Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pintu Hati Tertutup, Masjid Ditutup

Thursday, August 12, 2021 | Thursday, August 12, 2021 WIB

Aara Tobio (Mahasiswi, Komunitas Annisaa Ganesha)

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKM Darurat) mulai diberlakukan tanggal 3 sampai 20 Juli 2021. Tempat-tempat umum diklasifikasikan menjadi sektor nonesensial dan esensial. Untuk sektor nonesensial, lokasi tersebut ditutup total. Sedangkan sektor esensial diperbolehkan masuk sebanyak 50 persen kapasitas dengan protokol kesehatan.

Tempat ibadah telah diputuskan untuk ditutup total. Hal ini mengejutkan banyak umat muslim. Mereka tidak bisa menjalankan ibadah pada Idul Adha yang sebentar lagi tiba. Suasana hari raya yang seharusnya membahagiakan sudah berubah menjadi sepi. Syiar Islam dibatasi sedemikian rupa. “Berkerumun di masjid sangat berbahaya, sholat bisa dilakukan di rumah,” begitulah bunyi narasi dari pemerintah. Terdengar membawa kemaslahatan yang besar, bukan?

Berbagai dalil diambil secara prasmanan untuk membenarkan instruksi tersebut kepada masyarakat. Penduduk Indonesia yang ramah pun mau tak mau menurut apa kata pemerintah. Banyak yang tak menyadari bahwa penutupan masjid bukan sekadar pencegahan kerumunan. Kebijakan ini adalah buah dari kegagalan negara dalam menghadapi pandemi. Negara tak mampu untuk melindungi rakyatnya hingga beribadah di masjid pun dilarang. Konsekuensi dari kesalahan yang besar dibebankan begitu saja pada masyarakat.

Yang lebih mengejutkan, beberapa sektor lain tidak dengan tegas ditutup, misalnya mal dan perkantoran. Masjid tidak lagi dianggap esensial sehingga bisa ditutup begitu saja. Motif yang terlihat sungguh sederhana. Tempat-tempat yang tetap dibuka tersebut membawa keuntungan, sedangkan tidak dengan masjid. Pilih kasih dalam pengambilan keputusan ini sudah bukanlah hal baru dalam kepemimpinan di sistem sekuler seperti saat ini.

Pengambilan kebijakan yang tidak didasari dengan agama hanya akan membawa pada arah yang salah. Sungguh disayangkan, mereka mengira bahwa masjid adalah tempat ibadah semata. Mereka tidak tahu bahwa masjid adalah simbol persatuan umat Islam. Masjid adalah tempat mengkaji Islam, berdiskusi, dan berkumpul untuk meningkatkan semangat beribadah. Bukankah hal itu tujuan kita hidup di dunia ini?

Seandainya pemerintah mendasari setiap kebijakan yang diambil dengan Islam, hal yang kita temui adalah prioritas ibadah di atas segalanya. Kesiapan mengatasi pandemi dilakukan sebaik mungkin agar masyarakat tetap bisa pergi ke masjid. Apabila kondisi akibat pandemi sudah parah pun, sektor selain ibadah dapat dinomorduakan terlebih dahulu. Akan tetapi, yang kita hadapi saat ini adalah sebaliknya. Kita hanya bisa berdoa, semoga para pemerintah kita dibukakan pintu hatinya untuk tujuan hidup yang sebenarnya.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update