Oleh Irohima
Lagi-lagi impor kembali menjadi solusi pintas dalam mengantisipasi dampak dari El Nino yang diprediksi akan kembali melanda negeri ini. Di tengah panen raya di beberapa daerah yang dilakukan masyarakat seperti perayaan panen kelompok Tani Subak Besi Kalung, Jatiluwih, Penebel, Tabanan yang merupakan binaan Kodim 1619/ Tabanan dan gelaran panen raya di Desa Wargabinangun, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon, kabar akan adanya kebijakan impor beras sebanyak tiga juta ton tentu mengejutkan. Meski ini bukan yang pertama kalinya namun tetap saja membuat para petani terpukul.
Seperti yang telah diketahui, pemerintah berencana melakukan impor beras sebanyak tiga juta ton tahun ini, dengan dalih sebagai langkah antisipasi ( Katadata.co.id, 17/06/2023 ).
Kebijakan ini tentu mengundang pro kontra, mengingat saat ini petani lokal justru tengah mendulang panen raya. Kebijakan impor ini dinilai sebagai kebijakan tanpa perencanaan yang matang dan akan berdampak buruk bagi petani. Bahkan Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan bahwa seharusnya Bulog melakukan peningkatan pengadaan beras dengan menambah produksi, meningkatkan kualitas benih dan pupuk sejak jauh hari karena El Nino merupakan kondisi yang sudah bisa diprediksi.
Kebijakan impor sifatnya hanya bisa mengendalikan keamanan pangan dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang, justru kebijakan ini sangat bisa merugikan. Kebijakan impor yang dilakukan di tengah masa panen akan mempengaruhi harga gabah di level petani. Bisa dibayangkan para petani akan merasakan kekecewaan yang mendalam karena jerih payah mereka selama berbulan -bulan hanya menjadi remahan karena tertekan oleh kebijakan.
Kebijakan terkait beras yang kerap diintervensi membuat masyarakat tak bergairah lagi untuk menjadikan petani sebagai profesi. Banyak masyarakat yang beralih pekerjaan untuk dijadikan lahan penghidupan, karena menjadi petani sama sekali tak menjanjikan.
Kebijakan impor beras ini tak hanya mematikan minat petani untuk tetap menanam padi namun juga mematikan minat generasi muda untuk menjadikan petani sebagai profesi. Berkurangnya SDM dalam sektor pertanian akan berdampak pada kehidupan, tak hanya pada aspek ekonomi namun juga aspek sosial karena Industri pertanian merupakan sektor yang vital dan salah satu unsur penopang dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan pangan. Bagaimana jadinya jika sektor produksi terhenti dikarenakan ketiadaan SDM ? tentu bukan saja merugikan diri sendiri, namun membuat keadaan buruk semakin menjadi-jadi.
Impor seolah telah menjadi tradisi solusi menutup setiap kekurangan apa saja di negeri ini, termasuk bahan pangan seperti beras. Kegiatan impor merupakan kegiatan memasukkan barang atau komoditas dari negara lain ke dalam negeri. Meski tujuan impor adalah memenuhi kebutuhan dalam negeri namun perlu diwaspadai bahwa aktivitas impor adalah aktivitas yang mengurangi devisa hingga bisa menyebabkan defisit keuangan. Apalagi jika impor dilakukan secara massif, maka akan membuat ketergantungan dan ketidakmandirian serta bisa mengancam kedaulatan pangan suatu negara.
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki letak strategis. Dengan letak astronomis Indonesia yang berada pada 6 derajat LU -11 derajat LS dan 95 BT-141 BT menjadikan Indonesia berada di wilayah beriklim tropis dan membuat Indonesia dianugerahi curah hujan yang tinggi, hutan hujan tropis yang luas, sinar matahari sepanjang tahun serta kelembapan udara yang tinggi.
Indonesia mengalami iklim muson yang dipengaruhi daratan Benua Asia dan Benua Australia. Inilah sebab mengapa di Indonesia hanya ada dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan yang bergantian tiap enam bulan sekali. Musim hujan dan kemarau ikut andil dalam mempengaruhi kegiatan pertanian, terlebih posisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire ( gugusan gunung berapi ) yang memiliki endapan material yang bila dikeluarkan akan membuat tanah subur dan sangat potensial dijadikan sebagai lahan pertanian.
Dengan melihat fakta yang ada dan dengan kondisi yang sangat mendukung, harusnya kita mampu berproduksi untuk memenuhi kebutuhan sendiri bahkan kita bisa melampaui titik tertinggi untuk menjadikan kita mandiri dan memiliki kedaulatan pangan di negeri tercinta ini. Dulu kita pernah swasembada pangan di tahun 1984-1986, bahkan pernah menduduki peringkat ketiga sebagai produsen padi terbesar di dunia setelah Cina dan India di tahun 2005. Namun sekarang kita malah menjadi negara pengimpor beras. Menjadi sebuah tanda tanya besar jika kita terus membeli barang dari luar negeri tanpa henti. Menjadikan El Nino sebagai kambing hitam juga sangat tidak beralasan, mengingat kita begitu memahami kondisi cuaca, kita bisa memprediksi bahkan membuat langkah-langkah antisipasi jauh-jauh hari.
Sungguh, ini semua karena sistem yang berlaku di negeri ini. Sistem kapitalisme yang rusak membuat apapun termasuk lahan pertanian dikapitalisasi sesuka hati, mengalih fungsikan lahan demi keuntungan, menyandera negara dengan berbagai kesepakatan, tak peduli meski mematikan langkah anak negeri. Jika ini dibiarkan tanpa perbaikan, artinya kita akan terus berada dalam dekapan penderitaan.
Perlu langkah cepat untuk mengatasi ini dan satu-satunya solusi tepat adalah dengan menerapkan sistem Islam. Dalam Islam, impor bukanlah solusi yang akan diambil untuk mengatasi persoalan krisis pangan. Kemandirian pangan akan jadi prioritas agar kewajiban negara untuk mencukupi kebutuhan rakyat akan pangan dapat terlaksana dengan baik serta tak akan bergantung pada negara lain.
Islam memiliki sejumlah mekanisme untuk mewujudkan kemandirian pangan, diantaranya dengan mengoptimalkan kualitas produksi pangan dengan ekstensifikasi pertanian (menghidupkan tanah mati) dan intensifikasi (meningkatkan kualitas bibit, pupuk, alat produksi dan segala hal yang terkait pertanian dengan teknologi).
Menciptakan pasar yang sehat. Kebijakan terkait harga akan dilakukan melalui mekanisme pasar dengan memperhatikan supply dan demand, bukan dengan mematok harga. Negara juga akan memberlakukan sanksi yang tegas terhadap praktik penimbunan, penipuan, riba dan monopoli.
Manajemen logistik. Pasokan lebih yang ada pada saat panen akan disimpan sebagai stok cadangan dan akan didistribusikan secara merata bila terjadi krisis pangan.
Mengenai kebijakan ekspor dan Impor, negara boleh mengekspor jika seluruh kebutuhan rakyat telah terpenuhi. Sementara impor dibolehkan jika memang keadaan sudah darurat.
Berbagai fasilitas dan teknologi akan dikerahkan untuk mendukung kajian terkait perubahan cuaca agar bisa mengantisipasi hal-hal seperti El nino atau hal-hal yang bisa mempengaruhi produksi pangan.
Negara akan menerapkan kebijakan antisipasi terhadap bencana kekeringan atau bencana alam lainnya.
Dengan langkah-langkah strategis yang diterapkan oleh sistem Islam, kemandirian pangan bukanlah sesuatu yang sulit untuk dicapai. Justru berbagai kebijakan yang sistematis dalam Islam akan menutup celah impor dan menghilangkan ketergantungan kita akan negara lain. Maka dari itu seyogyanya kita memilih sistem yang benar-benar bisa memberikan solusi yaitu Islam, dengan Islam impor akan hilang.
Wallahu a'lam bishawab

No comments:
Post a Comment