Musibah datang silih berganti
Beruntun Pertiwi ini diuji
Malapetaka menguras air mata
Serta menyisahkan tanya
Ada apa?
Salah siapa?
Mengapa banjir bandang datang tiba-tiba?
Melibas habis apapun didepannya
Mengapa tanah longsor menyapa warga?
Menimbun harta benda sampai nyawa
Mengapa kapal selam karam tenggelam ke dasar samudera?
Mengubur jasad penjaga bangsa
Mengapa pesawat terbang tumbang kelautan?
Nyawa-nyawa melayang bagaikan dedaunan
Mengapa gunung-gunung mengguncang seakan marah?
Petanda genderang perang siap dimulai
Mungkinkah ini ujian sebagai penghapus dosa Bagi mereka-mereka yang bertaqwa
Mungkinkah ini teguran bagi mereka yang bersalah
Agar mengambil pelajaran berharga
Entalah....
Seakan nyawa sangatlah murah
Direnggut oleh ganasnya murka
Semakin hari semakin jauh dari syariatnya
Menghalalkan segala cara tanpa adanya solusi nyata
Allah Pencipta Alam semesta
Allah Maha Kuasa
Atas izinNya segalanya macam bentuk musibah
Cepat lambat kita pasti akan kembali padanya
Duka mendalam sanak keluarga yang ditinggalkan
Diiringi isak tangis orang tua tetap berusaha tegar dan mengikhlaskan
Demi lancarnya perjalanan kepulangan putra kesayangan
Selamat jalan belahan jiwa kebanggaan
Innalilahi wa innailaihi rojiun
Tutut berdukacita dari palung hati terdalam
Hanya doa yang bisa ku panjatkan
Tetesan air mata mengiringi lagu pilu
Hey sampai jumpa di lain waktu
Semoga Allah menempatkan mereka semua di tempat terindah
Aamiin Allaah Ya Rabbal Aamiin
Palembang revisi ulang 8 Agustus 2023

No comments:
Post a Comment