(Pemerhati Pendidikan, Sosial & Politik)
Feminisme memiliki cabang gerakan yang bernama ekofeminisme. Gerakan yang menghubungkan antara ekologi dan feminisme. Mereka memandang bahwa krisis iklim dan lingkungan terjadi karena ketidaksetaraan gender. Tidak setaranya peran laki-laki dan perempuan dalam persoalan pelestarian lingkungan hidup dianggap penyebab krisis lingkungan terjadi. Ekofeminisme menuntut kesetaraan bagi perempuan agar diberi peluang yang sama dalam berperan dan berkontribusi menyelesaikan masalah krisis lingkungan. Karena itu, Sascha Gabizon, ketua jaringan LSM ekofeminis Women Engage in Common Future (WECF) mengeluhkan tentang berbagai jabatan pengambil keputusan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim PBB yang masih didominasi oleh laki-laki (voaindonesia, 9/11/2021).
Direktur program kepemimpinan perempuan Republik Demokratik Kongo, Chouchouna Mpunga Losale, mengatakan, perempuan lebih rentan menjadi korban bencana iklim, karena merekalah yang menderita ketika terjadi gagal panen dan lahan yang tidak subur. Oleh sebab itu, perempuan harus terlibat dalam berbagai kegiatan untuk memerangi perubahan iklim karena kontribusi dan keahlian mereka dalam mengelola sumber daya alam, sangatlah penting (voaindonesia, 9/11/2021).
Terlepas dari hal positif keberperanan perempuan dalam memerangi krisis iklim dan lingkungan, ekofeminisme dapat menjadi alibi bagi pelaku utama penyebab krisis iklim dan lingkungan. Secara objektif, krisis perubahan iklim dan kerusakan lingkungan terjadi karena adanya pemanasan global sebagai akibat dari jumlah emisi carbon yang sangat besar, laju deforestasi yang tinggi, permasalahan sampah yang tak kunjung usai hingga ancaman bencana hidrometeorologi seperti hujan, banjir atau tanah longsor. Berbicara siapa yng harus bertanggung jawab, Amerika Serikat menjadi negara yang memiliki tanggung jawab besar atas emisi karbon dioksida dari 1850 hingga saat ini. Negeri Paman Sam itu melepaskan 509 gigaton karbon dioksida sejak 1850 sehingga mewakili 20 persen dari total karbon dioksida secara global, dilansir dari CNBC, Rabu (6/10/2021), penelitian ini diterbitkan kelompok riset dari Carbon Brief, sebuah website yang membahas perkembangan terbaru terkait iklim dan kebijakan energi. China menyusul AS di urutan kedua dengan persentase yang relatif jauh. Negara ini menyumbang 11 persen dari total karbon dioksida secara global (liputan6, 6/10/2021).
Krisis iklim dan lingkungan juga terjadi karena tumpukan sampah yang sangat berlebih akibat budaya konsumtif yang dibangun oleh paradigma bahagia ala kapitalis. Memusatkan makna kebahagian dengan memiliki banyak benda-benda. Juga disebabkan paradigma ekonomi kapitalis yang mengarah pada pemaksimalan produksi barang dan jasa dalam pembangunan ekonomi. Mereka secara impulsif juga mendorong masyarakat untuk semakin konsumeristik, walhasil jumlah sampah tak terkendalikan. Belum lagi para elit kapitalis yang melakukan eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran atas nama pembangunan ekonomi sekalipun berdampak buruk pada alam dan lingkungan. Karena kapitalisme memiliki kredo, bahwa selalu ada trade-off yang konstan antara pembangunan ekonomi dan isu lingkungan, dan yang biasa dikorbankan adalah manusia dan lingkungan.
Berdasarkan hal itu, jelas siapa yang seharusnya disalahkan atas terjadinya krisis iklim dan lingkungan, yakni para elit kapital yang serakah merauk kekayaan alam, pandangan dan sistem ekonomi kapitalisme yang menyakiti alam, juga pandangan hidup kapitalisme yang menyumbang besarnya penumpukan sampah. Perlu digarisbawahi, krisis iklim dan lingkungan terjadi bukan karena ketidaksetaraan gender. Karena itu, ekofeminisme sejatinya adalah paham yang dapat menyesatkan masyarakat dari akar masalah krisis iklim dan lingkungan yang sesungguhnya. Ekofeminisme juga dapat mengalihkan perhatian masyarakat dari pelaku utama penyebab krisis iklm dan lingkungan. Mirisnya lagi dapat menjadi topeng untuk menutupi kesalahan para kapital yang serakah dan brutal dalam mengeksplotasi alam. Tak hanya itu, kaum perempuan yang bekerja keras memerangi krisis iklim dan lingkungan hanya akan menjadi pihak yang harus bertanggung jawab atas kesalahan atau dosa terhadap alam yang tidak mereka perbuat. Bahkan atas upayanya ini, besar kemungkinan kaum perempuan mengalami kegagalan, selama praktik ekonomi kapitalis terus berlangsung dan elit kapitalis terus berkuasa.
Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:
Post a Comment