Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gangguan Mental, Problem Sistemik, Butuh Solusi Sistemik

Tuesday, October 25, 2022 | Tuesday, October 25, 2022 WIB Last Updated 2022-10-24T23:04:05Z

Oleh : Helmy Agnya

Jauh sebelum pandemi COVID-19, angka kasus gangguan kesehatan mental telah menunjukkan tren peningkatan di level global maupun Indonesia. Pandemi telah membuat masalah kesehatan jiwa makin meningkat. Ini semestinya menjadi pengingat bagi mayoritas negara untuk memperkuat sistem kesehatan mental.

Gangguan kesehatan mental merupakan masalah yang kompleks dan bisa bermacam-macam bentuknya, seperti dijelaskan dalam klasifikasi penyakit internasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam definisi itu, gangguan kesehatan mental mencakup banyak bentuk, termasuk depresi, kecemasan, bipolar, gangguan makan, dan skizofrenia.

Juga seperti kasus bunuh diri, yang dilakukan oleh mahasiswa di Yogyakarta baru-baru ini, merupakan masalah besar gangguan kesehatan mental yang perlu menjadi perhatian dan dicegah oleh banyak pihak. Secara global, bunuh diri adalah penyebab kematian keempat di antara orang berusia 15-29 tahun.

Gangguan mental makin banyak terjadi di tengah masyarakat. Ada banyak faktor, baik faktor internal maupun eksternal termasuk lingkungan dan corak pembangunan yang kapitalistik

Banyaknya faktor yang menjadi penyebab menunjukkan bahwa gangguan mental adalah problem sistemik

Oleh karena itu membutuhkan solusi sistemik pula untuk menyelesaikannya. Keberadaan hari kesehatan mental sedunia yang telah ada sejak 1992 ini, menunjukkan sistem kapitalisme gagal dalam mengatur kehidupan masyarakat sehingga menciptakan manusia-manusia rapuh.

Sistem Kapitalisme dengan asasnya sekularis yang meminggirkan peran agama dari kehidupan nyata telah membuat banyak orang, bahkan kaum muslimin sendiri tidak lagi memahami hakikat hidupnya.

Sebab, masyarakat sekuler yang berstandarkan materi semata. Merasa bahwa hidup ini hanya untuk meraih kesenangan dunia yang menipu ini, sehingga ketika materi, harta, jabatan dan segala pernak pernik kemewahan dunia yang tak bisa digenggamnya, tak dapat dimiliki. Maka, cepat atau lambat depresi menghantui diri bahkan memilih untuk bunuh diri.

Bagaimana tidak sistem demokrasi kapitalisme yang dianut oleh negara saat ini. Melegalkan aturan yang dibuat oleh manusia yang serba terbatas dan memiliki kepentingan, disetiap sudut-sudut kebijakan yang diterapkannya atas dasar asas manfaat dan keuntungan.

Penguasa membuat kebijakan yang endingnya selalu menyengsarakan rakyat, ditengah himpitan kehidupan rakyat yang semakin mencekik. Rakyat disuguhi kado pahit, dengan naiknya harga kebutuhan hidup ditengah kesulitan ekonomi rakyat.

Miris, hidup dalam cengkeraman sistem kapitalis. Rakyat seolah dibiarkan sendiri menghadapi sulitnya kehidupan ini, tak ada jaminan perlindungan baik kebutuhan-kebutuhan rakyatnya, penjagaan terhadap nyawa rakyatnya dan sebagainya. Tak terlintaskah dihatimu penguasa, sedikit rasa empatimu terhadap rakyat?

Penguasa dalam sistem kapitalisme berperan sebagai pelayan kapitalis. Bukan pelayan rakyat, rakyat hanya dijadikan sebagai alat untuk memancing kursi kekuasaan. Maka, tidak heran walau berpuluh-puluhan tahun hari kesehatan mental memperingati. Justru, isu rapuhnya mental yang dialami oleh masyarakat semakin merajalela. Sebab, akarnya adalah sistem kapitalisme. Kapitalismelah yang menjadi biang memproduksi penyakit mental rapuh tersebut.

Akan berbeda halnya dengan Islam, penerapan syariat Islam dalam bingkai negara khilafah. Yang tentunya penerapan sistem Islamnya secara totalitas. Islam sebagai sistem hidup memiliki solusi untuk mengatasi persoalan ini secara sistemik.

Sebab hanya Islam satu-satunya Diin yang lurus sesuai dengan fitroh penciptaanya yang mampu mensejahterakan dan mewujudkan rahmat bagi seluruh Alam.

Khalifah atau yang disebut sebagai (pemimpin) dalam Islam benar-benar menempatkan posisinya sebagai raa'in (pelayan urusan umat) kemudian pemimpin juga sangat bertanggungjawab terhadap amanahnya sebagai kepala negara. Karena, ia memahami bahwa kepemimpinannya akan dimintai oleh Allah pertanggungjawaban di akhirat.

Rasulullah Saw bersabda :"Pemimpin yang memimpin rakyat adalah pengurus dan dia bertanggungjawab atas rakyat yang ia urus (HR. al-Bukhari).

Negara khilafah, melalui sistem pendidikan Islam adalah bertujuan untuk membentuk syaksiyah Islamiyahnya (kepribadian Islam) kemudian mencetak ahli ilmu, baik agama, maupun ilmu-ilmu terapan laiinya. Dengan terbentuknya kepribadian yang Islam pada diri seseorang, maka akan membangun keimanan yang kokoh dan senantiasa terikat pada hukum syara serta menjadikan kehidupannya hanya untuk mencari rida Allah semata.

Kemudian negara khilafah tidak hanya menjamin kebutuhan sandang, pangan, papannya. Namun juga pada pendidikannya , negara menyediakan pendidikan terbaaik dari mulai tingkat dasar hingga yang melanjutkan diperguruan tinggi sekalipun, menjamin secara cuma-cuma tanpa membuat rakyatnya harus terbebani dengan berbagai pikiran yang berat.

Menginginkan sistem yang demikian, tentu dengan didorong oleh sistem ekonomi Islam yang kuat pula, yakni yang berbasis baitulmal. Sehingga mendapatkan sumber pemasukan negara untuk pembiayaan pendidikan diambil dari hasil pengelolaan kepemilikan umum, kepemilikan negara yaitu dari harta (fa'i dan kharaj). Demikian gambaran daripada penerapan sistem Islam, yang tidak mampu dibandingi oleh sistem manapun.

Hanya dengan diterapkannya sistem Islam yang mampu melahirkan generasi-generasi bermental kuat dan generasi cemerlang. Jua, Rakyat akan sejahtera serta senantiasa dalam ketaatan pada Rabbnya. Maa sya Allah.

Wallahu'alam Bishawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update