Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Harga Kebutuhan Pokok Naik Membuat Rakyat Menjerit

Tuesday, January 11, 2022 | Tuesday, January 11, 2022 WIB Last Updated 2022-01-10T23:02:15Z
 

Oleh Rokayah
Muslimah Peduli Umat


Di akhir tahun menjelang tahun baru 2022, rakyat menjerit akibat harga kebutuhan pokok naik. Sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga yang fantastis. Dua minggu menjelang tahun baru berbagai harga barang mulai melejit. Mulai dari harga cabai yang tembus Rp100.000 per kilogram. Disusul harga telur yang meroket hingga Rp30.000 per kilogram dan harga minyak goreng curah mencapai lebih dari Rp18.000 per kilogram. Semuanya seolah kejar-kejaran ingin naik. Padahal pendapatan masyarakat kecil tidak pernah naik.

Naiknya harga beberapa komoditas yang melewati batas psikologis membuat masyarakat semakin terbebani. Kondisi ini sangat memberatkan rakyat secara keseluruhan. Karena dipastikan kenaikan beberapa komoditas ini, akan memicu melambungnya harga-harga lainnya. Apalagi pandemi yang tak kunjung berakhir, telah membuat perekonomian dan daya beli masyarakat makin menurun. Sekarang ditambah dengan biaya hidup yang makin  melangit, rakyat semakin menjerit.

Lagi-lagi pemerintah beralasan naiknya beberapa komoditas pada momen-momen itu adalah masih dalam taraf wajar. Ketika masyarakat bergembira menyambut momen-momen itu pasti  jumlah permintaan akan barang akan meningkat. Selain itu, faktor kelangkaan barang di pasaran, baik karena sedikitnya tingkat produksi akibat cuaca ekstrem, maupun adanya problem rantai pasok akibat penimbunan oleh kartel atau mafia perdagangan, dijadikan dalih adanya lonjakan harga.

Selain naiknya beberapa komoditas yang begitu fantastis di awal tahun baru ini, rakyat pun dikejutkan dengan rencana pemerintah yang akan menaikan tarif listrik untuk 13 golongan non subsidi pada tahun 2022. Tarif listrik bakal naik sebesar Rp18.000 hingga Rp101.000 per bulan, sesuai golongan. 

Alasan pemerintah menaikan tarif dasar listrik karena biaya produksi lebih tinggi dari harga jual listrik, ditambah daya beli masyarakat yang rendah menyebabkan pemerintah harus memberi kompensasi kepada PLN.

Dalam pandangan ekonomi Islam, mekanisme pasar dalam penentuan harga ini berlangsung alami. Dia tergantung dengan permintaan dan penawaran. Ketika permintaan naik, penawaran tetap, maka harga akan naik. Namun bila permintaan turun, penawaran tetap, harga juga akan turun.

Ini sejalan dengan pendapat ekonom muslim, Ibnu Taimiyah. Dia pernah mengatakan,  “Mekanisme harga adalah proses yang berjalan atas dasar gaya tarik menarik antara konsumen dan produsen. Baik dari pasar output (barang) ataupun input (faktor-faktor produksi). Sedangkan harga adalah sejumlah uang yang menyatakan nilai tukar suatu unit benda tersebut.

Rasululah saw. juga pernah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Anas ra. Suatu ketika Anas ra. berkata, “Wahai Rasulullah tentukanlah harga untuk kita!”. Beliau menjawab, “Allah itu sesungguhnya adalah penentu harga penahan, pencurah, serta pemberi rizki. Aku mengharapkan dapat menemui Tuhanku dimana salah seorang dari kalian tidak menuntutku karena kezaliman dalam hal darah dan harta".

Karena Islam melarang adanya intervensi harga, makanya menurut Ibnu Taimiyah, jika ingin menstabilkan harga di pasar, pemerintah harus memasok barang atau mengurangi pasokan barang ke pasar. Selain itu juga, pemerintah harus menjamin bahwa transaksi perdagangan di pasar, harus bebas dari spekulasi dan kecurangan.

Termasuk pelarangan riba. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS Al Baqarah ayat 275 yang artinya, "Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila". Inilah yang perlu dikawal oleh umat muslim, agar proses transaksinya ini sesuai dengan syariat.

Pertanyaannya, terkait kenaikan harga menjelang tahun baru kali ini, apakah pemerintah sudah melakukan kontrol terhadap supply and demand atau tidak sama sekali.

Jika mekanisme pasar yang terjadi tanpa kontrol pemerintah, maka kenaikan harga bisa saja dikarenakan adanya kecurangan pedagang dengan memanfaatkan momen jelang tahun baru. Kita berharap pemerintah bisa memberikan mekanisme kontrol yang ketat, agar harga stabil, rakyat pun tak labil.

Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update