Memaknai Hari Ibu


Oleh : Nina Iryani S.Pd


Ibu merupakan sosok mulia, yang kehadirannya bahkan dianggap sebagai malaikat di bumi bagi anak-anaknya. 

Perjuangan ibu semenjak hamil sampai menjaga anak-anak dan melayani suami begitu penuh kasih sayang. Keberadaannya dirindukan saat jauh, dan terasa hangat dalam pelukan dan nasihatnya.


Sejarah hari ibu 22 Desember sendiri bermula dari Kongres Perempuan Indonesia III yang digelar di Bandung pada tahun 1938, dan kemudian ditetapkan sebagai hari nasional melalui Dekrit Presiden nomor 316. Tahun 1959.


Sejak hari ibu di Indonesia merujuk pada Kongres Perempuan Indonesia pertama yang dilaksanakan pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Dari Kongres ini, tiga mosi yang berkaitan dengan perempuan dihasilkan:

1. Munculnya hasrat untuk membentuk organisasi yang solid dengan kehadiran "Perserikatan Perempuan Indonesia".

2. Pengembangan kesadaran tentang perempuan dan masyarakat luas.

3. Mengenang perjuangan dan semangat kaum perempuan.


Dalam konteks global, hari ibu juga diperingati di berbagai negara. Misalnya di Amerika Serikat, hari ibu menjadi hari libur nasional pada 1910-an dan di Grafton, West Virginia, dimana Anna Jarvis, mengadakan peringatan atas kematian ibunya. Pada 1914, Woodrow Wilson menandatangani deklarasi untuk menjadikan hari ibu sebagai hari libur nasional.


Namun apa yang terjadi saat ini? Baik di tingkat nasional maupun internasional? Perlindungan hak anak dan perempuan, dibuat kampanye dan organisasi kemanusiaan dan dibangun narasi perempuan tiang negara. Namun kekerasan terhadap perempuan meroket, pemerkosaan meningkat bahkan pembunuhan (femisida) menjadi fakta yang mengarikan. Ada apa dengan sistem yang bercokol saat ini? Yang hanya menjadikannya pembicaraan tiada usai tanpa ditegakkan hukum sebagai efek jera dan pencegahan. 


Di Indonesia, baru-baru ini, seorang perempuan dibakar hidup-hidup oleh suaminya lantaran cemburu. Belum lagi kasus-kasus yang tidak terpublikasikan. Di Palestina 18.000 lebih mayat-mayat sebagiannya adalah perempuan hamil dan anak-anak. Mereka meninggal akibat pengeboman dan penembakan yang dilakukan Israel. Belum lagi di negara-negara lain yang tidak terpublikasikan. Bahkan PBB dan dunia yang terus menerus menyuarakan perdamaian dunia, hak asasi manusia hanya mampu mengecam tanpa menghentikan feminisme, genosida dan kejahatan lain terhadap kaum ibu.


Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah Saw, lalu beliau bersabda:


"Siapa dari kerabatku yang berhak aku berbuat baik padanya?", beliau mengatakan "ibumu",  dia berkata lagi, "kemudian siapa lagi?", beliau mengatakan "ibumu", dia berkata lagi, "kemudian siapa lagi?", beliau mengatakan "ibumu". Dia berkata lagi, "kemudian siapa lagi?", beliau mengatakan "ayahmu". 

(H.R Bukhari dan Muslim).


Allah  SWT berfirman:


"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtua. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu." (TQS. Lukman ayat 14).


Allah pun berfirman:


"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu. Mama akan aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."

(TQS Lukman ayat 15).


Allah SWT pun berfirman:


"Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak pula bagi orang pincang, tidak pula bagi orang sakit, tidak pula bagi dirimu, makan bersama-sama mereka dirumah kamu, atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara-saudaramu yang laki-laki, dirumah saudara-saudaramu yang perempuan, dirumah saudara-saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara-saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara-saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara-saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendiri-sendiri. Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya yang berarti memberi salam kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah, demikian lah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya bagimu agar kamu mengerti." (TQS An-Nur ayat 61).


Allah SWT berfirman:


"Dan istri Fir'aun berkata."Dia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya. Mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita ambil dia menjadi anak," sedang mereka tidak menyadari." 

(TQS. Al-Qashash ayat 9).


Lalu Allah berfirman:


"Lalu hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah)." (TQS Al-Qashash ayat 10).


Kemudian Allah SWT berfirman:


"Dan dia (ibunya Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, "ikutilah dia (Musa)." Maka kelihatan olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya."(TQS Al-Qashash ayat 11).


Lalu Allah SWT berfirman:


"Dan Kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusuinya sebelum itu, maka berkata lah dia (saudaranya Musa), "maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?." 

(TQS Al-Qashash ayat 12).


Hingga akhirnya Allah SWT berfirman:


"Maka Kami kembalikan dia (Musa) kepada ibu agar senang hatinya dan tidak bersedih hati. Dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya." 

(TQS Al-Qashash ayat 13).


Disisi lain, Allah SWT berfirman:


"(Ingatlah) ketika istri Imran berkata. "Ya Tuhanku sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu), dariku. Sungguh Engkaulah yang maha mendengar, maha mengetahui." 

(TQS Ali-Imran ayat 35).


Maka Allah SWT berfirman:


"Maka ketika melahirkannya, dia berkata. "Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan, "padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. "Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk." 

(TQS Ali-Imran ayat 36).


Kemudian Allah SWT berfirman:


"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Masa mengandung sampai masa menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdo'a."Ya Tuhanku berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuanku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan, yang Engkau ridhoi dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sungguh aku termasuk orang muslim." (TQS Al-Ahqof ayat 15).


Demikian kisah-kisah perjuangan seorang ibu sebagai perempuan yang dimuliakan Allah, dimuliakan Rasulullah SAW. Masya Allah tabarokalloh, banyak kasus-kasus kejahatan terhadap perempuan khususnya kaum ibu pun, bahkan hingga syahidnya seorang ibu, sejatinya seorang ibu itu tidak mati, namun berpindah tempat dari dunia menuju surga. Allah maha tahu, kita tidak tahu. Allah hadirkan penjajah, orang-orang jahat dimuka bumi ini, agar kita khusus perempuan kaum ibu ikut serta berjuang, berjihad berdasar kemampuan masing-masing. 


Bahkan seorang ibu bukan hanya menjadi salah satu perhiasan dunia, tiang negara tetapi juga pencetak dan sekolah pertama dan utama (madrisatul 'ula) bagi anak-anaknya. 


Pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat, satu orang perempuan dilecehkan dipasar, beliau mendatangkan pasukan perang mengadili palaku pelecehan. Sedangkan hari ini perempuan khususnya kaum ibu dilecehkan, diperkosa, direndahkan bahkan dibunuh (femisida) di sebagai negeri baik nasional maupun internasional bahkan PBB dan dunia gagal melindungi perempuan khususnya kaum ibu. 


Inilah bukti gagalnya sistem kapitalis menjaga kehormatan kaum perempuan khususnya kaum ibu. 


Maka, jika ingin kaum ibu terlindungi jalan satu-satunya adalah kembali melanjutkan kehidupan Islam dengan Islam kaffah, lanjutkan perjuangan seperti masa Rasulullah SAW, kembali jadikan Indonesia dan dunia merdeka dan sejahtera, kehidupan gemilang dan kembalikan kemuliaan perempuan dan kaum ibu.


Wallohu'alam bissawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post