Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Berbuat Aniaya Adalah Kezaliman

Saturday, September 23, 2023 | Saturday, September 23, 2023 WIB Last Updated 2023-09-23T05:50:30Z


Oleh: Astriani Lydia, S.S



 أَيُّمَا رَجُلٍ ظَلَمَ شِبْرًا مِنَ اْلأَرْضِ كَلَّفَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَحْفِرَهُ حَتَّى يَبْلُغَ آخِرَ سَبْعِ أَرْضِيْنَ ثُمَّ يُطَوِّقُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَقْضٰى بَيْنَ النَّاسِ   


“Siapapun yang berbuat aniaya atas sejengkal tanah, Allah akan membebaninya, menggalinya sampai batas tujuh bumi, kemudian mengalungkannya sampai hari kiamat, hingga Dia memuluskan perkara sekalian manusia."(Ibnu Hibban di dalam kitab Shahih-nya. (1167), Imam Ahmad (4/173), dan putranya dari Za'idah dari Ar-Rabi' bin Abdillah dari Aiman bin Namil)


Kisruh dan konflik di Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau, masih belum menemukan titik solusi.


Gejolak di Pulau Rempang bermula pada 7 September 2023 lalu, di mana warga setempat bentrok dengan aparat gabungan dari TNI, Polri, dan Direktorat Pengamanan Aset BP Batam.


Warga menolak lahan mereka digunakan untuk pembangunan proyek strategis nasional, Rempang Eco City, lokasi pabrik produsen kaca China, Xinyi Glass Holdings Ltd.


Pemerintah mengharuskan warga pindah atau relokasi dari wilayah yang terdampak pembangunan sambil memberikan lahan baru dan rumah.


Bahkan, pemerintah sudah memberi ultimatum kepada warga di 16 titik kampung tua di Pulau Rempang untuk mengosongkan lahan hingga 28 September 2023.


Ultimatum ke warga diberikan berdasarkan perjanjian antara Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) dengan pihak investor.


Pihak investor menginginkan agar di tanggal tersebut, lahan yang mereka perlukan sudah rampung.


Menanggapi ultimatum itu, Juru bicara Kekerabatan Masyarakat Adat Tempatan (KERAMAT) Pulau Rempang, Suardi, mengatakan akan mempertahankan marwah kampung-kampung mereka terlepas dari apa pun yang dilakukan pemerintah. Sebab kampung-kampung itu didirikan oleh nenek moyang mereka sejak 1843.

(Tribunnews, 12/9/2023)



Pada Bab Fitnah dalam al-Jami' al-Tirmidzi disebutkan sebuah hadits (No. 2159) sbb: 


حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ شَبِيبِ بْنِ غَرْقَدَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ لِلنَّاسِ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا قَالُوا يَوْمُ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ قَالَ فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا أَلَا لَا يَجْنِي جَانٍ إِلَّا عَلَى نَفْسِهِ أَلَا لَا يَجْنِي جَانٍ عَلَى وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ عَلَى وَالِدِهِ أَلَا وَإِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ مِنْ أَنْ يُعْبَدَ فِي بِلَادِكُمْ هَذِهِ أَبَدًا وَلَكِنْ سَتَكُونُ لَهُ طَاعَةٌ فِيمَا تَحْتَقِرُونَ مِنْ أَعْمَالِكُمْ فَسَيَرْضَى بِهِ


Telah menceritakan kepada kami Hannad; telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Syabib bin Gharqadah dari Sulaiman bin 'Amr bin al-Ahwash dari bapaknya, dia berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ketika haji wada': "Hari apakah ini?" Mereka pun menjawab, "Hari haji akbar." Kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah haram (untuk dirusak) di antara kalian sebagaimana haramnya (sucinya) hari ini, di negeri kalian ini. Ketahuilah, janganlah seseorang berbuat aniaya kecuali kepada dirinya sendiri, janganlah seseorang berbuat aniaya kepada anaknya dan jangan juga seorang anak kepada orang tuanya. Ketahuilah, sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah di negeri kalian ini selamanya, namun akan terjadi ketaatan kepadanya dalam amal perbuatan yang kalian remehkan sehingga dia akan ridha kepadanya." 


Sesungguhnya berbuat aniaya adalah sebuah kezaliman. 

Paradigma sekuler kapitalistik yang diembannya membuat fungsi strategis negara terkooptasi kepentingan pemilik modal. Alih-alih peduli dengan urusan rakyatnya, kebijakan negara justru menjadi biang munculnya berbagai penderitaan. 


Kehidupan rusak seperti ini jelas karena tidak diterapkannya sistem Islam. Karena sejatinya kehidupan umat Islam penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Peradaban mereka tegak di atas landasan iman.


Negara dalam Islam benar-benar berfungsi sebagai pengurus dan penjaga. Karena peran kepemimpinan tidak dipahami sekadar dimensi dunia. Maka seorang pemimpin akan menjamin terjaganya jiwa, akal, akidah, harta, dan kehormatan, seluruh warga negaranya. 


Sabda Rasulullah saw,


إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ، وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ


“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka ia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika ia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)


Begitulah seorang pemimpin, ia wajib melindungi darah, harta, dan kehormatan umat Islam. Kepemimpinan semacam ini yang disebutkan oleh Nabi sebagai "junnah" atau perisai. Tanpa imam, tidak ada jaminan perlindungan darah, harta, dan kehormatan bagi umat, seperti saat ini. 

Wallahu a'lam bishshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update