Maraknya Kekerasan di Tengah Wabah

 Oleh: Neni

Aktivis Dakwah di Kota Depok

 

Wabah Covid-19 yang melanda negeri ini tak hanya membuat sistem kesehatan dan ekonomi kolaps, tapi pengaruhnya terhadap aspek psikososial masyarakat. Buktinya, masih banyak kasus kekerasan baik yang menimpa penderita Covid-19, para tenaga kesehatan (nakes), maupun petugas pemakaman. Salah satunya aksi kekerasan viral di media sosial yang dilakukan masyarakat Desa Sianipar Bulu Silape, Kecamatan Silaen Tobasa, Sumatera Utara terhadap seorang penderita Covid-19. Ia dicegat, diusir dan dipukuli beramai-ramai dengan kayu babak belur lantaran menolak isolasi mandiri (isoman) di tempat yang disediakan masyarakat. Padahal tidak maunya itu karena minim penerangan.

Begitu juga terjadi peristiwa penusukan seorang perawat di RSUD Ambarawa, Kabupaten Semarang. Pelakunya keluarga pasien Covid-19. Mereka marah karena pasien yang dibawanya ke rumah sakit dalam kondisi sangat buruk akan dimasukkan ke ruang isolasi dan akhirnya si pasien  meninggal. Lalu pihak rumah sakit memutuskan memakamkan pasien dengan prosedur Covid. Terjadilah keributan dan penusukan.

Peristiwa lainnya menimpa tim pemakaman dari BPBD Kabupaten Jember di Desa Jatian, Kecamatan Pakusari. Mereka dianiaya dan dilempari batu oleh sejumlah masyarakat yang ingin merebut paksa peti jenazah Covid-19 yang akan dikuburkan.

Peristiwa di atas hanya sebagian kecil kasus kekerasan yang terjadi di tengah wabah Covid-19. Itu semua menandakan minimnya pengetahuan masyarakat dan menguatnya tekanan akibat kondisi ekonomi yang makin memburuk, membuat stres sosial tampak makin merebak. Sehingga gampang menyulut emosi  dan muncul sikap egois dan tidak mau peduli dengan keadaanSuasana saling curiga, serta berbagai gejala psikososial ini membuat kondisi masyarakat makin tidak sehat. Padahal, wabah yang semestinya bisa dihadapi dan diselesaikan secara bersama-sama, masyarakat malah cenderung mengambil tindakan sendiri-sendiri.

Tak dipungkiri, masyarakat turut berkontribusi atas situasi yang terjadi hari ini. Masih banyak di antara mereka yang berlaku cuek dan abai terhadap protokol kesehatan serta yang melanggar aturan pemerintah terkait upaya pengendalian wabah. Namun, kita pun tak bisa sepenuhnya menyalahkan masyarakat. Mengingat situasi psikologis yang mereka hadapi di lapangan memang sangat berat.

Kehidupan masyarakat di tengah wabah ini memanglah sulit. Untuk menghidupi diri dan keluarga pun terasa berat. Diperparah dengan  abai dan lemahnya tanggung jawab negara atas mereka. Wajarlah jika ketidakpercayaan masyarakat terhadap penguasa pun makin menguat.

Saat wabah terjadi, para penguasa harusnya segera mengambil langkah antisipasi, bukan sibuk membangun narasi salah tentang wabah, seraya menularkan kebodohan dan sikap abai kepada rakyatnya. Menyelamatkan ekonomi yang mereka pikirkan, sementara nyawa rakyatnya sendiri dibiarkan. Hasilnya, kasus Covid-19 semakin lama semakin tinggi.

Masyarakat semestinya menyadari, kondisi seperti ini karena diterapkannya sistem sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal. Sistem ini menjadi alat meraih keuntungan yang bersifat material dan tak ada empati. Kekuasaan yang diraih  pun selalu menjadi ajang bagi hasil para pemilik modal, sementara rakyat dibiarkan begitu saja. Yang terjadi, hubungan rakyat dan penguasa adalah hubungannya seperti pedagang dan pembeli yang hanya ingin mendapat keuntungan semata.

Padahal dalam Islam, penguasa/negara adalah pengurus (rain) dan penjaga (junnah) bagi rakyatnya. Rasulullah SAW bersabda, “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR Bukhari).

Sabda Rasulullah SAW, ”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan lain-lain).

Dalam  hadits di atas jelas sekali seorang pemimpin/penguasa itu sebagai pengurus dan penjaga bagi rakyatnya sehingga harus selalu memastikan rakyatnya terpenuhi kesejahteraannya dan terjaga dari bahaya atau tidak, karena pertanggungjawabannya sampai ke akhirat. []

Post a Comment

Previous Post Next Post