Yasriza Nanda (Ilmuwan Peneliti, Komunitas Annisaa Ganesha)
Kenaikan kasus Covid-19 gelombang kedua kembali terjadi sejak juli
2021. Hal ini ditunjukkan dengan diberlakukannya (PPKM) sejak tanggal 3 Juli di
Jawa dan Bali. Peningkatan kasus ini diduga karena ada varian virus Covid-19
variasi delta yang memiliki kemampuan yang lebih kuat dari varian sebelumnya. Akibatnya
Indonesia secara umum mengalami kekurangan alat dan fasilitas rumah sakit untuk
merawat pasien yang positif Covid-19. Akhirnya diberlakukan sistem dimana
pasien positif dengan gejala ringan untuk isolasi mandiri seperti di rumah
masing-masing. Virus Covid-19 ini tak hanya mengancam para pasiennya, namun
juga orang-orang sekitar, seperti keluarga di rumah dan tetangga di sekitar.
ketakutan ini bahkan membuat pasien Covid-19 dikucilkan, dijauhi dan bahkan
dianiaya.
Kasus aniaya dilaporkan oleh media kompas, beberapa waktu lalu
tepatnya pada tanggal 22 Juli 2021, terjadi aniaya pasien Covid-19 yang sedang
menjalani isolasi mandiri. Awalnya pasien berencana untuk isoman di rumahnya,
namun warga sekitar memintanya untuk isolasi di sebuah gubuk di hutan yang
berada jauh dari desa. Pasien tidak dapat bertahan, akhirnya memutuskan untuk
kembali ke rumah, namun warga sektiar yang melihat hal itu malah menyerang
pasien. Peristiwa serupa juga terjadi, tidak hanya kepada para pasien yang terkena
virus, tim pemakaman jenazah Covid-19 juga mengalami hal serupa. Berdasarkan
informasi dari kompas pada 24 Juli 2021 yang lalu, mereka diserang karena
hendak mengirimkan jenazah ke desa mereka tepatnya di daerah Jatisari, Jember.
Maraknya konflik yang tidak manusiawi ini, baik antar masyarakat
umum terhadap pasien penderita Covid-19 maupun terhadap tim dan satuan petugas
Covid-19 menunjukkan adanya ketakutan berlebihan yang dialami oleh masyarakat.
Hal ini terjadi karena minimnya edukasi kepada masyarakat awam terutama yang
tidak terlalu melek dengan media sosial dan informasi. Bahkan banyaknya berita
hoax yang diterima masyarakat menjadikan adanya kelompok masyarakat yang tidak
mempercayai covid sehingga tidak mengikuti aturan yang berlaku selama pandemi. Bahkan
ketika adanya program vaksinasi, tak jarang ditemukan warga yang menolak untuk
melakukan vaksinasi. Sebagian beralasan karena vaksin yang dipakai pemerintah
tidak bagus karena minimnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dalam
menangani pandemi Covid-19. Akibatnya mereka memilih untuk mencari tahu sendiri
dan berakhir pada kesalahan informasi.
Hal ini membuat kita kembali menyorot sudah sejauh mana tanggung jawab dan antisipasi yang dilakukan oleh pemerintah selama pandemi Covid-19 ini. Sejak Covid-19 masuk 1,5 tahun yang lalu, mengapa masih ada hoax dan konflik yang terjadi terkait pandemi. Meskipun konflik itu terjadi di dalam lingkup masyarakat hal itu tidak sepenuhnya salah mereka. Mengingat kondisi masyarakat yang semakin tertekan sejak pandemi Covid-19 ini. Seharusnya pemerintahlah dengan kelengkapan fasilitas dan kemampuannya menjadi garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat sehingga terciptanya lingkungan sosial yang supportif. Harapannya langkah untuk menangani pandemi ini akan lebih mudah terwujud dengan kerjasama yang selaras antara masyarakat, pemerintah dan petugas kesehatan. Dan sinergitas ini tidak akan terwujud kecuali dalam sistem Islam, dimana masyarakat taat pada pemimpin karena bagian dari syariat, dan pemimpin pun benar-benar mengurusi rakyat karena merupakan bagian dari syariat. Hal ini tidak akan ditemui pada sitem buatan manusia dimana manusia berbuat berdasarkan asas manfaat, sehingga tidak akan benar-benar mengurusi masyarakat dimana hal itu membutuhkan banyak aspek keimanan, bukan manfaat.

No comments:
Post a Comment