Berbarengan dengan berita naiknya BBM, pun ada agenda baru pemerintah yang menyangkut perkakas rumah tangga. Gas elpiji bakal dimigrasikan ke listrik oleh pemerintah. Artinya, kompor listrik rencananya akan diberikan pemerintah sebagai pengganti kompor gas elpiji.
Hal inipun tak luput dari komentar masyarakat. Masyarakat resah jika kompor gas elpiji benar-benar diganti dengan kompor listrik. Rata-rata yang masyarakat keluhkan pada kompor listrik ialah pembelian dan pembayaran listrik yang lumayan mahal. Terlebih, kompor listrik yang didistribusikan berdaya 1000 VA. Dengan artian, masyarakat harus menyediakan listrik minimal 1200 VA ke atas agar kompor tersebut dapat digunakan.
Belum lagi bagi penduduk yang daerahnya tak terjangkau listrik atau listrik bermasalah hingga seringnya mati lampu. kegalauan pun akan dialami pedagang keliling yang menggunakan gas elpiji. Mereka harus berpikir keras bagaimana cara menggunakan kompor listrik ketika hendak berdagang, sedangkan listrik tak bisa dibawa kemana-mana.
Berbeda halnya dengan gas, mereka hanya terhambat menggunakannya jika gas habis dan dengan praktis mudah dibawa ke manapun. Meski, harga gas juga menjadi persoalan bagi pedagang dan masyarakat yang kelas ekonominya menengah ke bawah. Secara, hampir empat kali dalam setahun gas elpiji selalu naik.
Berarti, mengganti kompor gas ke kompor listrik terindikasi menambah masalah baru bagi masyarakat. Terkecuali, jika negara mendistribusikan kompor listrik sekaligus memberikan listrik secara gratis. Maka, wacana penggantian kompor gas ke listrik tak akan membuat rakyat resah.
Pun pemerintah mesti memberikan solusi bagi pedagang pengguna gas elpiji agar mereka lancar dalam berdagang. Jangan sampai adanya kebijakan baru, malah menuai polemik baru bagi masyarakat seperti kebijakan yang sudah-sudah. Kebijakan kompor listrik jangan sampai menyebabkan pedagang mogok berdagang hingga akhirnya kebutuhan keluarganya terlantar.
Ketambah, nyatanya kompor listrik memerlukan panci dan teplon khusus. Panci dan teplon yang keumuman masyarakat punya tidak bisa menyeimbangi kapasitas pemakaian kompor tersebut. Bisa terhitung jari masyarakat yang memiliki panci atau teplon kompor listrik di Indonesia. Itupun hanya orang-orang berkelas elit yang memilikinya.
Keruwetan inilah yang bakal ditemui oleh masyarakat, apalagi masyarakat miskin ketika kebijakan kompor listrik disahkan. Semoga dengan dipaparkannya kondisi rakyat yang akan dihadapi nanti, pemerintah mau berpikir ulang perlihal kebijakan perpindahan kompor gas ke kompor listrik. Telah diperkirakan, bahwasanya kebijakan kompor listrik bakal menambah kesusahan rakyat.
Rasulullahpun berdoa untuk pemimpin yang menyulitkan rakyatnya. "Ya Allah, Barang siapa yang mengurusi urusan umatku, lantas dia membuat susah mereka, maka susahkanlah dia. Dan barang siapa yang mengurusi urusan umatku, lantas dia mengasihi mereka, maka kasihilah dia.” (HR. Muslim 1828)
