Di lihat dari pantuan global, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki bonus demografi. Bonus demografi artinya di mana individu-individu dalam masyarakat di suatu negara terindikasi didominasi oleh generasi berusia produktif. Hal ini sekaligus mengaktualkan bahwa Indonesia menyimpan aset berharga dalam pembangunan peradaban masa depan.
Bonus demografi inipun memancing para pejuang kapitalis di dalam dan di luar negeri untuk makin semangat menguasai Indonesia. Kaum pemodal tak akan melewatkan moment indah di mana mereka mampu menghipnotis generasi produktif agar bisa menjalankan ide-ide kapitalis.
Dengan kata lain, para kapitalis berharap generasi produktif di Indonesia dapat memajangkan umur sistem yang mengacu kebahagiaan pada cuan. Ini artinya, generasi rentan rusak dan merusak. Sebab, dengan pemikiran kapitalis membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi.
Maka, bahayanya jika pemikiran ini diadopsi para generasi. Sadar ataupun tak disadari pengadopsi sistem kapitalis akan menghancurkan negaranya sendiri, sebagaimana negara tercinta. Gegara sistem kapitalis negara ini terus berutang riba yang membuat negara diambang krisis.
Sikap nirempati terhadap nyawa orang lain demi mendapatkan apa yang mereka inginkan bisa terjadi pada generasi yang tercekoki pemikiran kapitalis. Jika generasi sudah seperti ini, maka tak mustahil mereka berkhianat ketika suatu saat nanti memimpin umat.
Tak sedikit pula pelaku tindak kriminal berusia produktif justru merajalela di negara. Mereka membegal, merampok, hanya untuk memenuhi gaya hedonismenya. Generasi yang menjenjang sekolahpun tak menjadi jaminan bahwa mereka berperilaku akhlakul karimah.
Apalagi generasi yang tak sama sekali mengecap pendidikan di sekolah. Otomatis mereka akan terdidik dengan pendidikan sesuai lingkungan yang mereka tinggali.
Pendidikan di sistem kapitalis-sekuler hanya sekadar ilmu saja. Ilmunya tak sekalipun mampu mencetak pola pikir dan pola sikap baik pada anak secara menyeluruh. Adapun pelajaran jurusan yang katanya dapat menunjang lebih mudahnya mencari pekerjaan, namun demikian sama. Metode pembelajarannya lebih berfokus di bidang tersebut tanpa pula dibarengi kurikulum pembinaan dari pendidik tentang bagaimana di setiap aktivitas siswa mendapatkan ridha dari Allah swt.

No comments:
Post a Comment