“ASN itu pelayan masyarakat” kalimat itu yang selalu membesarkan hati ketika tiba lelah jenuh dan pusing. “Sambil memandangi langit-langit kamar, terbayang hari esok antara besok pagi masak apa sama gimana nih besok ngajari ibu-ibu aplikasi elsimil”
Kurang lebih itulah hari-hari yang kujalani sebagai penyuluh KB sekaligus ibu rumah tangga. Di era digital begini, semua kegiatan dituntut adanya pelaporan online. Kadang terbayang lebih baik mengerjakan sendiri meski lembur-lembur dibanding dengan ngajari ibu-ibu yang susah memahamkannya. Tapi itu tidak mungkin. Karena memang dituntut masing-masing kader memiliki username sendiri-sendiri untuk melaporkan kegiatan pendampingannya. Belum lagi dengan tugas-tugas mandiri penyuluh KB dalam pelaporan bulanan, target capaian KB baru yang belum terpenuhi, bukti fisik kegiatan, koordinasi dengan lintas sektoral dan lain-lain.
Tibalah hari di saat orientasi penggunaan aplikasi elsimil bagi kader pendamping keluarga. Aplikasi elsimil ini berbasis web yang diperuntukkan bagi kader pendamping keluarga untuk melaporkan pendampingan catin, ibu hamil, paskasalin dan baduta secara online.
Setelah dijelaskan mengenal aplikasi, cara penggunaan, register dan cara pengisian pendampingannya, tibalah saat praktik mencoba pengisian pendampingan dengan memberikan contoh soal untuk bisa dipraktikkan. Dari satu ruangan yang hadir hampir separuh lebih yang terlihat masih bingung. Bahkan ada yang tidak membawa handphone. Ada juga yang panggil-panggil kami penyuluh KB sebagai tutor nya. “Bu, ini kok gak bisa masuk-masuk ya…?” setelah kita pegang handphone nya dan kita lihat settingannya ternyata ramnya hanya 1 MB atau bahkan kurang, belum terkurangi penggunaan aplikasi. Jadilah kita hapusi sampah-sampahnya kemudian kita pun harus update chrome handphonenya satu per satu. Dalam hati agak menggerutu, begini ini yang membuat aplikasi terbayang gak ya kalau kita sampai harus bersihkan sampah, update chrome satu persatu. Bahkan tidak jarang saya bersama rekan-rekan penyuluh KB lainnya mengumpulkan ulang kader per desa agar lebih intensif untuk mengajari lagi dan praktik pengisian secara langsung pada aplikasi yang real, bukan untuk yang latihan.
Hhhhm, ya sudah lah karena ini adalah bagian dari tugas dan juga demi terlaksananya pendampingan melalui aplikasi elsimil, apapun kami lakukan. Kasihan juga kalau sampai rumah beliau-beliau kader TPK ini sampai rumah dan bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan dan tidak tahu tanya ke siapa. Sementara beliau-beliau ini tidak mendapat gaji rutin seperti halnya ASN Penyuluh KB seperti saya.
Mindset ini lah yang membesarkan hati saya dalam menjalankan tugas sehari-hari. Bisa dikatakan kalau sudah pekerjaan berkaitan dengan aplikasi, nyaris 24 jam lah jam kerja kami. Belum nyampai rumah sudah pada masuk chat atau panggilan untuk menanyakan kesulitan-kesulitan yang dialami dalam penggunaan aplikasi. Kadang sudah hampir merem mata ini, masih ada panggilan masuk. Ada yang lupa password atau bahkan lupa username nya padahal sudah dibagi dicetakkan per desa. Bagaimanapun saya menyadari bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya untuk menyukseskan program pencegahan stunting. Bahkan ada yang berkorban dengan membeli handphone baru agar lancar dengan mengangsur atau menghapus aplikasi-aplikasi game milik anaknya. Adalah Pak Kariyo salah satu kader di tingkat desa yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek, harus mengangsur membeli handphone seharga 2 juta dengan angsuran setiap bulannya 200 ribu rupiah, demi agar bisa melaksanakan tugas yang berkaitan dengan pelaporan online. Padahal di awal saya bertugas di daerah ini, beliau saya bekali handphone yang bukan android yang tidak terpakai di rumah, sekedar agar mudah untuk berkomunikasi dengan beliau.
Dan rasanya pengorbanan saya ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pengorbanan pak kariyo ataupun dengan suka duka yang disampaikan oleh para kader TPK saat menjalankan tugas. Ada yang cerita, ada yang gak mau ditemui karena anaknya terlahir premature. Seolah malu kalau menunjukkan berat badan terbaru. Tapi yang keluar dari mulut sang ibu malah seperti marah-marah gitu. Dia bilang, “wes piro-piro iki mbak bobote mundak sembarang tak dulangno dibanding pas lahir biyen” (sudah banyak ini mbak perubahannya, berat badan naik dibanding saat lahir dulu. Segala macem tak kasihkan). Saya balik bertanya terus jenengan jawab apa? Ya saya jawab saja yo wes pinter alhamdulillah. Belum lagi yang ditemui di rumahnya itu rumahnya kotor dan berantakan banget. Mau duduk dan ambil foto pendampingan saja susah. Padahal kondisi semacam ini akan rawan adanya infeksi karena kurang menjaga kebersihan. Nah inilah manfaat adanya pendampingan sehingga bisa tahu kondisi sebenarnya masyarakat yang hamil, paska melahirkan atau yang mempunyai baduta.
Kondisi-kondisi semacam inilah yang membuat saya dan juga mungkin ribuan penyuluh KB yang lain menjadi semakin bersemangat menjalankan tugas dengan segala serba-serbi yang ada. Dan ini hanyalah secuil cerita diantara sejuta kisah yang banyak terjadi di lapangan. Suka duka kami petugas lapangan yang bertemu langsung dengan masyarakat dan juga para kader penggerak di lapangan. Demi untuk menurunkan angka stunting apa sajalah dikerjakan. Apakah perjuangan ini mampu membawa Indonesia bebas stunting?

No comments:
Post a Comment