Oleh Ammy Amelia
Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah
Kata moderasi berasal dari Bahasa Latin Moderâtio, yang berarti kesedangan (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). Kata itu juga berarti penguasaan diri (dari sikap sangat kelebihan dan kekurangan). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyediakan dua pengertian kata moderasi, yakni: 1. Pengurangan kekerasan, dan 2. Penghindaran keekstreman. Jika dikatakan, “orang itu bersikap moderat”, kalimat itu berarti bahwa orang itu bersikap wajar, biasa-biasa saja, dan tidak ekstrem.
Sejalan dengan makna 'sedang' dan 'wajar' itu sendiri, beredar pernyataan dari salah satu aparat petinggi negeri yang menegaskan bahwa, "Jangan terlalu dalam mempelajari agama". (republika.co.id, 5/12/2021)
Namun, ungkapan tersebut justru menuai kontroversi dari berbagai kalangan. Salah satunya ialah Ustaz Salim A. Fillah dalam akun Twitternya yang menyatakan, "Kalau mendalami memang harus dalam, kan? Mungkin kalimat tepatnya, "Jangan terlalu dangkal mendalami agama atau jangan terlalu dalam mendangkali agama".
Dalam kasus lain, implementasi biasa-biasa saja dalam beragama juga terlihat dari anjuran pemerintah untuk mengucapkan selamat pada umat kristiani yang merayakan natal. Mengucapkan selamat natal dianggap toleransi beragama, maka bagi yang tidak mau mengucapkan dinilai intoleran.
Seperti dikutip dalam CNNIndonesia.com (19/12/2021), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang dakwah, Cholil Nafis secara pribadi menegaskan bahwa umat Islam boleh mengucapkan selamat natal pada umat kristiani yang merayakannya.
"Saya sendiri berkesimpulan bahwa hukumnya boleh mengucapkan selamat natal. Apalagi bagi yang punya saudara nasrani atau bagi pejabat di Indonesia yang masyarakatnya plural," kata Cholil.
Sungguh miris dengan propaganda moderasi beragama yang kian marak digaungkan para penguasa. Moderasi berbalut toleransi, seolah dijadikan senjata agar umat Islam bersikap wajar dalam beragama. Tidak terkecuali dalam ranah akidah yang sejatinya merupakan fondasi keyakinan.
Begitu masif strategi musuh-musuh Islam dalam menjauhkan umat muslim dari ajaran agamanya. Seharusnya umat muslim menyadari, siapakah musuh-musuh Islam yang sebenarnya. Telah jelas bahwa musuh Islam adalah negara-negara kafir penjajah serta agen-agen mereka yang tersebar di seluruh dunia Islam, baik yang berbaju penguasa, politikus, ulama, budayawan, ekonom, organisasi, partai, LSM, maupun media massa, dan lain-lain.
Agenda mereka satu, yaitu melanggengkan penjajahan di dunia Islam. Caranya dengan menyesatkan umat Islam dari pemikiran, hukum dan peradaban Islam yang agung. Akibatnya, umat Islam memusuhi apa yang seharusnya diambil, dan mengambil apa yang seharusnya mereka musuhi.
Jelas hal ini merupakan ancaman bagi umat Islam, di mana seharusnya umat memiliki kesadaran akan pentingnya berislam secara sempurna (kaffah). Jangan justru tertipu strategi para musuh Islam, termasuk salah satunya yaitu mengaminkan arus moderasi atas nama toleransi.
Wallahu'alam bishawab.
No comments:
Post a Comment