Oleh Endang Suciati, S.Pd.I
Muslimah Peduli Umat
Dampak pandemi dirasakan dalam berbagai sektor, terutama ekonomi. Meningkatnya pengangguran, sempitnya lapangan pekerjaan dan banyaknya PHK. Untuk mengatasi persoalan ini, sebagian besar masyarakat terpaksa memberdayakan kemampuan perempuan. Seperti halnya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bandung.
Dikutip dari Tribunjabar.id, 22/12/2011 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung menggelar Upacara Peringatan Hari Ibu ke-93 dan Hari Bela Negara ke-73 Tingkat Kabupaten Bandung di Dome Bale Rame, Kawasan Gedong Budaya Soreang, Rabu (22/12). Bupati Bandung, Dadang Supriatna turut menyampaikan amanat. Dalam amanatnya, Dadang Supriatna menyampaikan, perempuan merupakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak kalah potensial dari kaum laki-laki. Perempuan Indonesia telah menempuh proses perjuangan yang panjang, dalam mewujudkan persamaan peran dan kedudukannya dengan kaum laki-laki. Keduanya merupakan SDM yang memiliki potensi untuk turut menentukan keberhasilan pembangunan.
Dengan mengusung tema ‘Perempuan Berdaya, Indonesia Maju’, Dadang berharap, perempuan Kabupaten Bandung dapat menjadi akselerator dalam meningkatkan kesejahteraan, salah satunya melalui pemulihan ekonomi masyarakat. “Terutama di tengah pandemi Covid-19, perempuan dapat berperan meningkatkan ketahanan keluarga untuk mewujudkan keluarga yang kuat dalam berbagai bidang, seperti kesehatan, ekonomi, pendidikan, kehidupan keluarga dan masyarakat. Orang nomor satu di Kabupaten Bandung itu juga mengajak semua perempuan untuk menjadi sosok yang mandiri, kreatif, inovatif, percaya diri, dan meningkatkan kualitas serta kapabilitas dirinya.
Pernyataan tersebut, nyatanya sarat dengan isu kesetaraan gender. Padahal sejatinya pemberdayaan perempuan sebagai akselerator ekonomi merupakan pembajakan potensi perempuan yang seharusnya menjalankan kewajibannya sebagai ummu wa rabbatul bait. Dalam pandangan kapitalisme, potensi perempuan selalu diarahkan kepada aspek ekonomi saja dengan alasan akan meningkatkan kesejahteraan perempuan. Sementara dalam pandangan Islam, justru ini merupakan bentuk eksploitasi perempuan, dan berlepas tangannya negara dalam tanggung jawab menyejahterakan rakyatnya termasuk perempuan.
Kondisi hari ini, banyak menunjukkan hal-hal di luar fitrah manusia. Saat keluarga sulit memenuhi kebutuhan hidupnya, banyak perempuan yang pada akhirnya menggadaikan fitrahnya berganti peran sebagai kepala keluarga (tulang punggung). Motivasinya beragam, tapi kebanyakan alasan digulirkan karena faktor kebutuhan. Karena tidak ada jaminan sehingga terpaksa perempuan yang seharusnya sebagai ibu dan pengurus rumah, harus keluar mencari sesuatu demi menyambung hidup.
Meskipun bekerja tetaplah dihalalkan dalam Islam, namun jika menjadikan seorang perempuan sebagai tulang punggung jelas menyalahi fitrahnya. Ini hanya sekadar contoh, namun cukup menggejala di sekitar kita.
Dengan perempuan menghabiskan waktunya di luar rumah yang terjadi malah kerusakan, karena abainya dalam mendidik anak. Maka, Islam menempatkan peran perempuan sesuai fitrahnya dan memiliki fungsi politis dan strategis, yakni menjadi pengatur dalam rumah tangga. Dengan fitrahnya seorang wanita yang penuh kelembutan dan kasih sayang mampu mencetak generasi yang tangguh, cerdas dan berakhlak mulia. Hal ini justru merupakan aset terbesar yang akan memajukan negara dan membangun peradaban Islam.
Wallahu a'lam bishshawab.
No comments:
Post a Comment