggeliat, bukan hanya dukungan yang bersifat moril, dukungan berupa aksi militer pun dilakukan oleh Hizbullah di Lebanon dan Pemerintahan Houthi di Yaman. Houthi menyerang kapal-kapal di Laut Merah sejak Oktober 2023. Ini dilakukan sebagai protes serangan Israel ke Gaza. Houthi mengklaim akan menargetkan kapal-kapal terkait Israel. Serangan telah membuat banyak perusahaan pelayaran menghindari wilayah itu dan memilih memutar ke jalur lain.
Posisi Laut Merah bagi Dunia Internasional
Laut Merah terhubung dengan Terusan Suez, yang merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, memiliki alternatif rute di sekitar Tanjung Harapan. Laut Merah dan Terusan Suez memiliki peran penting untuk menjaga stabilitas politik dan ekonomi banyak negara, dengan berbagai kepentingan strategis yang sangat besar. Lokasi Laut Merah pun sangat strategis, terletak di antara benua Asia dan Afrika, memisahkan Timur Tengah serta Eropa dan Asia.
Posisi Laut Merah penting karena merupakan perbatasan alami antara pantai timur Afrika dan pantai barat Semenanjung Arab, juga jalur penting bagi transportasi minyak tanpa senjata melalui Bab el-Mandeb di selatan hingga Terusan Suez. Selama minyak masih menjadi sumber energi utama bagi dunia, jalur pelayaran ini akan tetap menjadi jalur penting bagi transportasi minyak dari Teluk.
Selain perdagangan, wilayah ini juga merupakan rute navigasi penting antara militer negara-negara dan basis global mereka, sehingga telah menjadi arena terjadinya konflik dan persaingan regional. Laut Merah semakin penting secara ekonomi karena besarnya cadangan minyak dan sumber daya logam mulia di seluruh kawasan tersebut. Tak hanya itu, sejumlah besar seng, tembaga, perak, emas, dan mineral lain seperti kadmium, kobalt, dan hidrokarbon juga telah ditemukan di kedalaman Laut Merah yang terisolasi.
Laut Merah secara historis menjadi jalur utama perdagangan Eropa dan global, memberikan manfaat bagi pihak asing yang mempunyai kepentingan di Laut Merah, dan negara-negara pesisir. Sekitar 10% dari seluruh perdagangan global melewati perairan Laut Merah. Pada tahun 2050, PDB kawasan Laut Merah diproyeksikan meningkat dari $1,8 triliun menjadi $6,1 triliun, atau meningkat tiga kali lipat. Demikian pula, volume perdagangan di kawasan ini, yang sebagian besar didorong oleh sektor energi dan minyak, diperkirakan akan meningkat dari $881 miliar menjadi $4,7 triliun, atau tumbuh lima kali lipat. Tak heran dengan segala potensinya, AS bersikeras untuk melindunginya bahkan menjadi alat serang Israel.
Pengaruh Serangan Houthi-Yaman terhadap Dunia
Milisi Houthi yang memiliki persenjataan ringan telah menciptakan sebuah krisis, yang seharusnya dilakukan oleh militer negara yang tulus. Tindakan Houthi menunjukkan bahwa dengan sumber daya yang terbatas, tindakan strategis dapat diambil untuk menantang tatanan global kolonialis AS dan sekutu Baratnya sehingga dapat membatasi kejahatan mereka di wilayah umat Islam.
Houthi memanfaatkan kerentanan strategis Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah untuk menghambat jalur maritim bagi kapal-kapal komersial. Hal ini pada dasarnya menghentikan operasi semua perusahaan pelayaran besar. Akibatnya, AS kemudian mengumumkan pasukan perlindungan maritim baru untuk menjamin kebebasan navigasi di Laut Merah.
Menanggapi kelompok milisi Houthi Departemen Pertahanan AS mengeluarkan pernyataan pada 18 Desember 2023 dari Menteri Pertahanan Lloyd J. Austin III tentang Menjamin Kebebasan Navigasi di Laut Merah. “Meningkatnya serangan Houthi yang berasal dari Yaman baru-baru ini mengancam kebebasan arus perdagangan, membahayakan pelaut yang tidak bersalah, dan melanggar hukum internasional. Laut Merah adalah jalur air penting yang penting bagi kebebasan navigasi dan koridor komersial utama yang memfasilitasi perdagangan internasional. Operation Prosperity Guardian menyatukan banyak negara termasuk Inggris, Bahrain, Kanada, Prancis, Italia, Belanda , Norwegia, Seychelles dan Spanyol, untuk bersama-sama mengatasi tantangan keamanan di Laut Merah bagian selatan dan Teluk Aden, dengan tujuan memastikan kebebasan navigasi bagi semua negara dan memperkuat keamanan dan kemakmuran regional.”
Operation Prosperity Guardian adalah sebuah operasi militer yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan koalisinya untuk meningkatkan keamanan di Laut Merah dan Bab el-Mandeb. Operasi ini bertujuan untuk mencegah serangan-serangan yang dilakukan oleh kelompok Houthi Yaman terhadap kapal-kapal niaga dan jalur pelayaran di wilayah tersebut. Operasi ini melibatkan berbagai kapal perang, pesawat tempur, dan pasukan dari koalisi 10 negara (Amerika Serikat, Inggris, Bahrain, Kanada, Prancis, Italia, Belanda, Norwegia, Seychelles, dan Spanyol).
Kepemimpinan dan Kekuatan Militer Islam
Allah Swt. telah menganugerahkan begitu banyak keuntungan strategis kepada umat Islam di seluruh dunia. Hal ini dapat dimanfaatkan secara efektif dan dimanfaatkan untuk kepentingan umat Islam untuk melindungi darah dan kehormatan umat Islam. Dan hal ini memerlukan kemauan yang kuat dan keikhlasan yang hanya bisa diberikan oleh kepemimpinan Islam.
Lalu mengapa selama ini Israel tampak seolah-olah begitu sangat kuat? Israel seolah-olah tampak kuat justru karena kelemahan dan kepengecutan para penguasa kaum Muslim, terutama para penguasa Arab. Padahal secara militer sejumlah negara di Dunia Islam sesungguhnya jauh lebih kuat daripada Israel.
Berdasarkan situs Global Firepower, Pakistan, misalnya, berada di urutan ke-7 di dunia untuk kekuatan militernya. Pakistan memiliki 654 ribu personel militer yang dilengkapi 363 pesawat tempur, 58 helikopter serang, 3.742 tank, 6 kapal fregat, 2 kapal korvet, 9 kapal selam dan ribuan artileri. Berikutnya, ada Turki di urutan ke-11. Negara yang kini dipimpin Recep Tayyip Erdogan itu memiliki tentara militer mencapai 425 ribu personel. Militer Turki didukung dengan 2.229 tank, 3.140 artileri, 205 jet tempur, 110 helikopter serang, 16 kapal fregat, 9 kapal korvet dan 12 kapal selam. Indonesia menduduki urutan ke-13. Indonesia disebut memiliki sekitar 400 ribu personel militer yang aktif, 314 tank dan 567 artileri, 41 jet tempur dan 15 helikopter serang, sekitar 10 kapal fregat, 21 kapal korvet dan 4 kapal selam. Yang menarik, kekuatan Israel sendiri hanya menempati urutan ke-18 dari 145 negara di dunia.
Saat ini, yang sebenarnya membatasi umat Islam untuk melakukan oerlawanan militer tersebut adalah agen tiran penguasa umat Islam. Mereka hanya melindungi kepentingan AS dan Barat. Para perwira tentara muslim harus menyadari bahwa penguasa mereka yang pengkhianatlah yang menghalangi mereka untuk membantu umat Islam di Gaza dan membebaskan Palestina. Dengan menyingkirkan para penguasa pengkhianat ini dan menegakkan kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian, para perwira militer pada akhirnya akan dipimpin oleh kepemimpinan Islam.
Khalifah dapat dengan mudah dan efektif menggunakan keunggulan strategis di Dunia Islam untuk melawan hegemoni AS dan Barat. Imam Bukhari dan Muslim yang telah meriwayatkan hadis dari jalur Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Ia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika ia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jall, dan adil, maka dengannya, ia akan mendapatkan pahala. Namun, jika ia memerintahkan yang lain, maka ia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya".
Karena itu agar Dunia Islam kembali kuat sebagaimana dulu—tak mudah dikalahkan, apalagi dijajah dan ditindas—mau tak mau kaum Muslim harus menegakkan kembali Khilafah Islamiyah. Kaum Muslim dan Dunia Islam harus dipersatukan kembali di bawah kekuasan Khilafah. Khilafah inilah yang kelak akan menjadi kekuatan adidaya global, dengan menyebarkan rahmat Islam ke seluruh penjuru dunia, sebagaimana dulu. Adanya negara adidaya global, yakni Khilafah, yang menyatukan kaum Muslim sedunia saat ini hukumnya wajib. Pasalnya, tanpa Khilafah, umat Islam akan selamanya lemah, terus dikalahkan, dijajah dan ditindas oleh kekuatan lain, sebagaimana saat ini. Ini tidak boleh terjadi. Sebabnya, Allah SWT telah mengharamkan yang demikian, melalui firman-Nya
Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada kaum kafir untuk menguasai kaum Mukmin (TQS an-Nisa’ [4]: 141).
Wallahu a’lam bishshawab

No comments:
Post a Comment